Monday, December 5, 2016

Zona Ragu

Zona Ragu

                Jujur dan tak perlu membohongi diri bahwa,  selalu ada pertanyaan dalam pikiran, pertanyaan-pertanyaan keraguan yang sangat membutuhkan jawaban yang memuaskan. Seberapa banyak pertanyaan keraguan yang masih ada dalam pikiran kita saat ini ? mungkin pertanyaan keraguan tentang keberhasilan seseorang, atau keraguan akan keberhasilan diri kita sendiri ? keraguan dalam membentuk identitas diri yang layak ? keraguan akan lingkungan ? dan tentu masih banyak pertanyaan-pertanyaan keraguan yang lainnya.

                Kita tentu sangat mengharapkan pertanyaan yang memuaskan dari setiap pertanyaan keraguan yang kita miliki, sepertinya mustahil jika kita puas hanya dengan bertanya pada diri sendiri. Dan sayangnya tidak semua dari kita mendapatkan jawaban yang memuaskan, tidak semua!. Bahkan mungkin kita hanya mencari jawaban-jawaban yang hanya sekedar menghibur ini dalam keraguan, kita mencoba mencari-cari jawaban yang cukup untuk membuat kita ‘senang’ dan ‘tenang’ sesaat dalam keraguan

                Tidak sedikit yang akhirnya hidup dalam keraguan, bahkan tidak sedikit juga yang diperbudak oleh keraguan. Pertanyaan-pertanyaan keraguan itu seakan mampu melumpuhkan semua potensi diri yang dimiliki.

                Dalam keraguan, kita selalu diperhadapkan dengan berbagai pilihan, dan pilihan-pilihan itu menghadapkan kita pada sebuah keputusan. Keputusan kita menentukan arah hidup kita, jadi penting untuk kita mengambil keputusan yang tepat. Keputusan yang kita ambil bisa menggambarkan siapa diri kita. Bisa disebut bahwa keputusan yang kita ambil adalah cerminan dari diri kita.

                Tentukan langkah! Yang terpenting jika kita ada dalam ‘zona ragu’ kita adalah mentukan langkah. Dan langkah yang tepat adalah keluar dari zona keraguan tersebut. Keluarlah dari zona keraguan itu, karena tidak ada keberhasilan disana, tidak ada kemenangan dalam keraguan.

                Buang keraguan!  jangan mau diperbudak olehnya. Keraguan seperti benalu, ia akan menghisap semua potensi mu sampai habis, tak perduli seberapa tinggi pendidikan, harta, jabatan, atau apapun yang kita miliki, jika kita masih menyimpan keraguan maka semua itu akan hilang dihisap semua olehnya.

                Bangun keyakinan! Yakinkan diri bahwa ada tempat yang dapat membawa kita terus naik, dan itu bukan di zona keraguan. Cobalah masuk ke zona harapan, maka kita bisa melihat banyak hal menjanjikan disana. Cobalah masuk ke zona iman, maka kita akan mendapatkan banyak kekuatan baru disana, kita akan terus diperlengkapi dalma zona itu.

Ambil keputusan! Keputusan kita menentukan arah hidup kita. Jika kita ingin menang dalam keraguan, maka putuskan lah demikian. Semua hidup kita tak pernah lepas dari keputusan, bahkan ketika kita tidak mengambil keputusan, itu adalah sebuah keputusan. Kita sedang berkeputusan untuk tidak mengambil keputusan


Tentukan langkah, buang keraguan, bangun keyakinan, ambil keputusan


Masalah di dunia ini terjadi ketika orang bodoh terlalu yakin dan orang pintar penuh dengan keraguan.


Wednesday, November 16, 2016

Mari Mewarnai

Mari Mewarnai


                Salah satu hal yang saya sukai adalah ketika mengobrol bersama orang-orang terdekat. Teman seperguruan di perkuliahan, ataupun seperguruan di pelayanan, dan seperguruan-perguruan yang lain. Dengan mengobrol sepertinya saya bisa mengetahui lebih banyak tentang orang lain, tak jarang juga hal-hal yang tidak pernah diduga pun ternyata turut dibukakan. jika sudah begitu, topik apapun sepertinya bakal selalu jadi bahan yang menarik untuk diperbincangkan.

                Bukan sebuah kebetulan kalau akhir-akhir ini saya bertemu dan ngobrol bersama beberapa orang dari mereka, bahkan tak sedikit juga hal-hal yang bersifat pribadi menjadi bahan perbincangan. Banyak hal yang diceritakan, baik pertemanan, hubungan, keluarga, sampai kepada masalah argentina yang kalah dari brasil dengan skor 3-0. Selain menarik bisa ngobrol bareng, di sisi lain beruntung juga bisa punya bagian untuk bisa menolong mereka, atau setidaknya memberikan dorongan atau masukan untuk membantu mereka.

                Dari obrolan itu saya menyadari bahwa sepertinya setiap orang punya porsinya masing-masing untuk bisa terus berkembang. Berkembang dengan menghadapi hal-hal baru dalam hidupnya. Teman yang bercerita tentang pertemanan nya, merasa bahwa seakan dia yang paling bersalah, teman yang bercerita tentang hubungan nya, merasa bahwa seakan dia yang paling bingung, teman yang bercerita tentang keluarganya merasa seakan dia yang paling sedih, yang lain yang bercerita tentang kekalahan argentina malah tertawa dan bahkan makin merasa yakin dengan permainan selanjutnya.

                Ya begitulah, apa yang dihadapi berbeda-beda, dan respon yang ditunjukkan pun berbeda. Dari itu semua sepertinya kita juga bisa belajar banyak hal dari pengalaman mereka, bahwa apa yang kita alami ya harus lah kita alami, apa yang sudah Tuhan tetapkan untuk kita alami tak bisa kita hindari, tak ada pilihan untuk lari, jalan nya hanyalah, hadapi !

                Apa yang kita alami belum tentu semua hal buruk, bahkan ketika kita diperhapkan dengan hal-hal yang tidak baik itu pun bukan hal buruk yang Tuhan tentukan untuk kita, tak jarang justru kita lah yang memaknai nya sebagai hal buruk, karena kita percaya bahwa Tuhan tidak memberikan hal-hal buruk untuk umatnya,

Terkadang kita yang mempersepsikan sesuatu yang tidak menyenangkan itu menjadi hal buruk, kita yang memaknai nya buruk, padahal belum tentu demikian,

Jadi, seperti yang sudah saya sampaikan dalam artikel sebelumnya (siapa Tuannya) kita lah yang memaknai sebuah yang kita alami, maka maknai lah dengan baik

Jangan sampai kita diikat oleh asumsi yang ditimbulkan oleh pikiran kita sendiri, asumsi ketika persepi mendahului esensi,

Jangan biarkan persepsi kita menghilangkan esensi dari apa yang seharusnya kita terima

Kita yang memberi warna pada apa yang kita hadapi, maka warnai lah dengan baik

Sampai pada akhirnya orang lain dapat melihat bahwa hidup kita bukan hidup yang bermasalah, tetapi hidup yang penuh dengan warna,

Dan pastikan bahwa itu adalah warna-warna yang terbaik.


“Sudut pandang itu pandangan yang tersudut. Itupun dari sekian banyak sudut. Betapapun menarik sebuah sudut pandang ia bukan wakil seluruhan pemandangan.”

-Prie GS-

Thursday, October 13, 2016

Siapa Tuan nya ?

Siapa Tuan nya ?

                Tidak ada seorang pun yang hidup nya seakan ‘bersih’ terlepas dari masalah. Sepertinya setiap orang sudah punya ‘jatah’nya masing-masing untuk menghadapi permasalahan. Masalah yang dihadapi pun bermacam-macam, karena keputus-asaan, kegagalan, kepahitan, dendam, salah ambil keputusan atau mungkin bertengkar dengan rekan sepermainan, rekan kerja, kehilangan uang, atau bahkan hal yang ringan seperti lupa membawa handphone pun bisa menjadi suatu masalah.

