Tuesday, September 27, 2016

Tidak Ada yang Lengkap

Tidak Ada yang Lengkap

            Pernahkah kalian menemukan seseorang yang memiliki kemampuan rasa sabar yang tinggi, tidak egois, tidak mudah marah, selalu berpikir positif, selalu menyebarkan kasih, tidak pernah merendahkan orang lain, selalu mementingkan kepentingan orang lain, tidak pernah mengeluh dan hal-hal baik lainnya, yang menggambarkan kehidupan yang benar-benar sempurna ? sepertinya sulit, atau bisa dikatakan mustahil. Bayangkan jika semua manusia diciptakan seperti itu, dengan semua kebaikan yang dimilikinya, mungkin sekarang kita ga usah takut lagi dengan kejahatan atau kriminalitas yang sampai saat ini menjadi salah satu hal yang sangat meresahkan.

            Setiap kita pasti tetap saja memiliki beberapa sifat yang negatif. Setiap orang memiliki sikap egois yang berbeda-beda, begitu juga dengan tingkat kesabaran yang berbeda, itulah mengapa kita sulit sekali atau bahkan mustahil untuk bisa menemukan seseorang dengan kriteria seperti yang disampaikan di awal artikel ini. Jadi sebaik apapun kita, pasti tetap saja ada kekurangan yang Tuhan percayakan di hidup kita. Setiap orang berbeda, oleh sebab itulah kita membutuhkan orang lain, oleh sebab itulah kita disebut mahkluk sosial. Kita bisa belajar banyak hal yang tidak kita miliki dari orang lain.


            Sedikit cerita, beberapa tahun yang lalu, saya pernah dipercayakan untuk memimpin sebuah kepengurusan dalam sebuah kegiatan keagamaan. Saat pertama dipercayakan untuk memimpin, saya pernah berpikir bahwa mungkinkah saya bisa memimpin orang-orang yang bahkan cukup banyak juga yang lebih tua dari saya. Dalam kepengurusan itu saya bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang dengan sifat yang berbeda-beda. 

Ada yang sepaham dan tidak sedikit juga yang bertentangan. Dua tahun pertama saya merasa sepertinya tidak sesuai dengan apa yang seharusnya saya lakukan, lanjut ke dua tahun selanjutnya, di dalam wadah yang sama dengan orang-orang yang berbeda dalam kepengurusan, saya merasa bahkan tidak semakin baik (dari segi interaksi dan hubungan sosial) saya merasa bahwa dalam ketidakmengertian saya ini membawa saya menjadi seseorang yang seakan selau gagal dalam menjalankan tanggung jawab, yang saya pikirkan hanyalah bagaimana saya bisa menyelesaikan semua nya tanpa melalui proses nya ?

            Namun setelah selesai selalu ada buah pikir yang mengarahkan kepada hal-hal tersebut, banyak hal yang coba pikiran ini tawarkan, rasa intimidasi kegagalan, ucapan syukur keberhasilan semua nya bercampur untuk melengkapi pemikiran ini. Tapi satu hal yang sangat saya syukuri sekarang adalah, saya benar-benar bersyukur dengan apa yang pernah Tuhan percayakan, terutama dalam hal berorganisasi, kalau dulu yang sering keluar adalah respon yang ga bener, tapi saat ini saya melihat nya dengan ‘kacamata’ baru yang membuat saya selalu dapat mengucap syukur. Saya sangat bersyukur Tuhan pernah percayakan saya untuk bertemu dan bekerja sama dengan orang-orang yang berbeda tingkat ke-egoisan-nya, bersyukur pernah Tuhan percayakan untuk bertemu orang-orang dengan tingkat kesabaran yang berbeda pula.

            Semakin kesini, semakin banyak saya tahu, semakin saya mensyukuri semuanya. Satu hal yang selalu saya syukuri adalah bahwa, ketika Tuhan ‘memaksa’ saya untuk bertemu dengan orang-orang yang sangat berbeda sifat dan karakternya, Tuhan mau membawa saya menjadi pribadi yang lebih baik lagi, saya percaya bahwa dengan ‘ke-tidak lengkap-an’ saya, ketika saya bertemu dengan orang-orang yang berbeda hampir segalanya, justru Tuhan mau melengkapi saya dengan itu.

            Jadi, kita tahu bahwa tidak ada orang yang sikap dan karakternya benar-benar ‘lengkap’. Kita bisa menjadi lengkap dengan kita bisa terus berinteraksi dengan orang lain, belajar banyak hal dari orang lain.

            Percayalah bahwa orang-orang yang Tuhan percayakan ada disekitar kita saat ini, itu ada untuk melengkapi setiap kita, responi baik dan teruslah mengucap syukur.


