Thursday, April 29, 2021

Tawa, Kematian dan Kembang Api

 Tawa, Kematian dan Kembang Api


Pada suatu ketika di negeri Cina kuno hiduplah tiga orang biksu tua. Nama mereka tidak diingat sampai hari ini karena mereka tidak pernah mengungkapkannya kepada siapa pun. Di Cina mereka hanya dikenal sebagai tiga biksu yang tertawa.

Mereka selalu bepergian bersama dan tidak melakukan banyak hal lain kecuali tertawa. Mereka memasuki desa atau kota lalu berdiri di tengah alun-alun/pusat kota utamanya dan mulai tertawa. Perlahan tapi pasti orang yang tinggal dan bekerja di sana serta orang-orang yang lewat tidak bisa menahan dan mulai turut tertawa juga. sampai keriuhan tawa mengumpul seperti sebuah kelompok kecil sampai akhirnya tawa itu menyebar ke seluruh desa atau kota. Saat itu tiga biksu tua pindah ke desa berikutnya. Tawa mereka adalah satu-satunya doa dari semua pengajaran mereka karena mereka tidak pernah berbicara dengan siapa pun. Mereka baru saja menciptakan situasi itu.

Mereka dicintai dan dihormati di seluruh wilayah Cina. Orang-orang tidak pernah tahu seperti itu guru spiritual sebelumnya atau setelahnya. Mereka sepertinya memberitakan bahwa menjalani kesempatan dalam kehidupan itu harus dijalani sama seperti kesempatan untuk tertawa. Semudah itu. Seolah-olah mereka telah menemukan sejenis lelucon ‘kosmik’. Oleh sebab itu mereka bepergian dan terus tertawa selama bertahun-tahun menyebarkan kegembiraan dan kebahagiaan ke seluruh penjuru Cina, sampai suatu hari, saat berada di sebuah desa tertentu di provinsi utara, salah satu dari mereka meninggal. Orang-orang teerkejut dan berdatangan dari jauh. Meninggalkan ladang tanpa pengawasan untuk beberapa hari hanya untuk menyaksikan dua biksu lainnya dan bagaimana reaksi mereka terhadap peristiwa dramatis ini.

Orang-orang mengharapkan mereka menunjukkan kesedihan atau bahkan menangis dan seluruh desa datang ke tempat itu dimana ketiga biksu itu berada. 2 masih hidup dan satunya telah meninggal. Namun dua biksu yang tersisa justru tertawa lebih keras. Mereka tertawa dan tertawa dan tidak bisa berhenti. Sehingga beberapa dari orang-orang itu mendekati mereka dan bertanya mengapa mereka tidak berduka sama sekali untuk teman mereka yang telah meninggal. Kemudian salah satu dari biksu itu mencoba menanggapi, “Alasan kamu tidak bersedih atau bahkan menangis adalah karena kemarin dalam perjalanan menuju desa kalian, dia mengusulkan taruhan tentang siapa di antara kita yang mau mengalahkan dua lainnya dan mati lebih dulu dan sekarang dia menang. Orang tua sialan” lanjutnya mencoba menanggapi santai. Dia bahkan punya wasiat. Dalam tradisinya bahwa diharuskan untuk membasuh orang mati dan mengganti bajunya sebelum menempatkannya di tumpukan kayu pemakaman, tapi biksu tua itu secara eksplisit memintanya tinggalkan pakaian lama itu padanya karena dia tidak pernah kotor sehari pun. “Saya tidak pernah membiarkan semua kotoran dalam dunia untuk menjangkau-ku, melalui tawa-ku.”, itulah yang tertulis dalam pernyataan wasiatnya.


Jadi tubuh lelaki tua itu diletakkan di atas tumpukan kayu api dengan pakaian yang dia kenakan saat dia tiba. Dan saat api menyala dan mulai membakar pakaiannya. Semua orang keheranan. Tiba-tiba bermunculan kembang api dengan ratusan warna meledak ke segala arah. Akhirnya orang-orang yang berkumpul di sana juga ikut tertawa dengan dua orang bijak itu.