                Setiap orang mempersepsikan suatu masalah berbeda-beda. Ada yang jika disinggung sedikit oleh temannya, melihat itu menjadi suatu masalah, sedangkan yang lainnya bahkan menganggap hal seperti itu tidak patut dipermaslahkan. Contoh lain, jika kita menyusun suatu rencana, dan rencana itu gagal atau tidak sesuai, maka ada yang mempersepsikan hal tersebut adalah suatu masalah, sedangkan bisa saja yang lain malah percaya bahwa ada jalan lain yang bahkan lebih besar untuk menggapai tujuan rencana tersebut. Jadi ‘masalah’ ini hanyalah sebuah perepsi.

                Jadi yang terpenting bukan lagi tentang masalah nya, tapi bagaimana kita mempersepsikannya, atau dalam bahasa lain bagaimana kita meresponinya. Jika berbicara tentang respon maka salah satu indikator agar kita mampu memilii respon yang baik adalah dengan pengenalan akan diri sendiri.

                Penting bagi kita untuk mengenal secara baik diri kita sendiri, karena dengan pengenalan akan diri yang baik, kita akan mampu bertahan dalam kondisi apapun, bahkan jika kita sedang ada dalam situasi buruk pun kita tetap bisa punya respon yang benar.

                Jika kita mengenal baik diri kita, maka kita tahu bahwa kitalah ‘Tuan’ dalam diri kita. Kita yang mengatur respon apa yang keluar, dan kita yang mengatur bagaimana kita mempersepsikan masalah. Manusia pada dasarnya diciptakan dan diberikan kemampuan untuk berpikir, dan akal sehat. Bukan tanpa tujuan, namun berarti bahwa kita diberi kemampuan untuk dapat mengatur dan mengarahkan hidup kita.

                Kita adalah ‘Tuan’ dalam diri kita, kita yang mengatur semua yang ‘datang’ dalam hidup kita itu perannya seperti apa. Ketika Tuhan mempercayakan suatu hal buruk dalam hidup kita, disitulah kita melihatnya bukan lagi seperti orang yang kehilangan harapan, tetapi kita melihatnya sebagai ‘Tuan’, kita yang menentukan peran ‘masalah’ itu seperti apa, apakah kita tetap mempersepsikan sesuatu hal yang buruk itu terus menjadi suatu masalah yang harus disesali, atau kita merubahnya dan melihatnya dengan cara pandang seorang ‘Tuan’ yang melihat segala sesuatu nya secara optimis, dan penuh keyakinan. Karena pada dasarnya seorang  ‘Tuan’ tahu apa yang seharusnya dilakukan, seorang ‘Tuan’ tahu bagaimana ia menanggapi hal yang datang dalam hidupnya, termasuk dalam menanggapi hal-hal buruk pun seorang ‘Tuan’ seharusnya mampu mengatasi nya, dan seorang ‘Tuan’ lah yang harusnya mampu mempengaruhi keadaan bukan dipengaruhi oleh keadaan.

                mulai sekarang, apapun yang sedang kalian hadapi, hadapilah !

jangan biarkan masalah yang menjadi ‘Tuan’ dalam hidup kita, jangan biarkan masalah yang justru memperngaruhi hidup kita.

kita adalah ‘Tuan’ dalam diri kita. Kita yang seharusnya memperngaruhi keadaan, bukan dipengaruhi oleh keadaan.

Mundur atau menyerah bukanlah pilihan dari seorang ‘Tuan’ yang baik.

Dan selalu ingat bahwa masalah bukanlah benar-benar suatu masalah sampai kita yang menganggapnya bahwa itu adalah suatu masalah.


“Yout cant lead people if you cant lead yourself. Self-leadership qualities qualifies you to become a co-operate leader.”

-Israelmore Ayivor, Leaders’ Ladder

Tuesday, September 27, 2016

Tidak Ada yang Lengkap

Tidak Ada yang Lengkap

            Pernahkah kalian menemukan seseorang yang memiliki kemampuan rasa sabar yang tinggi, tidak egois, tidak mudah marah, selalu berpikir positif, selalu menyebarkan kasih, tidak pernah merendahkan orang lain, selalu mementingkan kepentingan orang lain, tidak pernah mengeluh dan hal-hal baik lainnya, yang menggambarkan kehidupan yang benar-benar sempurna ? sepertinya sulit, atau bisa dikatakan mustahil. Bayangkan jika semua manusia diciptakan seperti itu, dengan semua kebaikan yang dimilikinya, mungkin sekarang kita ga usah takut lagi dengan kejahatan atau kriminalitas yang sampai saat ini menjadi salah satu hal yang sangat meresahkan.

            Setiap kita pasti tetap saja memiliki beberapa sifat yang negatif. Setiap orang memiliki sikap egois yang berbeda-beda, begitu juga dengan tingkat kesabaran yang berbeda, itulah mengapa kita sulit sekali atau bahkan mustahil untuk bisa menemukan seseorang dengan kriteria seperti yang disampaikan di awal artikel ini. Jadi sebaik apapun kita, pasti tetap saja ada kekurangan yang Tuhan percayakan di hidup kita. Setiap orang berbeda, oleh sebab itulah kita membutuhkan orang lain, oleh sebab itulah kita disebut mahkluk sosial. Kita bisa belajar banyak hal yang tidak kita miliki dari orang lain.


            Sedikit cerita, beberapa tahun yang lalu, saya pernah dipercayakan untuk memimpin sebuah kepengurusan dalam sebuah kegiatan keagamaan. Saat pertama dipercayakan untuk memimpin, saya pernah berpikir bahwa mungkinkah saya bisa memimpin orang-orang yang bahkan cukup banyak juga yang lebih tua dari saya. Dalam kepengurusan itu saya bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang dengan sifat yang berbeda-beda. 

Ada yang sepaham dan tidak sedikit juga yang bertentangan. Dua tahun pertama saya merasa sepertinya tidak sesuai dengan apa yang seharusnya saya lakukan, lanjut ke dua tahun selanjutnya, di dalam wadah yang sama dengan orang-orang yang berbeda dalam kepengurusan, saya merasa bahkan tidak semakin baik (dari segi interaksi dan hubungan sosial) saya merasa bahwa dalam ketidakmengertian saya ini membawa saya menjadi seseorang yang seakan selau gagal dalam menjalankan tanggung jawab, yang saya pikirkan hanyalah bagaimana saya bisa menyelesaikan semua nya tanpa melalui proses nya ?

            Namun setelah selesai selalu ada buah pikir yang mengarahkan kepada hal-hal tersebut, banyak hal yang coba pikiran ini tawarkan, rasa intimidasi kegagalan, ucapan syukur keberhasilan semua nya bercampur untuk melengkapi pemikiran ini. Tapi satu hal yang sangat saya syukuri sekarang adalah, saya benar-benar bersyukur dengan apa yang pernah Tuhan percayakan, terutama dalam hal berorganisasi, kalau dulu yang sering keluar adalah respon yang ga bener, tapi saat ini saya melihat nya dengan ‘kacamata’ baru yang membuat saya selalu dapat mengucap syukur. Saya sangat bersyukur Tuhan pernah percayakan saya untuk bertemu dan bekerja sama dengan orang-orang yang berbeda tingkat ke-egoisan-nya, bersyukur pernah Tuhan percayakan untuk bertemu orang-orang dengan tingkat kesabaran yang berbeda pula.

            Semakin kesini, semakin banyak saya tahu, semakin saya mensyukuri semuanya. Satu hal yang selalu saya syukuri adalah bahwa, ketika Tuhan ‘memaksa’ saya untuk bertemu dengan orang-orang yang sangat berbeda sifat dan karakternya, Tuhan mau membawa saya menjadi pribadi yang lebih baik lagi, saya percaya bahwa dengan ‘ke-tidak lengkap-an’ saya, ketika saya bertemu dengan orang-orang yang berbeda hampir segalanya, justru Tuhan mau melengkapi saya dengan itu.

