Tuesday, December 18, 2018

Kanibal

Sejujurnya, kenangan itu sempat menggangku pikiranku
Seperti sebuah kekalahan yang menyakitkan
Kegagalan pertempuran.

Aku teringat bagaimana seseorang yang bahkan tidak cukup mengenal diriku namun bisa bercerita panjang pada orang lain tentang "siapa" aku.
Bagaimana mungkin kau mampu menceritakan sesuatu yang bahkan tidak kamu tahu
Bercerita dan memainkan peran, layakanya dalang yang memainkan wayang
Kau membangun cerita baru dengan kebenaran semu agar semua bisa menaruh simpati padamu

Menggelikan ketika kebenaran diperjualbelikan dengan ketenaran
Menghabisi hidup orang lain dengan cerita sampah yang tak terarah
Kamu tau? biar kutunjukan satu hal,
Apapun jejak yang sedang kau injak saat ini yang kau harap bisa membuatmu merasa mampu menyentuh angkasa,  hal itu juga yang akan menjatuhkan dan menghancurkanmu bahakan sampai tak tersisa.

Seperti ada api dalam diriku yang siap membakar semua ceritamu
Tapi tak jadi, aku berubah arah dan menjadi tak peduli

Teman,
Hidup tak selucu itu,
Merebut ketenaran tak sebodoh itu,
Mencari peduli tak perlu memakai cerita tak pasti

Oh, maaf, aku salah,
Kau bukan temanku,
Teman tidak kanibal bukan?

Sunday, December 16, 2018

Pesan Ucapan Syukur

Matahari sudah terlalu tinggi ketika aku baru saja bangun.
ini bukan pilihan yang tepat untuk lanjut bermalas-malasan, setelah aku melihat jam sudah menunjukan pukul 10 lewat. tujuanku langsung tertuju pada kamar mandi dan bersiap pergi kerja.

Celana hitam panjang, kaos ungu bertuliskan namaku di tengahnya, menjadi pilihanku untuk aku pakai bekerja hari ini. maklum, ini hari Minggu, jadi bisa cukup santai untuk berpakaian ke kantor. aku memakai kaos kaki abu-abu dengan aksen hitam dan sepatu abu-abu sebelum akhirnya mengunci pintu dan pergi. 3 menit 20 detik adalah rekor tercepat yang pernah aku tempuh berjalan dari kosan menuju kantor. Saat itu situasinya aku masuk jam 7 pagi, dan kalian pasti sudah bisa menebaknya. Benar, aku bangun kesiangan. dan hampir telat menuju kantor.

Selesai absen, aku langsung menuju ke ruangan, setelah sebelumnya mengisi peunuh botol minum di kantin tadi. Aku melihat temanku tersenyum dari dalam ruangan menyambutku. Dia sudah ada disana sejak jam 7 pagi tadi. Aku menyimpan tas, dan kembali duduk menatap layar.

Tidak begitu banyak kerjaan yang harus diselesaikan di hari minggu. Jadi aku biasa mengisi waktu dengan menjelajahi media sosialku, instagram. Ada sebuah pesan yang belum aku baca dari seorang teman. Oia, aku baru ingat, semalam kami sempat berbicara banyak tentang dunia kerja, kami berbagi banyak hal sebelum akhhirnya aku tertidur.

Dia salah satu temanku sejak duduk di bangku sekolah menengah. Kami dipertemukan lagi di instagram ini. Dia bercerita banyak dengan sulitnya mencari pekerjaan, aku hanya menyediakan kuping, mendengarkan.

Hari-hari, bahkan minggu-minggu sebelumnya aku selalu berpikir untuk bisa kembali ke Bandung, dan mencari pekerjaan disana. Tapi dari obrolanku bersama teman di instagram malam itu sedikit menamparku. Aku jauh lebih beruntung bisa ada seperti saat ini, punya kesempatan lebih dulu untuk bisa terjun di dunia kerja setelah menyelesaikan kuliah selama empat tahun di bandung. Aku yang sebelumnya terkadang mengeluh dan lupa bersyukur, kini tersadarkan oleh cerita temanku yang semalam aku dengarkan.