“Kebersamaan adalah permulaan. Menjaga bersama adalah kemajuan. Bekerja bersama adalah keberhasilan”
 Henry Ford  

Tuesday, September 13, 2016

Sisipkan Ruang

SISIPKAN RUANG

                Seberapa banyak dari kita yang tidak punya harapan dalam hidupnya ? pertanyaan nya agak ‘mengerikan’ sih ya, mungkin hanya beberapa orang, atau hanya sedikit yang akan mengakui nya, atau bahkan tidak ada sama sekali. Gimana kalo pertanyaan nya diganti, seberapa banyak dari kita yang hidupnya penuh dengan harapan ? pasti semua orang akan menjawab dan mengakui nya.

                Hampir setiap orang pasti memiliki harapan dalam hidupnya. Dan harapan itu juga yang membuat seseorang mampu untuk terus bertahan hidup. Orang yang tidak mempunyai harapan dalam hidupnya mustahil untuk bisa bertahan hidup. Sebut saja beberapa kasus bunuh diri yang terjadi, biasanya dilatar belakangi oleh ketiadaan harapan dalam hidup nya. Sepertinya dunia ini ingin berkata bahwa “untuk apa hidup tanpa harapan ?” atau “hidup tanpa harapan = mati”

                Namun kita juga perlu tahu, bahwa masalah itu ada bukan saja karena ketiadaan harapan, justru terkadang karena harapan juga lah seseorang bisa saja mendapat masalah. Sebagai contoh seorang siswa yang berharap ingin mendapatkan prestasi terbaik di sekolah nya, tapi karena harapan nya tidak tercapai, maka timbul masalah baru dalam hidupnya. Jadi masalah juga bisa timbul ketika kita tidak dapat menggapai harapan tersebut. Kasus yang sama juga sering sekali kita jumpai di sekitar kehidupan kita, atau bahkan dalam diri kita sendiri.

                Mungkin sekarang kita perlu “hitung-hitung-an” sedikit, tidak perlu menggunakan alat hitung, cukup bayangkan saja

                 seberapa banyak kita membuat harapan ? seberapa banyak harapan itu tercapai ? dan seberapa banyak harapan yang justru tak sesuai harapan ?



                Terkadang masalah baru justru muncul saat kita menerima sesuatu yang tidak sesuai harapan. Mengapa ? karena ketika kita berharap penuh akan sesuatu, maka kita juga akan “mempertaruhkan” semua nya untuk mencapai harapan tersebut, dan ketika harapan itu gagal, semua yang kita “pertaruhkan” itu seakan hilang. Biasanya yang paling sering kita “pertaruhkan” untuk menggapai harapan itu adalah hati dan pikiran kita, dan saat kita pertaruhkan semua hati dan pikiran kita itu dan hasilnya gagal, kita akan merasa hilang pijakan untuk tetap bertahan, mengingat semua hati dan pikiran kita sudah kita “pertaruhkan”.

                Maka sekarang timbul pertanyaan baru, lalu apa yang salah ? tentu bukan harapan nya yang salah, bukan pula hati dan pikiran kita yang salah, melainkan ada hal yang kita lupakan ketika kita “mempertaruhkan” hati dan pikiran kita untuk menggapai harapan itu. Kita seakan lupa untuk “menyisipkan ruang” baru pada hati dan pikiran kita sebelum mempertaruhkan nya, kita lupa untuk “menyisipkan ruang ucapan syukur” di dalamnya. Sehingga ketika apa yang telah kita pertaruhkan itu gagal, maka hilang pula lah semua nya, namun jika kita mau untuk “menyisipkan ruang ucapan syukur” itu dalam hati dan pikiran kita maka, walaupun kita gagal dalam menggapai harapan kita, kita sudah siap dan akan berpijak pada “ruang baru” itu, yakni “ruang ucapan syukur”.

                Ketika kita melangkah dalam tujuan hidup kita, melangkah dengan penuh harapan akan mimpi dan cita-cita kita, selalu ingat untuk “sisipkan ruang” baru, ambilah waktu untuk melihat semuanya dengan cara pandang yang baru, cara pandang yang dipenuhi rasa ucapan syukur, sehingga kita akan tetap selalu ada di jalur yang tepat dalam jalur pencapaian harapan kita, walaupun Tuhan terkadang harus membenturkan harapan kita dengan rencana milik-Nya, kita bisa tetep punya respon yang benar, kita bisa tetep ada dalam pijakan dan “ruang” yang tepat.

Dan pastikan bahwa kita juga telah memilih “sumber” yang tepat untuk kita bisa menggantungkan harapan itu. Dan kita semua tentu tahu bahwa sumber harapan yang terbaik itu ada dalam tangan nya Tuhan.


“Selamat mencapai harapan, selamat menempuh perjalanan impian, dan selalu ingat untuk “ sisipkan ruang” ucapan syukur”