            Jadi, kita tahu bahwa tidak ada orang yang sikap dan karakternya benar-benar ‘lengkap’. Kita bisa menjadi lengkap dengan kita bisa terus berinteraksi dengan orang lain, belajar banyak hal dari orang lain.

            Percayalah bahwa orang-orang yang Tuhan percayakan ada disekitar kita saat ini, itu ada untuk melengkapi setiap kita, responi baik dan teruslah mengucap syukur.


“Kebersamaan adalah permulaan. Menjaga bersama adalah kemajuan. Bekerja bersama adalah keberhasilan”
 Henry Ford  

Tuesday, September 13, 2016

Sisipkan Ruang

SISIPKAN RUANG

                Seberapa banyak dari kita yang tidak punya harapan dalam hidupnya ? pertanyaan nya agak ‘mengerikan’ sih ya, mungkin hanya beberapa orang, atau hanya sedikit yang akan mengakui nya, atau bahkan tidak ada sama sekali. Gimana kalo pertanyaan nya diganti, seberapa banyak dari kita yang hidupnya penuh dengan harapan ? pasti semua orang akan menjawab dan mengakui nya.

                Hampir setiap orang pasti memiliki harapan dalam hidupnya. Dan harapan itu juga yang membuat seseorang mampu untuk terus bertahan hidup. Orang yang tidak mempunyai harapan dalam hidupnya mustahil untuk bisa bertahan hidup. Sebut saja beberapa kasus bunuh diri yang terjadi, biasanya dilatar belakangi oleh ketiadaan harapan dalam hidup nya. Sepertinya dunia ini ingin berkata bahwa “untuk apa hidup tanpa harapan ?” atau “hidup tanpa harapan = mati”

                Namun kita juga perlu tahu, bahwa masalah itu ada bukan saja karena ketiadaan harapan, justru terkadang karena harapan juga lah seseorang bisa saja mendapat masalah. Sebagai contoh seorang siswa yang berharap ingin mendapatkan prestasi terbaik di sekolah nya, tapi karena harapan nya tidak tercapai, maka timbul masalah baru dalam hidupnya. Jadi masalah juga bisa timbul ketika kita tidak dapat menggapai harapan tersebut. Kasus yang sama juga sering sekali kita jumpai di sekitar kehidupan kita, atau bahkan dalam diri kita sendiri.

                Mungkin sekarang kita perlu “hitung-hitung-an” sedikit, tidak perlu menggunakan alat hitung, cukup bayangkan saja

                 seberapa banyak kita membuat harapan ? seberapa banyak harapan itu tercapai ? dan seberapa banyak harapan yang justru tak sesuai harapan ?



                Terkadang masalah baru justru muncul saat kita menerima sesuatu yang tidak sesuai harapan. Mengapa ? karena ketika kita berharap penuh akan sesuatu, maka kita juga akan “mempertaruhkan” semua nya untuk mencapai harapan tersebut, dan ketika harapan itu gagal, semua yang kita “pertaruhkan” itu seakan hilang. Biasanya yang paling sering kita “pertaruhkan” untuk menggapai harapan itu adalah hati dan pikiran kita, dan saat kita pertaruhkan semua hati dan pikiran kita itu dan hasilnya gagal, kita akan merasa hilang pijakan untuk tetap bertahan, mengingat semua hati dan pikiran kita sudah kita “pertaruhkan”.

                Maka sekarang timbul pertanyaan baru, lalu apa yang salah ? tentu bukan harapan nya yang salah, bukan pula hati dan pikiran kita yang salah, melainkan ada hal yang kita lupakan ketika kita “mempertaruhkan” hati dan pikiran kita untuk menggapai harapan itu. Kita seakan lupa untuk “menyisipkan ruang” baru pada hati dan pikiran kita sebelum mempertaruhkan nya, kita lupa untuk “menyisipkan ruang ucapan syukur” di dalamnya. Sehingga ketika apa yang telah kita pertaruhkan itu gagal, maka hilang pula lah semua nya, namun jika kita mau untuk “menyisipkan ruang ucapan syukur” itu dalam hati dan pikiran kita maka, walaupun kita gagal dalam menggapai harapan kita, kita sudah siap dan akan berpijak pada “ruang baru” itu, yakni “ruang ucapan syukur”.

                Ketika kita melangkah dalam tujuan hidup kita, melangkah dengan penuh harapan akan mimpi dan cita-cita kita, selalu ingat untuk “sisipkan ruang” baru, ambilah waktu untuk melihat semuanya dengan cara pandang yang baru, cara pandang yang dipenuhi rasa ucapan syukur, sehingga kita akan tetap selalu ada di jalur yang tepat dalam jalur pencapaian harapan kita, walaupun Tuhan terkadang harus membenturkan harapan kita dengan rencana milik-Nya, kita bisa tetep punya respon yang benar, kita bisa tetep ada dalam pijakan dan “ruang” yang tepat.

Dan pastikan bahwa kita juga telah memilih “sumber” yang tepat untuk kita bisa menggantungkan harapan itu. Dan kita semua tentu tahu bahwa sumber harapan yang terbaik itu ada dalam tangan nya Tuhan.


“Selamat mencapai harapan, selamat menempuh perjalanan impian, dan selalu ingat untuk “ sisipkan ruang” ucapan syukur”

Tuesday, August 30, 2016

BENAR dan BENAR

                BENAR dan BENAR

Tentu kita semua tahu kalo dunia ini diciptakan secara seimbang. Jika ada siang, maka ada malam, ada panas maka ada dingin, ada terang maka ada gelap, demikian juga dengan manusia, ada laki-laki dan ada perempuan, ada tinggi ada rendah, dan tentu ada BENAR maka ada SALAH.

                Yang BENAR pun terkadang tiap orang pengetahuan tentang ke-BENAR-an nya berbeda. Terlepas dari latar belakang suku, agama, ras, adat istiadat, atau hal-hal lainnya seperti jabatan atau umur. Sebagai contoh, ada orang yang sedang buru-buru mau pergi kerja atau kuliah, atas dasar buru-buru dan menghindari telat, maka ia mem-BENAR-kan dirinya untuk melawan rambu-rambu lalu lintas. Itu adalah salah satu contoh, dan mungkin masih banyak contoh-contoh atau pengalaman-pengalaman yang pernah kita alami lainnya.

Contoh di atas adalah salah satu contoh yang mungkin hampir kebanyakan orang melakukan nya, atau mungkin kalian termasuk salah satu nya ? perlu diakui bahwa penulis disini pun pernah melakukan nya, hehe. Tapi yang penting semakin banyak kita mengakui kesalahan atau mengenal kesalahan kita, maka semakin mudah kita memperbaiki diri, karena tulisan ini dibuat bukan untuk menghakimi seseorang atau kelompok tertentu, tapi untuk mengevaluasi dan memotivasi diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi tentunya.

Nah, balik lagi ke topik, kita pasti sering melihat di sekitar kita orang-orang yang hidup nya bisa teguh berdiri di atas kebenaran, dan sebalik nya kita juga pasti sering melihat orang-orang yang tidak melakukannya.

Ada kisah menarik, sebagai contoh yang kedua, contoh kali ini berasal dari pengalaman Christian Herter, yang sedang berjuang untuk bisa memenangkan masa jabatan gubernur Massachusetts kedua kalinya. Disuatu sore, sampailah ia di café yang saat itu sedang memberikan makanan gratis kepada setiap pengunjung. Christian Herter saat itu merasa lapar karena ia belum makan sejak siang.