Memang benar, lingkungan kita selalu menjadi guru terbaik. kita hanya perlu siap mendengarkan dan mengambil pelajaran. Dan aku senang telah lebih dulu melakukannya. aku tersenyum sebelum membalas pesan temanku di instagram itu, "makasih loh, udh mau cerita banyak, haha, tenang aja, kerja keras ga pernah bohong, aku doakan kamu segera mendapat kabar baik"
Aku mengirim pesan itu , sebelum akhirnya aku tertunduk dan bersyukur, "makasih Tuhan, aku bersyukur"

Saturday, December 15, 2018

Cermin Diri

 Cermin Diri


Belajar dari sesuatu yang terlihat,
Mungkin belum teralami, tapi orang-orang seakan sedang mengajari
Terlalu banyak hal yang bisa menjadi cermin,
Tidak hanya untuk sekedar bersyukur,
Tak jarang hal lain datang mengajarkan untuk berhenti dan menampar diri

Aku melihat dia, pria yang menyambutku dengan senyum hangat,
Yang kemudian berganti hanya karena suatu hal kecil terjadi tak sesuai di hati
Seperti mengajarkan bahwa tidak ada yang pasti,
Sampai kita tahu bahwa yang sejati itu ada dalam dirimu dan diriku

Aku melihat dia, pria yang seakan tahu segalanya,
Yang kini sedang berdiri melambaikan tangan menyapa
Keramahannya menjadi nilai utama,
Untuk bisa mengenal dan sekedar berbagi cerita

Aku melihat dia, wanita yang bahkan tidak aku kenal,
Yang duduk bersebelahan dengan sang pujaan,
Merasa dunia milik berdua, tak peduli situasi dan orang-orang disekitarnya
Sepertinya cinta tidak hanya telah membutakan mata dan logikanya, tetapi juga tata krama.

Dan aku melihat diriku, yang bersyukur bisa melihat semuanya
Yang besyukur melihat semuanya tanpa perlu menghakimi,
Aku merasa sadar, masih ada duri dalam dagingku,
Masih ada sesuatu yang harus dibuang, dibalik nikmatnya daging yang telah matang,



Wednesday, December 12, 2018

Selalu Ada Pilihan


Selalu Ada Pilihan


Mengapa harus berhadapan dengan pilihan dilematis
ketika ada pilihan untuk bisa bersikap apatis ? 

hidup selalu diperhadapkan dengan pilihan
tapi tidak semua merupakan yang kita butuhkan

pilihan tidak pernah hadir dan berdiri sendiri
ia selalu datang dengan berhiaskan konsekuensi

kebanyakan orang takut memilih bukan karena tak mengerti
justru karena mereka mngerti ada konsekuenski yang menghantui

tapi bukankah dalam upah yang besar selalu ada tanggung jawab yang besar ?
maka hadirnya konsekuensi dalam pilihan itu menjadi benar

tak perlu ada yang ditakuti,
konsekuennsi adalah jalan yang membawa kita pada level yang lebih tinggi

jutaan orang berhadapan dengan jutaan pilihan

aku, kamu, mereka, kita semua hidup dalam pilihan yang berkonsekuensi,
maka, pilihannya bukanlah pergi menjauhi, tapi berani menerima dan menjalani

Friday, September 21, 2018

Jangan Benci Sendiri


“Sepi tak selalu berarti sendiri
Bisa saja banyak yang menemani, tapi itu bukanlah esensi
Boleh saja klaim banyak pendukung
Tapi, berapa banyak yang datang ketika hari mu mendung?
Boleh saja memamerkan bersatu
Tapi berapa banyak siap memberi bahu, bahkan ketika banyak yang tidak mau?
Boleh saja banyak yang mengenalmu, bahkan ketika kau tidak memberi tahu
Tapi berapa banyak yang peduli, bahkan ketika kau tak berharap untuk dicari?
Seru ketika kau sendiri dan hanya bercumbu dengan waktu,
Kau akan tahu siapa duniamu.”