Lihatlah, dalam hidup, dalam hidup kita, mungkin satu-satunya alasan kita ada di sini, di bumi ini, agar kita bisa tertawa dan tertawa dan tidak pernah berhenti mengalami kegembiraan dan tawa. Jadi, lain kali, jika kita menghadapi masalah, bercerminlah dan ‘tertawalah’, biarkan masalah pergi karena tawa kegembiraan dan sukacitamu. Itulah yang membuatmu hidup. Bersukacitalah senantiasa.


Wednesday, April 28, 2021

Hanya Semangkuk Nasi

Hanya Semangkuk Nasi 


Pada suatu ketika hiduplah seorang pria bijak yang dikenal karena memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah yang sulit. Suatu hari dia kedatangan dua pengunjung yang membutuhkan nasihatnya. Mereka berdua adalah pria muda yang sopan dan masing-masing dari mereka bersikeras saling melempar giliran untuk bertanya lebih dulu kepada orang bijak tersebut.

Setelah beberapa diskusi akhirnya mereka menyimpulkan bahwa pada dasarnya pertanyaan mereka sama. Jadi mereka memutuskan untuk berbicara pada orang bijak itu secara bersamaan. Salah satu pemuda itu bertanya pada tuan bijak, “masalah kita serupa, kita berdua hanyalah karyawan level rendah yang diperlakukan buruk di tempat kerja. Bahkan kami tidak dihormati sama sekali dan atasan kami terus-menerus menekan kami, bisakah Anda memberi kami solusi, haruskah kami harus berhenti dari pekerjaan kami?”


Orang bijak itu menutup matanya dan bermeditasi. Cukup lama kedua pemuda itu menunggu dengan sabar sampai akhirnya orang bijak itu membuka matanya, dia memberi mereka jawaban dalam tiga kata “hanya semangkuk nasi” Mendengar jawaban itu, kedua pemuda tersebut berterima kasih kepada orang bijak dan segera pulang.

Mereka mulai merenungkan jawabannya saat mereka berjalan kembali pulang ke kota setelah beberapa saat salah satu dari mereka memecah sunyni dalam perenungan mereka. “Menarik, bagaimana menurutmu jawaban orang bijak itu?” Pemuda lainnya menanggapi dengan bijak, “cukup jelas bahwa mangkuk nasi mewakili makanan sehari-hari kita”

“Saya setuju” Kata pemuda pertama, “menurutku dia memberi tahu kita bahwa pekerjaan itu tidak lebih berarti dari sekedar mencari nafkah.” “ya, jika kamu benar-benar ingin melakukannya, hanya itu yang kami dapatkan dari pekerjaan yaitu makanan sehari-hari kita” Akhirnya mereka memilih untuk mengambil keputusan yang berbeda. Salah satu dari mereka terus bekerja di tempat yang sama sedangkan yang lain menyerahkan surat pengunduran diri.

Segera setelah dia kembali, dia pulang ke pedesaan dan kembali ke kehidupan nya untuk bertani. Setelah beberapa tahun pemuda ini mencapai kesuksesan yang cukup besar sebagai petani. Dia menggunakan apa yang telah dia pelajari di kota, mengimpor benih. Buah dan sayur yang dia tanam menjadi tanaman yang tumbuh dengan kualitas yang tinggi bahkan dikenal sebagai yang terbaik di kawasan ini. Dia tidak hanya menikmati keuntungan besar tetapi juga mendapatkan reputasi sebagai seorang ahli dalam pertanian.

Pemuda yang lain yang bertahan di tempat kerja juga melakukan nya dengan baik. Ia melakukannya dengan baik seolah-olah dia menjadi “seseorang yang berbeda”. Dia mengambil tugas yang sulit dan memperlihatkan kemampuan untuk menangani kesulitan. Dia naik pangkat dan menerima promosi sampai dia menjadi seorang manajer.

Suatu hari mereka berdua bertemu lagi. Mereka dipertemukan dalam sebuah kesempatan yang tidak terduga. Setelah mereka bertemu satu sama lain mereka menyadari bahwa mereka telah mengambil dua jalur yang sangat berbeda. Berdasarkan jawaban yang sama persis dari orang bijak yang mereka temui sebelumnya. Mereka berdua kaya dan bahagia tapi sebenarnya jalan mana yang paling benar?

“Sungguh aneh” Ucap manajer itu, bingung.