Ia pun ikut mengantri untuk mendapatkan makanan gratis tersebut, akhirnya tiba berhadapan dengan wanita yang bertugas menghidangkan daging ayam. Wanita itu menaruh sepotong daging ayam ke piring Herter. Karena didorong oleh rasa laparnya, Herter menyapa petugas wanita itu dengan permohonan, “maafkan saya, saya lapar sekali, bolehkah saya minta tambah ayam sepotong lagi?” wanita itu menjawab, “maaf, saya hanya boleh memberikan sepotong ayam kepada setiap orang” “tapi saya lapar sekali” Herter mencoba meyakinkan. “Tidak, hanya satu potong untuk satu orang,” sahut pelayan wanita itu.

Chritian Herter sangat terkenal sebagai gubernur yang ramah dan penyabar, namun kali ini ia bertekad untuk menggunakan sedikit kekuasaannya
“Anda tahu siapa saya ?” kata Herter, “sayalah gubernur Massachusetts!” akan tetapi dengan tidak gentar sedikit pun pelayan wanita itu pun menjawab, “anda tahu siapa saya ? sayalah wanita yang diberikan wewenang untuk memberikan ayam satu orang satu potong. Silahkan bapak duduk karena masih banyak yang mengantri!”, demikian wanita itu menjawab.

Dari kisah itu kita bisa belajar, bahkan seseorang akan menggunakan kekuasan atau jabatan nya untuk mem-BENAR-kan dirinya. Dan dari kisah itu kita juga bisa belajar bahwa kita tidak perlu takut untuk bisa menyuarakan kebenaran.

Penting untuk kita semua tahu bahwa setiap kita diberikan wewenang oleh Tuhan untuk menyatakan kebenaran,  kita juga diberikan kuasa dan kemampuan dari Tuhan untuk melakukan nya.

Karena selain karena perintah Tuhan, kita juga harus menyatakan kebenaran itu karena lingkungan sekitar kita membutuhkan nya.

SALAH tetaplah SALAH walalupun banyak orang yang mempercayainya

BENAR teteplah BENAR walaupun tidak ada yang mempercayainya

SALAH tetaplah SALAH walaupun banyak orang yang melakukannya

BENAR tetaplah BENAR walaupun hanya kita yang melakukannya

SALAH tetaplah SALAH walaupun banyak yang mendukungnya

BENAR tetaplah BENAR walalupun tanpa dukungan

 “kesalahan jika terus dibiarkan akan ditentang ketika dibenarkan”


Tuesday, August 16, 2016

Aktif atau Reaktif ? MERDEKA !!

Aktif atau Reaktif ? MERDEKA !!

                Kayanya ga asik ya kalau di bulan agustus kita ‘ga ngebahas tentang bangsa kita, bangsa Indonesia. Udah menjadi jadwal rutin bahwa setiap bulan agustus di tiap tahun nya kita memperingati Hari Ulang Tahun(HUT) negara kita. Dan kita patut berbangga pada hal itu, karena hal itu menggambarkan semangat kita dalam menyambut kemerdekaan bangsa ini. Di tahun ini tepat 71 tahun bangsa kita merdeka. Kita semua pasti tahu bahwa bukan hal yang mudah untuk bisa merdeka, dan memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, banyak perjuangan, pertumpahan darah, bahkan nyawa melayang untuk bisa merebut kemerdekaan bangsa kita.
                Kita semua juga mungkin tahu bahkan, setelah Indonesia memproklamirkan kemeredekaan nya pun masih ada peperangan yang terjadi, sebut saja konflik antara Indonesia dan Belanda, dan hadirnya organisasi NICA, ada juga pertempuran Surabaya yang terjadi 10 November 1945, pertempuran ambarawa, dan pertempuran-pertempuran lainnya, termasuk hingga peperangan melawan PKI, dan bahkan sampai saat ini pun bangsa kita masih terus berperang, ya, berperang melawan bangsa sendiri.
                Kalau begitu, genaplah sudah pesan yang disampaikan oleh Bung Karno “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu lebih susah karena melawan bangsamu sendiri
Jika melihat dari isi pidato presiden RI saat ini, Presiden Joko Widodo, dalam pidato kenegaraannya hari ini tgl 16 Agustus 2016, beliau juga mengatakan dalam pidato nya bahwa bangsa ini belum berhasil menang melawan pengangguran dan kemiskinan. Inilah peperangan yang sedang bangsa kita hadapi.
Sayangnya tidak semua orang di bangsa ini menyadari hal itu, bahkan tidak sedikit juga yang membuka “kran” peperangan baru, dengan mengangkat isu SARA.
Yang bangsa kita butuhkan adalah momentum kebersamaan !! tanpa melihat adanya perbedaan. Jika dalam peperangan sebelum bangsa ini merdeka saja kita semua bisa bersatu, tanpa melihat Suku, Agama, Ras, Adat istiadat, atau hal lainnya, kebersamaan itulah yang membawa kita kepada kemenangan yang memerdekakan.
Menjadi berbeda ketika saat ini yang terlihat di bangsa kita adalah lebih dominannya kepentingan kelompok diatas kepentingan bangsa ini, jika mengaca pada bidang politik, seakan semuanya sudah tergambarkan disana. Bagaimana yang terlihat bukannya gotong royong, bukan semangat persatuan, tetapi masyarakat dipertontonkan sikap saling menjatuhkan, saling menjegal, saling mencari kepentingan dan kemnangan masing-masing kelompok politik.
Pertanyaan nya adalah, apa yang bisa kita lakukan ?
Jika kita melihat lagi dalam proses pembentukan kemerdekaan bangsa ini, bangsa ini dipelopori oleh anak muda, bernama Soekarno, bagaimana tidak, bahkan di umurnya yang saat itu baru berumur 27tahun, ia sudah merancang bentuk negara ini, melalui kongres sumpah pemuda.
Kita harus melihat dan menyadari bahwa bangsa ini dibangun oleh pemuda-pemuda yang ada di bangsa kita. Itu juga yang seharusnya menyadari kita bahwa, semangat pemuda itulah yang bisa membawa kita turut membangun bangsa ini.
Tak bisa dipungkiri bahwa bangsa kita sedang ada dalam peperangan itu. Berperang melawan bangsa nya sendiri.  Ironinya, tidak sedikit dari pemuda bangsa kita juga yang pesimis dan bahkan mengutuki bangsa ini.
“Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka.” (Pidato HUT Proklamasi 1963 Bung Karno)
Sebagai contoh akhir-akhir ini di moment bulan kemerdekaan ini, banyak akun di media sosial yang mem-posting tentang hal-hal yang membangun semangat persatuan, tapi kalo kita lihat di kolom komentar, justru banyak yang malah “adu pintar” di kolom komentar, atau bahkan mengutuki bangsa ini. Itu adalah fenomena yang tak ter-elak-kan.
Ada 2 sikap yang bisa kita pilih dalam menanggapi hal-hal seperti itu
Yang Pertama, adalah sikap AKTIF
sikap aktif disini berarti kita tidak terpengaruh dengan situasi tersebut, sebaliknya kita lah yang memberikan pengaruh buat mereka. Sikap ini penting dimiliki oleh setiap kita untuk menciptakan semangat persatuan. Karena yang dibutuhkan bangsa ini adalah orang-orang yang mau menjadi dampak, dan menciptakan semangat kebersamaan itu, bukan orang-orang pesimis yang turut larut mengutuki bangsa ini.
Yang Kedua, adalah sikap REAKTIF
Sikap reaktif disini berarti kita yang terpengaruh oleh situasi, dan tidak bisa mempengaruhi situasi tersebut. Jika situasi yang terjadi adalah kekacauan, orang-orang yang memilih sikap reaktif mereka akan cenderung mengikuti situasi tersebut, mereka tidak muncul dengan solusi, tapi muncul untuk turut merusak situasi. Orang-orang reaktif adaah orang-orang pesimis yang mudah terpengaruh.
Kita sebagai pemuda dan tulang punggung bangsa, tentu tahgu sikap mana yang harus kita ambil. Bangsa ini butuh pemuda-pemuda dengan jiwa-jiwa semangat ‘Soekarno’ yang dimasa mudanya ia gunakan untuk ‘merancang’ kemerdekaan bangsa ini.
Ada sebuah statement menarik yang berkata :
 “jangan mengutuki kegelapan, tetapi bawalah terang kepada kegelapan itu”
Mari, kita sama-sama menjadi pemuda yang membawa TERANG, bukan pemuda yang mengutuki kegelapan.
Artikel kali ini akan saya tutup dengan sebuah statement menarik dari seorang penulis dan comedian Panji Pragiwaksono
“ada 2 tipe pemuda, yang pertama adalah pemuda yang membawa perubahan, yang kedua adalah pemuda yang menuntut perubahan,” kamu pemuda yang mana ? –Panji Pragiwaksono-