Tulisan itu lahir dari obrolan di instagram

Aku sedang melanjutkan tulisan lama ku ketika seseorang mengirimkan pesan padaku di instagram.
“bang, ‘beda’ itu ga salah kan ya?”. Aah ternyata dia, lama ga ngobrol. Kami sempat ada di kelas yang sama saat aku masih ngajar si salah satu yayasan anak yang bermitra dengan salah satu gereja di daerah Antapani.

Aku meninggalkan tulisanku untuk membuka pesan itu, terlihat ada tanda bahwa ia sedang mengetik sesuatu melanjutkan pertanyaannya
“tapi orang2 teh asa cepet banget nge-judge”. Aku tersenyum membacanya.
Dia sedang ada dalam babak baru dalam pergaulannya di tingkatan pendidikan yang juga baru. Seru.
 Aku tidak langsung menjawabnya, aku memilih untuk mendengar semua ceritanya dulu. Bakal jadi obrolan yang panjang, pikirku.

Dan benar saja, banyak hal yang dia ceritakan. Tapi intinya semua mengarah pada pertanyaan yang sebelumnya sudah ia tanyakan di awal.
“Tidak ada yang salah dengan perbedaan, Yang salah adalah justru yang mempersalahkannya”, jawabku.

Aku kini mendekat pada keyboard dan layar komputer. “Orang lain berhak menilaimu tanpa tau siapa dirimu, tapi kamu juga berhak untuk tidak peduli pada itu semua”, tulisku melanjutkan.

Aku teringat pernah ada dalam posisi itu beberapa tahun yang lalu.
Ketika yang kulakukan justru berbeda dengan apa yang orang lain lakukan, memang ada dukungan tpi tidak sedikit juga yang menjatuhkan, bahkan dari orang-orang terdekat di sekitar. Seru pikirku.

"Selamat berperang, kamu punya kendali untuk menentukan apa yang mereka katakan." Kataku sebelum mengakhiri percakapan.

Friday, July 13, 2018

Jujur (kah)

Cermin itu jujur, Ia menampilkan apa adanya, apa yang terlihat, itulah yang ditampilkan. Sepertinya ia melakukannya tanpa upaya. hanya menjadi "dirinya", seperti apa yang memang seharusnya.
Cermin jauh lebih jujur dari kita ketika kita hanya mengatakan apa yang ingin didengar.
Cermin jauh lebih jujur dari kita ketika kita hanya melakukan apa yang sebenarnya tidak ingin dilakukan.
Cermin jauh lebih jujur dari kita ketika kita hanya memikirkan apa yang sebenarnya bukan keinginan.

Kita bisa memilih apa yang ingin kita dengar.
Kita bisa memilih apa yang ingin kita lakukan.
dan, pasti, Kita bisa memilih apa yang ingin kita pikirkan.
tapi coba datanglah.
berhadapan dengannya.
masih sama kah?

Kita akan melihat banyak hal yang tak terkatakan, namun kita mengerti.
Ia tidak seperti air di genangan air yang mampu menampilkan apa yang terlihat, tapi, air dalam genangan air bisa buyar oleh sesuatu yang datang dan bersentuhan dengannya tetapi cermin tidak.
Apa yang terlihat tidak akan buyar oleh sesuatu yang datang.

Jika memang benar bahwa masyarakat itu adalah cermin menurut Charles Horton Cooley, mengapa yang terlihat malah jauh lebih banyak bias dari pada kenyataan ?

Jadi, siapa yang jujur?
dirinya kah? atau pantulannya?

