Tuesday, September 13, 2016

Sisipkan Ruang

SISIPKAN RUANG

                Seberapa banyak dari kita yang tidak punya harapan dalam hidupnya ? pertanyaan nya agak ‘mengerikan’ sih ya, mungkin hanya beberapa orang, atau hanya sedikit yang akan mengakui nya, atau bahkan tidak ada sama sekali. Gimana kalo pertanyaan nya diganti, seberapa banyak dari kita yang hidupnya penuh dengan harapan ? pasti semua orang akan menjawab dan mengakui nya.

                Hampir setiap orang pasti memiliki harapan dalam hidupnya. Dan harapan itu juga yang membuat seseorang mampu untuk terus bertahan hidup. Orang yang tidak mempunyai harapan dalam hidupnya mustahil untuk bisa bertahan hidup. Sebut saja beberapa kasus bunuh diri yang terjadi, biasanya dilatar belakangi oleh ketiadaan harapan dalam hidup nya. Sepertinya dunia ini ingin berkata bahwa “untuk apa hidup tanpa harapan ?” atau “hidup tanpa harapan = mati”

                Namun kita juga perlu tahu, bahwa masalah itu ada bukan saja karena ketiadaan harapan, justru terkadang karena harapan juga lah seseorang bisa saja mendapat masalah. Sebagai contoh seorang siswa yang berharap ingin mendapatkan prestasi terbaik di sekolah nya, tapi karena harapan nya tidak tercapai, maka timbul masalah baru dalam hidupnya. Jadi masalah juga bisa timbul ketika kita tidak dapat menggapai harapan tersebut. Kasus yang sama juga sering sekali kita jumpai di sekitar kehidupan kita, atau bahkan dalam diri kita sendiri.

                Mungkin sekarang kita perlu “hitung-hitung-an” sedikit, tidak perlu menggunakan alat hitung, cukup bayangkan saja

                 seberapa banyak kita membuat harapan ? seberapa banyak harapan itu tercapai ? dan seberapa banyak harapan yang justru tak sesuai harapan ?



                Terkadang masalah baru justru muncul saat kita menerima sesuatu yang tidak sesuai harapan. Mengapa ? karena ketika kita berharap penuh akan sesuatu, maka kita juga akan “mempertaruhkan” semua nya untuk mencapai harapan tersebut, dan ketika harapan itu gagal, semua yang kita “pertaruhkan” itu seakan hilang. Biasanya yang paling sering kita “pertaruhkan” untuk menggapai harapan itu adalah hati dan pikiran kita, dan saat kita pertaruhkan semua hati dan pikiran kita itu dan hasilnya gagal, kita akan merasa hilang pijakan untuk tetap bertahan, mengingat semua hati dan pikiran kita sudah kita “pertaruhkan”.

                Maka sekarang timbul pertanyaan baru, lalu apa yang salah ? tentu bukan harapan nya yang salah, bukan pula hati dan pikiran kita yang salah, melainkan ada hal yang kita lupakan ketika kita “mempertaruhkan” hati dan pikiran kita untuk menggapai harapan itu. Kita seakan lupa untuk “menyisipkan ruang” baru pada hati dan pikiran kita sebelum mempertaruhkan nya, kita lupa untuk “menyisipkan ruang ucapan syukur” di dalamnya. Sehingga ketika apa yang telah kita pertaruhkan itu gagal, maka hilang pula lah semua nya, namun jika kita mau untuk “menyisipkan ruang ucapan syukur” itu dalam hati dan pikiran kita maka, walaupun kita gagal dalam menggapai harapan kita, kita sudah siap dan akan berpijak pada “ruang baru” itu, yakni “ruang ucapan syukur”.

                Ketika kita melangkah dalam tujuan hidup kita, melangkah dengan penuh harapan akan mimpi dan cita-cita kita, selalu ingat untuk “sisipkan ruang” baru, ambilah waktu untuk melihat semuanya dengan cara pandang yang baru, cara pandang yang dipenuhi rasa ucapan syukur, sehingga kita akan tetap selalu ada di jalur yang tepat dalam jalur pencapaian harapan kita, walaupun Tuhan terkadang harus membenturkan harapan kita dengan rencana milik-Nya, kita bisa tetep punya respon yang benar, kita bisa tetep ada dalam pijakan dan “ruang” yang tepat.

Dan pastikan bahwa kita juga telah memilih “sumber” yang tepat untuk kita bisa menggantungkan harapan itu. Dan kita semua tentu tahu bahwa sumber harapan yang terbaik itu ada dalam tangan nya Tuhan.


“Selamat mencapai harapan, selamat menempuh perjalanan impian, dan selalu ingat untuk “ sisipkan ruang” ucapan syukur”

No comments:

Post a Comment