Tuesday, August 2, 2016

Standar Hidup Yang ‘Ga Standar

Standar Hidup Yang ‘Ga Standar

                Jika berbicara tentang standard hidup, maka setiap orang ingin memiliki standar hidup yang tinggi, karena standar hidup yang tinggi berbanding lurus dengan kepemilikan akan barang-barang mewah atau jasa-jasa, dan juga terkait dengan pendapatan seseorang yang tinggi. Hal-hal tersebut mengacu kepada standar hidup material. Namun, dalam artikel kali ini, kita tidak akan membahas tentang standar hidup dalam hal materialis, melainkan standar hidup dalam segi hehidupan sosial, kesehatan mental, dan pencapaian hidup, yang selanjutnya disebut dengan kualitas hidup.

                Tidak sedikit orang yang ‘hanya’ mengejar standar hidup yang tinggi dalam hal materialis tanpa memperhatikan kualitas hidupnya, dan sepertinya tidak salah jika kita melihat hal itu menjadi akar dari tinggi nya kejahatan di negeri ini, salah satu contoh nya adalah korupsi. Orang-orang menjadi sibuk untuk memperkaya dirinya dengan segala bentuk materi dibanding memperkaya dirinya dengan hal-hal yang menunjang kualitas hidup mereka.

                Saya sangat tergugah dengan kisah hidup dari salah satu legenda hidup pemain basket dunia, Michael Jordan.  Dikenal sebagai pemain basket terbaik sepanjang masa, Michael Jordan tidak begitu saja mendapatkan keberhasilannya itu. Ia harus berjuang keras meraihnya. Meskipun kemampuannya tak diragukan lagi, tinggi badannya tidak memenuhi syarat untuk menjadi salah satu anggota tim basket kampusnya.

                Michael merasa marah sekaligus dipermalukan, tapi energi emosionalnya itu ia curahkan dan gunakan untuk menjadikan dirinya seorang pemain yang jauh lebih baik.

“Setiap kali berlatih dan merasa lelah juga mulai timbul niatan untuk menyerah, saya akan menutup mata dan membayangkan daftar nama pemain di kamar ganti tanpa nama saya tertera di sana,” kata Jordan. “Dan biasanya hal itu akan membuat saya bangkit kembali.”

                Michael akhirnya berhasil menjadi anggota tim kampus dua tahun kemudian, memperoleh beasiswa ke University of North Carolina, dan lalu direkrut Chicago Bulls.

“Sepanjang karier saya, lebih dari 9.000 tembakan saya meleset. Saya juga pernah kalah dalam 300 pertandingan. Paling tidak, 26 kali saya dipercaya untuk melakukan syuting penentu kemenangan namun gagal. Saya telah berkali-kali mengalami kegagalan dalam hidup. Dan itulah sebabnya, saya bisa berhasil…,” ungkap Michael Jordan suatu ketika merefleksi masa lalunya.

                Dari kisah diatas Michael Jordan berhasil menunjukan standar hidup nya yang tinggi, kemampuan nya dalam memotivasi diri dan keberhasilannya dalam mencapai mimpinya menjadi kunci dari kesuksesannya.


                Ada 2 hal yang ingin saya bagikan dari kisah Michael Jordan, bagaimana dia berhasil membuat standar yang tinggi dalam hidupnya

Yang pertama : Mempunyai Tujuan

                Dari kisah itu kita bisa melihat bahwa Michael Jordan memiliki tujuan dalam hidupnya yakni menjadi pemain basket professional. Beberapa kali ia nyaris menyerah dan putus asa, namun kemampuan nya dalam memotivasi dirinya mampu membawanya terus ada dalam jalur kesuksesan nya itu. Itulah pentingnya menetapkan suatu tujuan, agar kita tidak mudah menyerah dan tidak mudah putus asa.

Yang kedua : Mau Menerima Tanggung Jawab

                Dari kesaksiannya, Michael Jordan berkata bahwa ia paling tidak 26 kali dipercaya untuk melakukan syuting penentu kemenangan, namun ia gagal. Sebenarnya ia bisa saja dalam kesempatan nya yang kedua, atau ketiga menolak untuk mengambil tanggung jawab untuk melakukan syuting penentu kemenangan itu, namun Michael Jordan terus mau menerima tanggung jawab itu, bahkan ia berkata kegagalan itu lah yang membuatnya berhasil. Janganlah takut untuk menerima tanggung jawab, karena daris etiap tanggung jawab itu kita belajar banyak hal, dan menjadikan kita seseorang yang memiliki mental yang sehat.

                Dan terakhir, dalam artikel kali ini akan saya tutup dengan sedikit kesaksian yang saya alami beberapa minggu belakangan ini. Dalam minggu belakangan ini, tampaknya Tuhan ingin membuat hidup saya lebih ‘seru’. Terlihat dari banyak nya waktu yang harus saya gunakan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang sekan ‘tiba-tiba’ datang. Waktu itu juga yang telah menyita jadwal menulis saya di minggu lalu. Tugas deadline, minggu UAS, jadwal ujian yang berubah-ubah, jadwal ikut seminar, jadwal study tour dan hal lainnya yang turut menyita waktu, bahkan jam main game online pun turut tersita haha.

                Tapi melalui kejadian di minggu lalu itu, saya jadi mengerti dan belajar suatu hal, bahwa tanggung jawab yang udah Tuhan percayakan, walaupun semuanya seakan datang bersamaan, tetapi saya masih bisa menyelesaikan semuanya, dan saya semakin percaya bahwa jika Tuhan memberikan tanggung jawab pada hidup kita, Tuhan juga turut memberikan kesanggupan dan kekuatan yang baru juga bagi kita untuk dapat menyelesaikan nya. Dan dan pada akhirnya yang keluar dari mulut saya bukanlah keluhan, melainkan ucapan syukur, karena Tuhan udah bantu saya menyelesaikan setiap tanggung jawab yang Tuhan berikan.

So, temen-temen, jangan mau punya standar hidup yang standar atau biasa-biasa aja. Setiap kita punya mimpi/tujuan hidup, tugas kita selanjutnya adalah percayalah pada mimpi itu, dan jangan batasi diri, buatlah sebuah tujuan, dan jangan takut menerima tanggung jawab, dan jangan lupa juga libatkan Tuhan dalam pencapaina mimpi kita. Capailah standar hidup yang ga standar !

“If you cannot do great things, do small things in great way”
-Napoleon Hill-


Semangat ‘n God bless

Tuesday, July 19, 2016

Berperang dan Menanglah !!

Berperang dan Menanglah !!

                Selalu ada hal baru untuk ditulis dan diceritakan. Sepertinya Sang Empunya Alam ini selalu membuat ciptaan nya seolah ‘memanggil’ dan mencari tuannya, untuk dapat menyampaikan setiap pesan-pesan kehidupan. Dan seperti nya saat ini saya kembali beruntung karena dapat menangkap dan menyampaikan pesan-pesan tersebut. Sebelum menuliskan nya, tentu saya tidak lupa menyapa secangkir kopi, yang sudah saya siapkan sebelumnya.