Entahlah,




Sunday, July 8, 2018

Keterpaksaan didalam intuisi

Tulisan lainnya dari Aditya Permana



Keterpaksaan didalam intuisi



Dalam kisah asmara mungkin terbagi ke beberapa bagian. yang pertama ada yang merasa bahagia dengan hubungan asmara itu, ada juga yang yang terluka dan yang terakhir mungkin ada yang terpaksa dengan kisah asmara yang dijalani, tapi tanpa kita sadari dari ketiga hal itu bisa menjadi satu, dalam bahagia tidak akan lengkap tanpa ada yang terluka terlebih dahulu misalnya menunggu momen untuk mendekati pasangan ada yang menghabiskan waktu yang begitu cukup lama, dalam fase fase waktu itu mungkin cukup terbuai karena keterpaksaan agar bisa memliki sepenuhnya.

dalam kisah asmara mungkin semua orang mempunya persepsi nya masing masing dalam hal bahagia, terluka ataupun keterpaksaan. namun disini saya ingin sedikit menuliskan atau berbagi cerita dalam kisah asamara yang pernah saya rasakan atau menjalani hingga saat ini.

waktu itu dimana saya baru menginjak bangku sma di salah satu sekolah swasta kota bandung, saya melihat ada seorang wanita yang cukup cantik dan menawan. kenalakan wanita itu adalah cindy. dia wanita kelas 1 ips. kata temanku vikas dia memang cantik namun dia sedikit lugu dalam hal sosial, bahkan teman teman kelas nya pun tak begitu mengenalinya, dalam hal asmara mungkin hal yang seperti itu akan lebih menyulitkan dan penuh tangtangan untuk mendapatkan hatinya.

saya mencoba memahami tentang sikilogis yang terjadi kepada cindy, ya memang dalam hal mengejar kebahgiaan kita memang harus berjuang dan berjalan untuk mewujudkan nya, jangan harap kebahagiaan akan datang kalo hanya kita banyak terdiam, kita bisa ambil kesimpulannya mungkin orang yang seperti cindy banyak yang jatuh cinta bahkan adapula yang bertekuk lutut kepadanya, namun cindy tidak akan pernah merasakan kebahagaiaan yang sebenarnya, memang dalam metode kebahgiaan setiap orang pasti mempunyai persepsi nya masing masing, namun disini saya tidak bercerita tentang ilmu ilmiah atau apapaun, saya disini bercerita tentang penglihatan saya kepada wanita yang pernah saya cintai, disitu saya merasa bahagia akan kemunculan ego saya yang bisa diaplikasian secara komunikasi terhadap teman saya yang namanya vikas, namun secara tidak langsung ketika vikas memberitahu bahwa cindy orangnya seperti itu disana rasa keterpaksaan saya muncul karena saya ingin tahu lebih tetang cindy, keterpaksaan itu terus berlanjut meski cindy tak pernah menoleh, waktu ke waktu saya habiskan dengan keterpaksaan.

saya merasa bahwa cinta ini hadir dalam keterpaksaan, hanya mengikuti ego saya sendiri dan tak pernah memikirkan sedikitpun apa yang cindy inginkan, memang cinta itu perlu memahami satu sama lain, saya terlalu terbuai oleh kata kebahagiaan saya sendiri, dan saya pun kini merasakan fase fase ketiga itu, saya pernah bahagia, alasan saya bahagia kerena saya pernah jatuh cinta kepadanya, namun didalam banyak luka contohnya seperti tak ada sama sekali balasan sapa dari cindy, namun saya tetap berjalan walau saya tau bahwa realitas nya benar benar membuat saya terluka atau kecewa. ya itu saya selalu terpaksa dalam hal kebahagiaan. saya selalu memaksakan hati saya agar bisa bahagia, padahal mungkin dia bukan salah satu alasan bisa bahagia.

banyak orang yang bilang bahwa cinta itu perlu perjuangan antara keduanya bukan hanya satu yang berjuang namun yang satunya hanya menikmati dan menilai , bagi saya cinta bukan seperti itu, cinta itu akan lahir ketika dua orang itu berani berjuang didalam badai apapun, ya ini lah kisah saya , saya selalu memaksakan jatuh cinta kepada orang yang tidak bisa memberi kebahgiaan kepada saya.

namun saya tidak menyesalinya, saya selalu menikmati apa itu bahagia, terluka ataupun keterpaksaan saya sendiri dalam hal cinta. pada dasarnya segala hal yang berlebihan itu tidak akan pernah sama sekali menimbulkan kebaikan. justru dari itu saya merasa bahwa diri saya sedikit berantakan akan hal keterpaksaan saya dalam hal cinta.