“Orang bijak itu mengatakan hal yang sama untuk kita dan kita berdua mendengarnya dengan cara yang sama juga, lalu mengapa kamu berhenti?” Petani itu juga bingung.

Aku segera mengerti kata-katanya orang bijak itu bahwa pekerjaan itu tidak lebih dari sekedar sarana untuk mendapatkan makanan sehari-hari. Jadi mengapa memaksakan diri untuk tinggal di situasi yang mengerikan hanya untuk semangkuk nasi? Berhenti itu adalah jelas keputusan yang tepat untuk dilakukan. Mengapa kamu bertahan?” Tanya Petani. “Aku juga berpikir demikian” Manajer itu tertawa. “Pekerjaan itu tidak lebih dari semangkuk nasi, jadi kenapa aku harus jadi begitu kesal?”

Segera setelah aku mengerti ini, aku menyadari tidak perlu bagiku untuk menjadi begitu kesal. Meskipun aku menerima banyak pelecehan dan dianggap rendah, Aku tidak harus menaggapi nya secara personal. Jadi tentu saja aku bertahan pada pekerjaan itu. Bukankah itu yang orang bijak itu maksud? “Sekarang Aku benar-benar bingung” Ucap Petani, menanggapi. “Apakah yang dia maksud itu adalah jalanmu atau jalanku? Mari kita pergi dan menemuinya lagi”

Sekali lagi mereka menemui orang bijak itu dan menjelaskan alasan kunjungan mereka. “Seperti yang Anda lihat tuan, kami benar-benar ingin tahu arti sebenarnya dari nasihat Anda bertahun-tahun yang lalu. Dapatkah Anda memberi kami?” Lagi, orang bijak itu memejamkan kedua matanya. Dan kembali kedua pemuda menunggu dengan sabar seperti sebelumnya.

Setelah selesai, orang bijak membuka matanya dan memberi mereka jawabannya lagi dalam tiga kata. “Hanya perbedaan pemikiran.”

Kalian mengerti? Lihatlah, dalam hidup kita, kita semua memiliki jalan masing-masing untuk diikuti. Keadaan pikiran kita sama seperti sungai mengalir menuruni bukit. Tidak peduli arah mana yang akan kita ambil, kita akan sampai pada tujuan kita. Kebahagiaan tiap-tiap oorang memiliki caranya sendiri. Jadi, pergilah dan raih kebahagiaan kita. Itu hanya semangkuk nasi.


Thursday, April 22, 2021

Resonansi Dalam Mangkuk

 Resonansi Dalam Mangkuk


Pada suatu ketika ada seorang pria yang sedang mencari mangkuk dengan kualitas yang bagus. Jadi dia pergi ke toko porselen paling terkenal di kota. Untuk menguji kualitas mangkuk tersebut, dia mengambil salah satu dari mangkuk itu dan membenturkan nya dengan lembut dengan mangkuk yang lainnya.

Tes nya adalah sebagai berikut: Saat membenturkan mangkuk yang satu dengan mangkuk yang lain, jika dia bisa mendengar resonansi yang indah, maka dia tahu bahwa dia telah menemukan mangkuk yang bagus.

Tampaknya pria itu tidak beruntung pada percobaan pertamanya, karena suara yang tercipta justru membosankan. Dia mencoba yang kedua tidak berhasil juga. Kemudian dia mencoba yang ketiga dan yang keempat betapa mengecewakannya. Tidak ada mangkuk yang dipamerkan yang mampu menimbulkan resonansi yang indah, suara indah yang sangat ia nantikan.

Ahli pengrajin tua itu melihat nya, dan tau bahwa pria itu terlihat kebingungan. “Hai, anak muda” Sapa ahli pengrajin tua itu. Sambil mengambil salah satu mangkuk lain yang ada di pajangan di toko itu. “Mengapa Anda tidak menggunakan mangkuk ini untuk menguji nya? bukan yang di tangan Anda.” Lanjutnya, memberi saran.

Jadi pria itu melakukan apa yang dikatakan orang tua itu dan sekarang saat dia membenturkan mangkuk itu dengan mangkuk lainnnya yang dipajang di toko tersebut. Setiap mangkuk seolah ‘bernyanyi’.  “Mangkuk-mangkuk ini berhasil menghasilkan resinansi yang bagus” Ucap pria itu. Senang.