                Kali ini, Sang Empunya Alam ini seakan membiarkan mahkluk nya yang paling sempurna untuk ‘bernyanyi’. Nyanyain disini bukanlah tentang nada atau lirik, tapi tentang sikap yang terpancar dari mahkluk yang sempurna, yaitu manusia. Bersyukur sekali rasanya bisa menangkap satu  dari sekian banyak nyanyian tersebut. Dalam beberapa hari terakhir ini nyanyian yang berhasil saya tangkap adalah nyanyian tentang peperangan. Perang ini bukan tentang adu fisik, atau adu kekuatan senjata, tapi perang melawan setiap sifat-sifat buruk yang ada dalam diri setiap manusia, mahkluk yang dianggap ciptaan paling sempurna dari Sang Empunya Alam ini.

                Siapa dari temen-temen disini yang pernah berperang ? Perang melawan ego sendiri, perang melawan kemalasan, perang melawan ketidak-pede-an, dll. Saya yakin pasti temen-temen pernah mengalami nya. Diantara banyak nya jenis peperangan itu, semuanya mengacu kepada satu hal, yakni diri sendiri. Jadi tidaklah salah jika saya sebut bahwa dalam konteks ini peperangan kita adalah melawan diri sendiri. Mengapa penting bagi kita untuk berperang melawan diri sendiri ? Karena peperangan kita dengan segala hal yang ada diluar sana baik itu mengenai peperangan di dunia kerja, dunia pendidikan, kuliah, sekolah, bahkan di dunia pergaulan pun itu semua ditentukan oleh sikap kita, karena tak jarang justru sikap kita yang tidak sesuai dengan kebenaran itu yang menimbulkan peperangan yang sesungguhnya.

                Seberapa banyak dari kita yang pernah atau bahkan sering mendengar istilah ‘perang melawan diri sendiri’ ? namun bukan itu yang penting, pertanyaan selanjutnya adalah seberapa banyak dari kita yang telah memenangkan peperangan tersebut ? jawaban nya tentu akan berbeda, karena setiap orang punya pengalaman yang berbeda-beda pula.

                Ada sebuah kisah menarik tentang betapa pentingnya kita menaklukan diri sendiri. Dalam sebuah kejuaraan lomba lari yang diikuti oleh ribuan pelari dari berbagai daerah, ada seorang pelari yang berhasil mencuri perhatian banyak orang. Ia berhasil mencuri perhatian banyak orang karena pencapaian nya dalam kejuaraan tersebut. Ia berhasil menjuarai kejuaraan lomba lari tersebut dan bahkan meninggalkan pelari-pelari lain dibelakangnya dengan jarak yang sangat jauh. Sontak hal itu menjadi bahan perbincangan, tidak hanya diantara pelari yang mengikuti lomba tersebut, tetapi termasuk orang-orang yang menonton pun tergugah dengan pelari itu. Saat diwawancarai tentang kunci kemenangan nya itu, sang pelari menjawab dengan bijaknya, bahwa kunci kemenangan nya adalah ia tidak berpikir untuk mengalahkan pelari lain dalam lomba tersebut, ia hanya fokus untuk mengalahkan record nya sendiri. Ia berkata bahwa pelari yang sibuk untuk mengalahkan orang lain akan kalah karena ia sibuk melihat orang lain, dan akan tertinggal, sedangkan ia hanya fokus pada tujuan nya untuk memecahkan recordnya sendiri tidak peduli orang lain akan mengejarnya atau bahkan menyusul nya atau tidak. Ia bertanding melawan diri nya sendiri, bukan melawan pelari lain.

                Dari kisah tersebut kita dapat belajar bahwa kemenangan sejati bukanlah kemenangan atas kemampuan kita megalahkan orang lain, tetapi ketika kita mampu mengalahkan diri sendiri. Karena ketika kita berlari di jalur kemenangan yang kita impikan, kita harus melawan dan mengalahkan rasa takut, rasa malas, rasa ketidak-pede-an, ke-ego-an, dan semua sifat-sifat buruk lainnya. Itulah kemenangan yang sejati, ketika kita mampu mengalahkan diri sendiri.

                So, udah saat nya bagi setiap kita juga mampu untuk mendapatkan kemenangan yang sejati itu, bukan kemenangan atas orang lain, tapi kemenangn atas diri sendiri, melawan setiap keterbatasan diri, melawan sifat-sifat yang menghambat kita untuk untuk bertumbuh. Dan yakinlah bahwa setiap kesaksian dari kemenangan sejati kita sudah dinantikan oleh orang lain disekitar kita.


Semangat ‘n God Bless

Tuesday, July 12, 2016

Hati, Pikiran, dan Si Impian

Hati, Pikiran, dan Si Impian

                Hari yang sama dalam pekan  yang berbeda. Seperti biasa, layaknya sebuah jadwal rutin seumpama datangnya si raja siang yang menendang bulan dengan segala rekan kegelapan nya, hari ini saya kembali memulai kegiatan baru di dunia baru dalam dunia penulisan. Sambil membaca kembali artikel sebelumnya (Menembus Kemustahilan) yang baru berusia tujuh hari, berharap sesuatu datang dan memberikan banyak menu baru untuk memenuhi pikiran dan menumpahkan nya menjadi sebuah karya tulis yang dinanti.

                Bukan hal yang mudah untuk dapat segera menerima ide-ide baru. Mencoba melihat sekeliling berharap dapat menemukan sesuatu. Teringat beberapa hari dalam pekan ini yang datang ditemani hujan, datang menyaksikan dan melihat penuh keinginan, dapatkah hujan itu berkata dan menyampaikan sesuatu ? sambil menunggu hujan berbicara, pikiran ini teringat akan kebersamaan dalam liburan minggu ini, berharap si liburan juga dapat berbicara dan menyampaikan sesuatu untuk dapat dituliskan dan menjadi karya yang dinanti.

                Di tengah penantian tergadap si hujan dan si liburan, seakan datang teman lain yang mencoba membantu untuk mengisi pikiran ini dengan ide-ide barunya. Mereka adalah Si Impian dan Si Takut. Terlihat bahwa rekan yang baru datang ini mereka berdua tampaknya bukan teman yang akur, mereka datang dengan perbekalan senjata yang berbeda. Si Impian datang dengan menawarkan banyak hal-hal yang mengasikkan dan menjanjikan, ia datang dengan semangatnya dengan wajah penuh keyakinan, berharap saya dapat menerima semua senjata dan penawaran yang ia berikan. Berbeda dengan Si Impian, Si Takut datang dengan senjata yang berbeda tapi tetap tak bisa diabaikan juga. Si Takut datang dan mulai menawarkan senjatanya, ia datang dan menawarkan kenyamanan, kesenangan, kemalasan, bahkan turut menawarkan intimidasi.

                Sambil berpikir tentang tawaran Si Impian dan Si Takut, kembali saya melihat kepada rekan saya si hujan dan si liburan, tapi tampaknya mereka belum siap untuk memberikan senjata baru ke dalam pikiran saya saat ini. Alhasil saya meninggalkan dua rekan saya sebelumnya, si hujan dan si liburan, dan berusaha bernegosiasi dengan rekan baru saya Si Impian dan Si Takut. Hati mulai bekerja dan merasa mencari senjata mana yang harus dipilih, tak mau kalah, pikiran juga mulai mengerjakan bagiannya, berpikir senjata mana yang harus saya ambil.

                Hati dan Pikiran tentu bukan hal yang bersinonim, mereka punya peran nya masing-masing, namun sepertinya mereka sudah mulai mampu utuk memutuskan senjata siapa yang harus saya ambil. Sambil tersenyum, Hati berkata, “rasanya akan menyenangkan jika hati dapat bermain dengan semangat, keseruan dan hal-hal menjanjikan  yang Si Impian tawarkan”, pikiran datang turut membantu dan berkata “saya pikir, pikiran ini akan semakin kuat jika pikiran bercampur dengan semangat dan hal-hal lain yang Si Impian tawarkan”.