Friday, July 6, 2018

Jadikan Permasalahan Sebagai Anugerah

Saya selalu tertarik melihat setiap kehidupan orang lain.
Tertarik melihat peperangan yang mereka alami. Tertarik melihat cerita kemenangan yang meraka dapatkan.
Dan kali ini Saya beruntung karena saya bisa membaca tulisan yang berisi sebagian dari kisah hidupnya.
Dan tentu saya tidak mau jika hanya saya yang tau, maka saya akan membagikan nya disini.
Selamat membaca, selamat terinspirasi dari tulisan ini

tengkyu Aditya Permana (Aditya Permana ), telah berbagi tulisannya disini


Jadikan Permasalahan Sebagai Anugerah


Alam kehidupan ini mungkin ada bebarapa yang harus kita ceritakan entah itu kebahagiaan, kegagalan, kesuksesan dan keinginan yang pasti semua itu pernah dialami beberapa orang bahkan banyak orang. Hidup itu tidak bisa lepas dari kata "masalah". Namun jika hidup tidak ingin punya masalah ya sudah jangan hidup.

Kalau hanya terdiam dalam permasalahn mungkin masalah itu akan lebih besar dari sebelumnya. Jalan keluar untuk bisa menemukan titik terang dalam permasalahan hadapi saja semuanya karena permasalahan itu lahir dari tanganmu sendiri jadi yang bisa menyelesaikan permasalahan itu ya tanganmu sendiri. Namun jika masih bingung akan semua itu, cari saja keluarga atau kawan terdekat curahkan saja semua permasalahannya, banyaknya orang yang tertidur dalam permasalahan adalah orang-orang yang malu untuk meminta solusi kepada keluarga atau kawan terdekat. Analoginya ketika orang itu tidak bisa berenanag namun memaksakan untuk berenang ya akan tenggelam namun jika orang itu di bantu alat pelampung mungkin orang itu bisa selamat.

Jangan merasa bahwa permasalahn itu berat, jika dihadapi dengan kepala dingin dan tidak ego akan diri sendiri mungkin permasalahan itu akan terasa mudah dan biasa biasa saja. Bersyukurlah ketika kamu mempunyai suatu permasalahan karena disitu tuhan masih memperhatikan dan memberi kesempatan agar kamu tetap bisa berpikir, karena bagi saya ketika manusia tanpa permasalahan mungkin manusia itu sudah mati.

Namun ketika kamu berhasil belajar dari permasalahan mungkin perkembangan kamu akan terlihat sangat pesat dalam menyikapi kehidupan ini. Saya pernah membaca dan sampai saat ini mungkin kata-kata itu telah menjadi sebuah pemecut didalam kehidupan saya sehari-hari. Tan Malaka pernah bilang "terbentur, terbentur dan terbentuk". Jadi pada intinya setiap kita mempunyai masalah mungkin hati dan pikiran akan merasa terkikis oleh keadaan akan tetapi hkmah yang bisa kita dapat, hikmahnya kita akan terbentuk menjadi manusia yang kuat, setiap ada permasalahn memang selalu menguji manusia apa bisa berjalan dan melawan atau hanya terdiam dan mati dalam keadaan.

Jangan takut akan sebuah permasalahan. Bagi saya permasalahan itu sebuah anugerah yang Tuhan berikan karena dari permasalahan kita bisa belajar, belajar dan belajar lagi agar bisa menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya, yang bisa merubah pola pikir manusia itu cuman keadaan, karena bagi saya dewasa itu pilihan namun tua itu pasti.
Namun jangan lupa tetap berdoa kepada Yang Maha menciptakan segalanya. karena tanpa seizinya apa yang kita perjuangan juga akan terlihat sia sia.