“Tapi kenapa dalam percobaan sebelumnya aku tidak bisa mendengar resonansinya?” Tanya pria itu kebingungan.

“Karena mangkuk yang kamu gunakan untuk untuk menguji nya adalah mangkuk yang cacat” Kata tuannya, “Maafkan aku tapi itu salah satu yang rusak dan akan dibuang” Lanjutnya.

Tidak kah kita sadari? Dalam hidup, dalam hidup kita, kita tidak bisa mengharapkan mendapatkan resonansi dari mangkuk yang lain, jika mangkuk yang kita miliki adalah mangkuk yang buruk, cacat atau bahkan mangkuk yang sudah sepantasnya dibuang. Tak jarang hal itu juga terjadi dalam kehidupan kita.

How can u expect love if u cant love?

How can u expect the beauty, if you only see “the ugly” in everyone else?

How can u see the truth, if you yourself just lie?

Give to receive ‘n life will be yours



Wednesday, April 21, 2021

Ahli Teh dan Seorang Samurai

Ahli Teh dan Seorang Samurai

 

Pada suatu ketika di gunung hiduplah sang ahli teh yang terkenal keahliannya. Dalam seni ini tak tertandingi dan banyak yang datang dari jauh untuk duduk di rumah tehnya. Tetapi suatu hari seorang samurai yang tidak sabar terbakar lidahnya marah pada teh hijau tuannya, dia menantang tuannya untuk berduel.

Saat prajurit itu menghunus pedangnya, tuannya berpaling ke murid mudanya. Saya tidak melakukan apa-apa selain membuat teh seumur hidup saya. Duel ini pasti akan menjadi akhir dari hidup saya. Rumah teh ini akan menjadi milikmu, muridku. Siswa itu berteriak dan menangis, “tidak tuan, ambil pedangku ini, berjuanglah. Angkat pedang ini sama seperti engkau mengangkat teko teh mu itu.”


Sang master berjalan perlahan ke arah halaman dan samurai itu bergegas untuk menyerang. Lalu tuannya menutup matanya dan mengangkat senjatanya mengarah ke surga dengan ‘anggun’ dan dengan kekuatan yang sama seperti ketika dia melakukan ritual minum teh nya.

Melihat keseimbangan yang dilakukan oleh ahli teh itu, sang samurai panik dan berpikir orang tua ini pasti ahli pedang. Samurai itu pergi melarikan diri dari rumah teh tersebut dan tidak pernah kembali lagi.

Kalian lihat? Dalam hidup kita, untuk benar-benar menguasai satu keterampilan jauh lebih baik daripada mencoba belajar berbagai keterampilan. Untuk tampil lebih tangguh di dunia ini kita perlu terus-menerus ‘ditekan’ untuk melakukan banyak tugas dan mampu beradaptasi dengan situasi apa pun. Namun apa yang benar-benar membuat sesuatu hal itu efektif dalam bekerja dan bermain adalah menemukan apa yang benar-benar kita kuasai dan mencurahkan energi sebanyak mungkin untuk mengembangkan diri kita dalam hal tersebut.

Jadi singkirkan semua rintangan, lakukanlah apa yang ingin kita lakukan dan nikmatilah.

Serta percaya pada keahlian unik kita tersebut mampu membuat kita melewati situasi apa pun dalam kehidupan kita.


Tuesday, April 20, 2021

Doa di tengah Pulau

Doa di tengah Pulau


Pada suatu ketika sebuah kapal pesiar rusak selama badai di laut dan hanya dua orang di dalamnya yang bisa berenang ke pulau kecil pulau seperti gurun. Hanya dua orang yang selamat yang merupakan teman baik yang tidak tahu apa lagi yang harus dilakukan. Mereka setuju bahwa mereka tidak punya pilihan lain selain untuk berdoa kepada Tuhan. Namun untuk mengetahui doa siapa yang lebih “jitu”, mereka setuju untuk membagi wilayah di antara mereka dan tinggal di seberang pulau.