                Berbekal pada Hati dan Pikiran yang telah mengeluarkan suara nyaring nya, akhirnya kali ini saya akan mengambil semua senjata yang ditawarkan oleh Si Impian. Dengan bekal Hati, Pikiran dan semua senjata yang Si Impian berikan, saya mulai kembali menulis dan berharap karya yang berhasil ditulis ini dapat membantu teman-teman yang lain untuk dapat menemukan Si Impian dalam kehidupan pribadi masing-masing. Kali ini sepertinya Hati, Pikiran, dan Si Impian berhasil membawa saya kembali selangkah lebih maju untuk mencapai mimpi yang telah saya rancang.

                Dan sebelum menutup pekerjaan hari ini, berharap bahwa setiap teman-teman yang telah membaca dapat segera di kunjungi juga oleh Si Impian, berharap kalian bertemu dan mendapatkan Si Impian juga, dan pesan terakhir adalah, jangan lupa libatkan hati dan pikiran untuk dapat mengambil senjata Si Impian


Tengkyu, have a great day ! God Bless

Tuesday, July 5, 2016

Menembus Kemustahilan


Menembus Kemustahilan
             

   Kemustahilan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata ini berasal dari kata “mustahil” dan memiliki arti “tidak mungkin (terjadi)”. Dari pengertian tersebut, mungkinkah kita dapat ‘menembus’ sesuatu yang tidak mungkin terjadi ? sebelumnya kita harus mengetahui bahwa kita menganggap sesuatu itu mustahil ketika kita tidak mampu menguraikan atau menjabarkan sesuatu secara hukum kausalitas atau hukum sebab-akibat. Ketika sesuatu itu tidak dapat dijabarkan secara logis maka biasa nya hal itu disebut mustahil. Sebagai contoh, mungkin beberapa ratus tahun yang lalu, adalah mustahil jika kita ingin berbicara dengan seseorang yang jaraknya ribuan kilometer jauhnya dari kita, atau kita ingin menempuh jarak yang sangat jauh dengan waktu yang singkat, tapi saat ini kita telah mengenal berbagai macam alat komunikasi yang dapat membantu kita untuk dapat berkomunikasi dengan siapa saja walaupun dengan jarak yang sangat jauh, dan mengenal pelbagai alat transportasi yang membantu kita untuk pergi ke tempat yang jauh dengan waktu yang singkat.
             
   Pernahkah teman-teman mengalami kemustahilan dalam hidup ? jika pernah, maka kalian bukanlah satu-satu nya orang yang pernah mengalamim kemustahilan dalam hidup. Sama seperti seorang tokoh dunia bernama Alan Mathison Turing, dia adalah seorang peneliti dan ahli dalam bidang matematika dan berkebangsaan Inggris. Dengan kepintaran nya dalam ilmu matematika, ia turut serta dalam perang dunia II dan bekerja secara rahasia untuk pemerintah Inggris. 

Kepintaran nya dalam matematika membawanya dalam sebuah tugas rahasia bersama beberapa orang lainnya untuk memecahkan pesan yang dienkripsi oleh mesin Enigma Jerman, yang menyediakan data intelejen penting untuk sekutu. Ia seperti diperhadapkan dengan kemustahilan, karena buat sebagian orang pada saat itu sangatlah tidak mungkin jika mengalahkan mesin Enigma buatan Jerman.
           
     Dalam tugas rahasia nya itu, untuk memecahkan Enigma Jerman, ia bekerja keras untuk menciptakan sebuah mesin tandingan yang diharapkan mampu memecahkan berbagai pesan yang dienskripsi oleh Enigma. Setelah upaya beberapa tahun untuk menyelesaikan mesin buatan nya sendiri, dan bahkan harus mengalami banyak penolakan dan cacian dari rekan setim dan atasan nya, akhirnya mesin buatan nya berhasil. Mesin yang dikenal sebagai Bombe itu ia namai dengan nama ‘Christoper’. Akhirnya dengan mesin ciptaan nya sendiri ia mampu memecahkan pesan-pesan rahasia dari mesin Enigma Jerman dan membawa Inggris memenangkan perang tersebut. Mesin itulah yang selanjutnya dikembangkan menjadi komputer
          
      Cerita yang menarik bukan ? siapa sangka bahwa kemenangan Inggris dalam Perang Dunia II tidak lepas dari peran penting seorang ahli matematika. Dari cerita itu kita bisa menilai bahwa Alan Turing tidak hanya mampu membawa Inggris mengalahkan Jerman, namun Alan Turing juga berhasil untuk mengalahkan keterbatasan dirinya. Itulah yang membawa nya berhasil menembus kemusatahilan. Itu juga lah yang terpenting bagi kita untuk dapat menembus kemustahilan. Sekarang, kemustahilan apa yang sedang kita hadapi ? kunci nya adalah jangan membatasi diri kita, dan lampauilah keterbatasan diri kita, karena ketika kita mampu mengatasi keterbatasan diri kita, kita juga mampu mengatasi kemustahilan itu.
            
    Dalam hal ini kemustahilan juga identik dengan kekuasaan. Selain kekuasaan dalam diri kita yang mampu mengalahkan keterbatasan diri, kita juga perlu kekuasan yang tidak terbatas untuk dapat menembus kemustahilan, dan kekuasaan yang tak terbatas itu hanya kita dapati dalam Tuhan. Tuhan juga yang berkuasa untuk memampukan kita melakukan segalanya. Seperti sebuat statement yang sering kita dengar bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Oleh karena itu penting bagi kita untuk tetep terus menggantungkan hidup kita pada Tuhan.
          
      So, jangan batasi diri, dan gantungkanlah hidup kita pada Tuhan agar kita mampu mengatasi setiap kemustahilan yang kita hadapi. Semangat ‘n God Bless

Kata "mustahil" hanya ada dalam kamus orang-orang dungu.
~Napoleon~

Monday, June 27, 2016

Jalani dan Hidupi


Jalani dan Hidupi

Pagi ini, kayanya banyak orang yang ‘sarapan’ dengan menu kekecewaan. Selain karena hari senin, mungkin telat ke kantor, kejebak kemacetan dan lain sebagainya, khusus untuk para pecinta sepak bola, atau penggemar Lionel Messi, ditambah kekalahan timnas Argentina dalam laga Final Copa Amerika Latin, kayanya nyesek nya nambah. Kaya ada pait-pait nya gitu.

Semoga hari ini ga bener-bener dimulai dengan rasa kecewa ya, karena tentu masih lebih besar Anugerah Tuhan yang kita terima, dari pada kekecewaan kan ?
balik lagi ke topic tentang final Copa Amerika pagi ini, ada kisah menarik di laga final pagi tadi yang mempertemukan antara Argentina v chili.

Laga final.
Eksekutor yang gagal mencetak gol dari titik 12 pas.
Kalah 4-2 dalam adu pinalti
 Lagi-lagi gagal membawa negara nya juara dalam turnamen internasional.
Itu adalah sedikit gambaran tentang Lionel Messi dalam pertandingan pagi ini. Siapa yang ga kenal dengan Lionel Messi ? pemain sepak bola dengan 5x gelar pemain terbaik di dunia ini pasti kita mengenalnya.

Ini bukan kekalahan pertamanya di laga puncak nya bersama timnas Argentina. selain gagal di tahun sebelumnya dalam turnamen yang sama, ia juga hanya mampu membawa Argentina sebagai runner-up di piala dunia tahun 2014 yang lalu. Total Messi udah bermain 4x di laga final dan semua berakhir kekalahan.

Banyak keberhasilan yang telah dicapai oleh Messi, baik secara tim maupun individu. Namun, tidak sedikit juga kegagalan yang ia alami. Terbaru, kegagalan nya membawa tim Argentina menjuarai liga Copa Amerika Latin. Banyak ejekan atau tuduhan yang diberikan kepada nya karena kegagalan nya mencetak gol dalam drama adu pinalti tadi pagi. Lewat kegagalan itu, banyak tuduhan dan ejekan yang dilayangkan pada dirinya.