Wednesday, July 4, 2018

Aku Mengerti

Aku tau semua ada waktunya.
Ada waktu untuk tersenyum, tertawa, menangis, berharap, semuanya akan kita alami.
Dan kini adalah waktunya untuk kembali mengerti tentang perjalanan yang sudah ditempuh.

senangkah ? sedihkah ? puaskah ? entahlah, aku hanya harus mengerti.
Tak bisa dipungkiri dalam setiap perjalanan pasti ada kekosongan diri. 
Mencoba melihat lingkungan  tapi apa daya, mungkin mereka lupa.
Oia, mungkin mereka lagi ada dalam surga imajinasi, tunggulah sampai ada di kawah berduri, pasti mereka datang mengantri.

Aku tersenyum. Mencoba melanjutkan langkah perjalanan. tapi kini jauh lebih lamban.
Tak apa, pikirku, yang penting bisa terus berjalan.
Namun langkahku benar-benar tertahan pada senbuah persimpangan.
Berdiri. 
Sendiri. 
Mengamati.
Ya, dalam perhentianku kali ini aku tidak hanya berdiri sendiri, tapi kini aku mengamati.
Aku tidak mau kalah untuk kesekian kalinya.
Kekalahan yang terus menghentikan langkahku.
Aku melihat hal-hal yang aku impikan menari-nari di sebrang persimpangan ini.
Kini aku mengerti.
Setiap persimpangan membawaku melihat perjalanan dan kembali fokus pada tujuan.
Aku bersyukur Tuhan membawaku kesini.
Kini Aku mengerti.
Aku harus terus berjalan meskipun dengan langkah yang lamban.
Aku bersyukur Tuhan membawaku kesini.
Kini Aku mengerti.
Betapa baiknya Tuhan yang menghentikan langkahku agar aku tidak salah melangkah.
Dia mau aku mengerti apa yang ada dalam perjalananku. Dia sangat peduli.
Kini Aku mengerti
Aku mengerti, Tuhan.
Aku mengerti.



Tuesday, July 3, 2018

Review Buku Half Os Us Is One For Us


Puji Tuhan, bersyukur banget akhirnya buku ini bisa selesai. Buku pertama yang saya tulis. Walupun memakan waktu yang cukup panjang, karena dalam pembuatannya disertai pembelajaran yang panjang juga. Terlebih dulu tentu saya mengucap syukur pada Tuhan buat setiap karya indah nya dalam hidup saya sehingga saya bisa berkarya melalui buku Half of Us Is One For Us  ini. Bersyukur juga buat keluarga serta teman-teman terdekat yang turut berperan dalam pembuatan buku ini.
            Buku ini merupakan pengembangan dari tulisan-tulisan yang sebelumnya sudah saya tulis di blog saya. Ada 6 tulisan yang saya ambil dan kembangkan dari blog yang saya tulis sebelumnya, ditambah dua tulisan baru di buku ini dalam chapter 7 (Raih Hak Bicara) dan chapter 8 (Dunia Harus Mengenalmu).
            Buku ini merupakan tulisan yang berasal dari pengetahuan, pemikiran, kisah hidup, dan yang pasti pengalaman yang membuat tulisan di dalam buku ini tidak hanya sebuah dongeng atau sekedar angan-angan yang tak terukur, tetapi sesuatu yang pernah saya alami dan saya ingin membagikannya kepada setiap orang lain, khususnya kalian yang membaca buku ini.
            Buku ini juga ditulis menggunakan bahasa sederhana yang akan mudah dipahami oleh setiap kita yang membacanya. Selain itu saya juga memberikan ruang khusus buat setiap kalian yang ingin berbagi kisah hidup yang sesuai dengan setiap chapter yang ada. Selanjutnya tulisan itu bisa kalian kirim melalui email yang kemudian akan saya muat dalam blog dan media sosial yang saya miliki.
            Bayangkan berapa banyak orang yang akan terinspirasi dari setiap pengalaman hebat yang kalian alami ? menyayangkan apabila pengalaman hebat itu hanya menjadi “konsumsi” pribadi. Akan jauh lebih bermakna jika kita bisa saling memperlengkapi satu sama lain dengan kisah hidup dan pengalaman-pengalaman hebat kita.
            Meskipun saya merasa bahwa buku ini merupakan karya yang maksimal yang dapat saya kerjakan, tapi saya juga menyadari bahwa buku ini belum sempurna adanya. Buku ini juga tidak terlepas dari kesalahan, dan saya sangat terbuka untuk setiap kritik dan saran serta masukan. Dan saya sangat berharap untuk setiap kalian bisa menyampaikan kritik dan saran nya untuk buku ini. Secara khusus saya berharap bahwa buku ini dapat menjadi jawaban, dan mampu menginspirasi kalian yang membacanya.