Hal pertama yang mereka doakan adalah makanan. Keesokan paginya orang pertama melihat ada sebuah pohon yang berbuah lebat di sisi pulau dan dia bisa memakan buahnya. Sebidang tanah orang lain tetap ada namun tandus. Setelah seminggu, orang pertama merasa kesepian dan dia memutuskan untuk mendoakan seorang istri. Keesokan harinya kapal lain karam dan satu-satunya yang selamat adalah seorang wanita yang berenang ke sisi wilayahnya di sisi lain pulau di sana tidak terjadi apa-apa.

Segera orang pertama berdoa untuk sebuah rumah, pakaian dan lebih banyak makanan. Keesokan harinya, seperti sihir semua hal itu diberikan kepadanya tapi orang kedua masih tidak punya apa-apa. Akhirnya orang pertama berdoa untuk sebuah kapal sehingga dia dan istrinya bisa meninggalkan pulau di pagi hari.

Dia menemukan sebuah kapal berlabuh di sisi wilayah di pulau itu. Orang pertama naik ke kapal beserta istri dan memutuskan untuk meninggalkan pria kedua di pulau yang dia anggap bukan manusia dan tidak layak untuk menerima berkah Tuhan karena tidak ada doanya yang telah dijawab.

Dan ketika kapalnya akan pergi, orang pertama mendengar suara dari surga, “booming”

“Mengapa Anda meninggalkan rekan Anda di pulau tersebut?”

“Berkat saya adalah milik saya sendiri, karena sejak dulu saya lah yang berdoa untuk semua itu.” Jawab orang pertama.

“Berbeda dengan doa orang kedua, doanya semua tidak dijawab dan sebagainya dia tidak pantas mendapatkan apapun.” Lanjutnya menjawab.

“Anda salah.” Suara itu menegurnya. “Dia hanya punya satu doa yang saya jawab, jika bukan karena itu, Anda tidak akan bisa menerima semua berkat yang saya berikan.” Lanjutnya lagi.

“Katakan padaku apa doa orang kedua itu?” Tanya orang pertama, penasaran.

“Dia berdoa semoga semua doamu terjawab” Jawabnya.

Kalian lihat? Dalam hidup ini sementara kita hidup berdampingan dengan keluarga kita dan juga sebelum kita berdoa untuk diri kita sendiri, jangan lupa untuk mendoakan teman kita juga.

Berdoalah, tapi jangan hanya fokuskan doa kita itu hanya untuk diri kita sendiri.

Peka-lah, doakan juga lingkungan dan teman-teman kita.


Monday, April 19, 2021

Menaklukan Samurai


Menaklukan Samurai


Pada suatu ketika di Jepang kuno seorang siswa muda tinggal di kuil bergengsi. Ia melayani Zen Master yang paling terkenal pada masanya dan dengan demikian ia juga bisa mempelajari kehidupan Zen Master tersebut. Siswa itu adalah seorang yang sangat rajin dan selalu melakukan yang terbaik untuk menyenangkan tuannya dan layak mendapatkan pelajaran dari Zen Master itu.

Zen Master itu juga puas dengan muridnya dan suatu hari dia memutuskan untuk mempercayakannya dengan tugas penting. Ia ditugaskan untuk mengirim surat untuk seseorang di kota Kyoto secepat mungkin. Dalam keadaan apa pun surat itu bisa saja hilang atau bahkan jatuh ke tangan yang salah. Ini sangat penting. Tanpa membuang banyak waktu siswa itu mengemasi beberapa bekal dan sebilah pedang. Dia bepergian dengan cepat untuk beberapa waktu sampai dia mencapai sungai dengan jembatan sempit di atasnya di jembatan berdiri seorang samurai yang telah bersumpah untuk menantang 100 orang pertama laki-laki siapa pun yang akan mencoba untuk menyeberang.

Samurai itu sudah membunuh 99 orang dan dia bersemangat untuk menyelesaikan tugasnya dengan membunuh siswa muda ini. “Anda sudah menginjak jembatan ini, sekarang Anda harus melawan saya untuk mempersiapkan diri mati” Dia berteriak kepada siswa muda yang ketakutan itu. Siswa muda itu teringat akan surat yang ia bawa, dia memohon samurai untuk mengizinkannya lewat untuk membawa surat itu kembali ke tuannya dan bersumpah bahwa dia akan kembali untuk menemui takdirnya.