Nah, kalo kita perhatiin baik-baik, kita juga sama seperti Messi. Bukan dari segi sepak bola nya, tapi kita semua pasti pernah mengalami kemenangan atau keberhasilan dalam hidup kita, dan tentu kita mengalami saat-saat kegagalan juga. Tentu banyak reaksi juga yang diberikan lingkungan terhadap diri kita. Jika kita melihat dari kisah Lionel Messi di atas, walaupun ia gagal membawa Argentina menjuarai liga tersebut, hal itu tidak menjadikan Messi kehilangan gelar pemain terbaik dunia, tidak juga menghilangkan gelar-gelar atau keberhasilan-keberhasilan yang telah dicapai oleh Messi sebelum-sebelumnya.

Sama seperti Lionel Messi, kita semua memiliki gelar pemain terbaik, namun gelar yang kita miliki bukan berasal dari dunia, tetapi Tuhan sendiri yang memberikan nya pada kita. Ingatlah bahwa setiap kita adalah ‘pemain-pemain’ terbaik nya Tuhan. Pemain terbaik itu peran nya tak tergantikan. Seperti di artikel sebelum nya, setiap kita punya peran masing-masing. Dan itu tak tergantikan.
Nah, mungkin sekarang kita lagi ada di ‘masa-masa kegagalan’ tapi ingatlah bahwa kegagalan yang kita alami itu tidak akan menghapuskan gelar kita, sebagai ‘PEMAIN TERBAIK’ nya Tuhan. Dan pemain terbaik itu tidak akan terhentikan oleh kegagalan. Justru kegagalan adalah salah satu hal yang turut ‘membentuk’ pemain terbaik

Ada sebuah statement menarik dari seorang penasihat, pengarang, sekaligus motivator asal Amerika bernama Zig Ziglar, 

Jika kamu belajar dari kekalahan, kamu tidak benar-benar kalah”

Jadi, sekarang kita punya dua pilihan; menghidupi kemenangan yang Tuhan berikan atau menghidupi kesalahan yang kita lakukan ?
Tentu pilihan terbaik adalah ketika kita mau menjalani dan menghidupi kemenangan yang sudah Tuhan berikan dalam hidup kita. Jangan sampai kemenangan kita luntur karena kenyamanan kita menghidupi kesalahan-kesalahanyang kita lakukan. Semangat ‘n God Bless.

“It’s fine to celebrate success but it is more important to heed the lessons of failure.”
 “Merayakan kesuksesan itu baik akan tetapi belajar dari kegagalan itu lebih penting.” ~ Bill Gates~

Tuesday, June 21, 2016

Problem Solving

Problem Solving


                Kita semua pasti setuju kalau umur bukanlah satu-satu nya hal untuk mengukur kedewasaan seseorang. Selain umur, salah satu hal yang penting untuk mengukur kedewasaan seseorang itu adalah kemampuan “problem solving” atau bagaiama seseorang itu menyelesaikan masalah dalam hidupnya.
           
     Apa itu masalah ? mungkin kita mendefinisikan masalah itu berbeda-beda, namun secara garis besar masalah itu adalah ketidaksesuaian antara apa yang kita harapkan dengan apa yang kita dapatkan. Sederhananya adalah kesenjangan antara harapan dan kenyataan.
                Pada umumnya, ada 2 sumber masalah yang dialami setiap orang, yaitu berasal dari dalam diri sendiri (internal) dan dari luar diri (eksternal). Contoh masalah yang bersumber dari internal seperti rasa cemas, tidak percaya diri, dll. Sedangkan contoh masalah yang berasal dari eksternal seperti konflik dengan lingkungan.
                Masalah itu bersifat relatif. Dalam artian setiap orang memaknai dan menyikapi (respon) masalah itu berbeda-beda. Nah, inilah yang penting, bagaimana kita memaknai dan menyikapi masalah, karena itu menentukan kedewasaan kita. Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk memiliki kemampuan “problem  solving”  ini. Mengapa penting ? tentu dong, karena dengan itu kita dapat mengembangkan diri kita menjadi lebih baik, terutama dalam hal membangun kepercayaan diri, kepemimpinan, dan belajar dalam pengambilan keputusan.
         
       Ada sebuah kisah menarik, suatu hari ada seorang pemuda yang datang ke rumah seorang kakek yang sangat terkenal karena kebijaksanaannya. Pemuda ini datang dengan harapan bahwa si kakek mampu membantu menyelesaikan permasalahan yang dialaminya. Ketika pemuda tersebut menceritakan permasalahannya kepada si kakek, si kakek ini dengan santai mendengarkan sambil memberikan sedikit tawa.
       
         Setelah selesai mendengarkan, si kakek membawakan segenggam bubuk yang pahit rasanya dan segelas air putih. Setelah memberikannya kepada pemuda itu, si kakek menyuruh untuk memasukan bubuk pahit tersebut ke dalam segelas air yang dibawakan si kakek tadi dan menyuruh pemuda tersebut untuk meminumnya. Setelah diminum, Pemuda tersebut mengeluh karena meraskan pahit dalam mulutnya, lalu si kakek kembali memberikan segenggam bubuk pahit tersebut dan menyuruh pemuda itu untuk mencampurkan nya dengan air yang ada di danau di depan rumah si kakek.
          
      Setelah mencampurkan segenggam bubuk pahit itu ke dalam danau, si kakek kembali menyuruh pemuda itu untuk meminum nya, namun kali ini pemuda itu tidak merasakan pahit di mulutnya. Dengan bijak si kakek menjelaskan, bubuk tersebut menggambarkan permasalahan mu, dan air yang di dalam gelas dan danau menggambarkan hati mu. Jadi jika kita punya masalah dan memasukan ke dalam hati kita yang hanya “segelas air” maka masalah itu tetap akan terasa pahit, sedangkan jika memasukan masalah itu ke dalam hati kita sebesar “danau” maka rasa pahit itu pun tidak akan kita rasakan.
           
     Jadi hatimu lah yang menentukan permasalahan itu ‘pahit’ atau tidak. Setelah mendengar penjelasan si kakek, dengan bangga pemuda itu pulang dengan sukacita.
           
     Dari kisah di atas, kita belajar bahwa untuk menyelesaikan permasalahan yang kita alami, yang pertama dan yang terpenting bagi kita adalah untuk memperbesar kapasitas hati kita. Jangan jadikan hati kita hanya sebesar “segelas air” tapi perbesar kapasitas hati kita sebesar “danau”. Lalu bagaimana agar kita mampu memperbesar kapasitas hati kita ? nah, caranya tentu dengan banyak mengucap syukur. Karena dengan mengucap syukur, kita dapat mencipatakan suasana hati yang kondusif serta bukti bahwa kita percaya akan pertolongan Tuhan dalam hidup kita.
         
       selain memperbesar kapasitas hati kita, kita juga harus menyusun strategi. Nah, dalam hal ini, percayalah bahwa setiap orang yang memiliki masalah, mempunyai kemampuan untuk menyelesaikannya. Yang terpentig adalah kita harus mengenal betul kemampuan yang ada dalam diri kita. Disamping itu, ada dua alternatif dalam menyusun strategi pemecahan masalah

.1. Divergent Thinking

Kita mungkin mencoba untuk membuat berbagai macam solusi alternatif untuk masalah kita. Setelah itu, kita pasti mempertimbangkan berbagai kemungkinan jika strategi dan solusi tersebut dilakukan. 

2. Convergent Thinking

strategi ini untuk untuk memperkecil beberapa kemungkinan  sehingga berpusat kepada satu strategi dan solusi yang terbaik.


                Jadi teman-teman, mulai sekarang siap dong untuk bertumbuh menjadi dewasa dalam pemikiran dan respon kita ? siap dong untuk tidak takut lagi menghadapi masalah ? yap, tetep semangat n God bless

Orang pandai memecahkan masalah, orang genius mencegah masalah –Om Albert-