Friday, June 1, 2018

Panggung Pertunjukan

Panggung Pertunjukan


Saya sangat menyukai sepak bola, sejak duduk di bangku sekolah dasar, ini adalah olahraga sekaligus permainan yang ga pernah saya lewatkan. saya sempat punya keinginan beberapa kali untuk masuk sekolah sepak bola, tapi setelah ngobrol dengan orang tua dan berharap berharap bisa terwujud, ternyata keinginan itu tetap hanya menjadi sebuah angan karena tidak pernah terwujud sampai sekarang. Alasannya beragam sih ya, tapi yang paling saya inget dari orang tua saya dulu karena masuk sekolah sepak bola itu tidak menjanjikan apapun, jadi ya hanya seperti sekedar tempat bermain bola seperti biasa.

Masuk SMP tetap tidak tergantikan. Pagi ketika di kelas, saya udah keringetan dulu karena sebelum masuk kelas kadang saya main bola dulu sama temen-temen yang lain. Bahkan bisa berlanjut di jam istirahat dan pulang sekolah.

Dan disini lah perjalanan itu dimulai. Di bangku SMA. Momen dimana saya bisa ikut turnamen bola pertama saya. Walaupun bukan dalam bentuk pertandingan sepak bola di lapangan besar, dengan waktu 2x45 menit dan bermain sebelas orang. Saya memulai nya dengan mengikuti turnamen futsal. Sejak SMA saya aktif dalam mengikuti ekskul futsal ini.

Saya masih inget, saat itu di minggu terakhir di bulan mei, turnamen berlangsung selama 4 hari. Hari pertama adalah pertandingan pertama di babak penyisihan grup. Saat itu jumlah pemain dalam satu tim di turnamen itu adalah 10 orang. Di pertandingan pertama 9 orang pemain dalam tim saya semua mendapat porsi bermain, hanya saya yang tidak bermain sama sekali. Bagi saya dipertandingan pertama di hari pertama tidak mendapat porsi bermain sih ga masalah, karena mungkin pelatih melihat saya belum cukup siap untuk langsungf bermain di pertandingan pertama,

Keesokan hari nya, hari kedua turnamen futsal itu, lagi-lagi 9 orang pemain di tim saya bermain semua kecuali saya yang lagi-lagi tidak mendapat porsi bermain. Saya mulai kesel sebenernya tapi apa boleh buat, itu adalah keputusan pelatih, jadi saya harus bisa menghargainya, dan ditambah juga teman-teman saya yang lain mencoba meyakinkan saya bahwa pertandingan selanjutnya saya pasti dapet porsi untuk bermain.

Dan disinilah hari dimana saya tidak bisa menutupi kekecewaan saya di depan pelatih dan rekan-rekan saya yang lain. ya, hari ketiga turnamen itu, hari rabu tepatnya, hari dimana saya sangat berharap kesempatan saya bermain di turnamen futsal itu akan segera terwujud. babak pertama berakhir, tapi saya masih juga dipinggir lapangan. Sampai akhirnya babak kedua dimulai, saya masih menantikan kesempatan itu. saya beberapa kali melihat jam, sepertinya teman-teman saya yang lain mulai mengerti apa keingingan saya, dan sepertinya pelatihpun menyadarinya. Dan sampai akhir dari pertandingan di hari ketiga itu saya tetap tidak bermain !