Samurai itu mengabulkan keinginannya dan menijinkan siswa muda itu untuk melewati jembatan untuk mengantar surat. Sesuai kesepakatan yang telah dibuat. Sepanjang jalan siswa muda itu memikirkan tentang hal-hal yang mengerikan. Sesampainya di Kyoto, ia menceritakan apa yang dia hadapi di perjalanan ketika mengantar surat itu dengan harapan bahwa dia akan membantunya.

Tuan hanya berkata “tidak mungkin kamu bisa mengalahkan samurai dalam pertarungan pedang jadi kamu akan mati. Aku akan memberitahumu cara yang terbaik untuk menemui kematianmu. Ketika kamu mencapai jembatan, angkat pedangmu di atas kepala dan tutup matamu lalu diam dan tunggu saat kamu merasakan sesuatu yang dingin menyentuh tengkorakmu, itu akan menjadi kematianmu.

Sekali lagi siswa tersebut meninggalkan kuil. Kali ini bersiap untuk menemui ajalnya. Begitu ketika dia mencapai jembatan dan melihat seorang samurai yang menunggunya, dia melakukannya dengan tepat seperti yang diperintahkan oleh tuannya tadi. Dia mengangkat pedangnya di atas kepala lalu menutup matanya dan menunggu sentuhan dingin kematian

Ketika samurai melihatnya seperti itu, dia tiba-tiba berpikir bahwa siswa muda itu pasti telah bertemu master yang benar-benar hebat karena dia tidak pernah melihat sikap seperti itu dengan mata tertutup atau ketenangan sebelum pertarungan. Segera samurai itu menjatuhkan pedangnya sendiri dan mendatangi dia sambil berkata “oh tuan yang hebat maafkan kelalaian saya dan biarkan saya menjadi hamba-mu dan untuk mempelajari penguasaan pedang sebenarnya dari darimu”

Kalian lihat? Dalam hidup ini. terkadang kita menemukan diri kita sendiri ada dalam situasi dimana sepertinya tidak ada jalan keluar. Namun di saat-saat seperti itu kita harus melakukannya dengan tetap tenang dan konsentrasi menjadi 100%. Bayangkan jika siswa muda itu akan menangis dan memohon untuk hidupnya, samurai itu kemungkinan besar akan menertawakannya dan memotongnya menjadi beberapa bagian. Jika siswa tersebut meminta dia untuk membiarkan dia melewati jembatan itu dengan upaya yang putus asa untuk menyerangnya, hasilnya mungkin adalah sama. Namun siswa itu bereaksi dengan tenang dan menampilkan Zen yang sangat tinggi bahwa dia lebih unggul dari samurai tersebut dan dengan demikian samurai membungkuk di depan siswa karena dia sebagai seorang samurai memperhatikan segera bahwa dia telah menemukan seseorang yang unggul dalam menguasai Zen pada siswa muda itu.

Jadi tidak peduli seberapa buruk situasi yang kita hadapi atau mungkin tidak peduli betapa putus asa kita akan keadaan, kita bisa mengingat cerita siswa muda tadi untuk menutup mata kita dan tetap tenang maka  ‘samurai’ akan membungkuk di depan kita juga.

Wednesday, April 7, 2021

Tidur Di Tengah Badai

Tidur Di Tengah Badai

 

Sekali waktu di italia hiduplah seorang petani. Dia adalah seorang pria yang baik dan pekerja keras yang memiliki pertanian yang bagus dan makmur yang merupakan pencapaian seumur hidupnya. Sama seperti kita semua,  semua waktu yang telah ia habiskan dan lalui, tidak bisa terulang kembali. Setiap hari dia seperti menaruh sedikit beban tambahan ke bahunya. Selalu melakukan upaya yang lebih dalam hidupnya. Sangat melelahkan.

Suatu hari dia memutuskan untuk menemukan seseorang yang bisa membantunya mengelola pertaniannya. Orang itu harus memiliki rasa percaya diri dan peduli terhadap pertaniannya.

Jadi, suatu hari petani itu menunggangi kudanya dan pergi ke desa terdekat dengan maksud mencari seseorang yang dia butuhkan. Sambil melihat sekeliling alun-alun, dia melihat seorang pemuda. Dia tinggi tapi juga cukup kurus. Satu-satunya pria muda yang ada di sana. Jadi petani itu memutuskan untuk menemuinya.