Kami menang dalam pertandingan itu, semua pemain, pelatih, dan teman-teman yang datang mendukung semua menikmati kemenangan hari itu. berbeda dengan yang lain, saat itu saya langsung segera prepare barang-barang untuk segera pulang. Pulang dari kegitan futsal hari itu saya sempat bercerita semua kekecewaan saya ke teman sekelas saya sekaligus teman satu tim di tim futsal itu. saya marah ! saya kesel ! semua itu saya tuangkan dalam cerita saya ke teman saya. Teman saya tidak banyak menanggapi apa yang saya katakana, sepertinya dia tahu bahwa saya tidak membutuhkan jawaban apapun dari setiap keluhan saya, saya hanya ingin mengeluarkan nya saja.

Pertandingan di babak penyisihan grup berakhir, kami menyelesaikan semua pertandingan di penyidihan grup dengan hasil sangat memuaskna yakni tiga kali kemenangan yang berarti kami tak terkalahkan di babah penyisihan grup ini.

Akhirnya, di hari kamis, hari itu tim kami lolos di babak perempat final, kami semua datang dengan rasa optimis untuk menang dan melangkah ke babak semifinal, saya pun demikian, saya datang dengan rasa optimis yang tinggi, selain untuk menang, saya masih mengharapkan kesempatan saya bermain bisa datang di pertandingan hari itu.

Dan benar saja, sebelum babak satu berakhir, pelatih memanggil saya untuk segera bersiap memasuki lapangan pertandingan. Saya sempat kaget, saya tidak banyak melakukan persiapan sebelum masuk ke lapangan karena saya hanya berpikir apa yang harus saya lakukan setelah saya dilapangan pertandingan ? ini pertandingna pertama saya.

Sebelum masuk ke lapangan, saya masih inget banget, saya sudah dipinggil lapangan disisi garis out lapangan, dan dari lapangan pertandingan terdengar seseorang berteriak sangat kencang “ayoo hendrikk, masuk, masuk, bisa, bisa”. Saya masih inget saat itu saya dipinggir lapangan kebingungan mencari siapa yang berteriak, dan saya masih inget banget, dia adalah kapten tim yang biasa saya panggil dengan nama a’imam. Saya ga tau, dan ga ngerti kenapa, satu hal yang saya rasa saat itu, saya masuk lapangan itu dengan penuh rasa percaya diri, dan tidak lama saya ada di lapangan. saya langsung mencetak gol bahkan dengan cara yang tidak biasa.



Akhirnya hari itu datang juga. Momen yang kayanya udah lama banget saya tunggu-tunggu. Saya seakan mempertaruhkan semuanya disini. Ya dilapangan ini, dan ya ini panggung saya.

Saya merasa di lapangan inilah saya bisa menjadi apa yang saya mau.

Saya tidak bermain lama saat itu, namun dengan semangat yang diberikan, dan gol yang saya ciptakan, saya merasa itu semua menjawab kekesalan saya yang beberapa hari sebelumnya udah numpuk.

Bagi saya, kesempatan bermain saat itu meberikan pengalaman yang liar biasa dalam hidup saya, apa yang udah lama saya nantikan bisa terwujud.

Saya ga akan pernah lupa kejadian ini, dan kalau meliat dari “kacamata” yang lain, saya seperti melihat gambaran hidup saya dalam sebuah lapangan pertandingan futsal. Saya melihat kekecewaan, saya melihat kesempatan, saya melihat peluang, saya melihat keberhasilan, saya melihat banyak hal disini.

Dan yang membanggakan adalah saya pernah mengalaminya.

Lihat adakah ia yang meneriakimu,

Lihat adakah kesempatan itu datang ?

Atau haruskah melewatkan beberapa hal untuk menemui kesempatan dan waktu terbaik ?

Saya mengalaminya, saya seakan mempertaruhkan semuanya disini. Ya dilapangan ini, dan ya, ini panggung saya.


Nikmati pertunjukannnya