“Saya mencari seseorang yang bisa membantu saya dengan pertanian saya, apakah Anda sedang mencari pekerjaan?”

“Saya tidak keberatan sama sekali Pak.” Pemuda itu menjawab.

“Apakah Anda memiliki pengalaman mengerjakan tugas-tugas pertanian?” Tanya petani itu.

“Saya bisa tidur selama badai malam” Jawab pemuda tersebut.

“Maaf..?” Petani itu membalas sambil terkejut.

“Saya bisa tidur selama badai malam.” Dia kembali menjawab dengan jawaban sebelumnya dengan tenang.

Petani itu mengira bahwa pemuda ini entah bagaimana pasti mengalami gangguan, jadi dia meninggalkannya di sana dan melanjutkan berkeliling di kota.

Sepanjang hari dia berjalan di jalanan kota kecil itu tetapi dia tidak dapat menemukan siapa pun yang mau bekerja di pertaniannya.

Saat malam menjelang petani itu kembali ke alun-alun untuk mendapatkan kudanya dan menuju pulang ke pertaniannya. Sesaat dia memperhatikan bahwa pemuda jangkung yang sebelumnya ia temui masih duduk disana.

“Siapa namamu?” Dia mencoba menyapa nya lagi dengan pendekatan yang berbeda.

“Ferman Campolios” Pemuda itu menjawab.

Sebagai petani yang telah lelah dan pasrah, dia pikir itu tidak akan membuat perubahan apapun untuk mencobanya lagi.

“Fairman Campolius, bisakah Anda mengerjakan pekerjaan pertanian?” Dia bertanya.

“Saya bisa tidur selama badai malam” Sekali lagi, ia menjawab dengan jawaban yang sama.

Dia tidak berpikir panjang, karena tidak mempunyai banyak pilihan lain. Akhirnya petani itu mengajak permuda tersebut ke pertaniannya. Pemuda itu terlihat cukup bahagia untuk mengikutinya.

Beberapa minggu berlalu, Ferman Campolius itu bekerja di pertanian tetapi petani itu tidak benar-benar memiliki waktu yang cukup untuk memeriksanya sejak dia sibuk sendiri sampai jam satu

Malam.

Suatu malam, badai dahsyat meletus, petani itu tahu angin akan meniup dan menakuti ternak serta meledakkan gerbang gudangnya dan serta kandang-kandang hewan peliharaannya. Jadi, dia bergegas ke kamar Ferman Campolio untuk membangunkannya.

“Ferman Campolius, bangun!!” Dia berteriak saat badai menderu di luar, tapi tetap saja dia tidak menerima jawaban Ferman Campolios.

Sekali lagi dia berteriak putus asa dengan hasil yang sama jadi dia pergi ke kandang seorang diri dan siap untuk menghadapi malapetaka ketika dia melihat kandang kuda dan gerbang gudang keduanya ditutup jerami dan karung pakan semuanya diperbaiki dengan baik dan hewan-hewan itu aman dan sehat di dalam kandang mereka.

senyum muncul di wajah petani tua itu. Campolius benar-benar bisa tidur selama malam badai.

Kalian lihat? Dalam hidup ini, jika kita tahu apa yang kita lakukan, jika kita siap, maka kita juga bisa ‘tidur dalam badai’ apa pun. Tidak peduli apa yang kita lakukan dalam hidup, tetap tenang dan selalu bersiaplah untuk melakukan pekerjaan kita dan tahu akan tanggung jawab itu.

Cerita pemuda italia itu sangat sederhana tapi memiliki nilai yang besar. Saat ditanya tentang pengalaman bekerja untuk di pertaniaan si Petani tersebut, dia hanya menjawab bahwa dia bisa tidur di badai malam. Dan dia benar-benar melakukannya. Bahkan dengan sangat baik.

Semua tanggung jawab yang diberikan oleh si Petani dapat diselesaikan dengan sangat baik. Bahkan di tengah badai malam pun (situasi yang kacau), dia bisa tidur dengan tenang, tanpa ada tanggung jawab yang terlewatkan.

Menarik.

So, sudah siap tetap tidur tenang di tengah badai malam?