Friday, July 13, 2018

Jujur (kah)

Cermin itu jujur, Ia menampilkan apa adanya, apa yang terlihat, itulah yang ditampilkan. Sepertinya ia melakukannya tanpa upaya. hanya menjadi "dirinya", seperti apa yang memang seharusnya.
Cermin jauh lebih jujur dari kita ketika kita hanya mengatakan apa yang ingin didengar.
Cermin jauh lebih jujur dari kita ketika kita hanya melakukan apa yang sebenarnya tidak ingin dilakukan.
Cermin jauh lebih jujur dari kita ketika kita hanya memikirkan apa yang sebenarnya bukan keinginan.

Kita bisa memilih apa yang ingin kita dengar.
Kita bisa memilih apa yang ingin kita lakukan.
dan, pasti, Kita bisa memilih apa yang ingin kita pikirkan.
tapi coba datanglah.
berhadapan dengannya.
masih sama kah?

Kita akan melihat banyak hal yang tak terkatakan, namun kita mengerti.
Ia tidak seperti air di genangan air yang mampu menampilkan apa yang terlihat, tapi, air dalam genangan air bisa buyar oleh sesuatu yang datang dan bersentuhan dengannya tetapi cermin tidak.
Apa yang terlihat tidak akan buyar oleh sesuatu yang datang.

Jika memang benar bahwa masyarakat itu adalah cermin menurut Charles Horton Cooley, mengapa yang terlihat malah jauh lebih banyak bias dari pada kenyataan ?

Jadi, siapa yang jujur?
dirinya kah? atau pantulannya?

Entahlah,




Sunday, July 8, 2018

Keterpaksaan didalam intuisi

Tulisan lainnya dari Aditya Permana



Keterpaksaan didalam intuisi



Dalam kisah asmara mungkin terbagi ke beberapa bagian. yang pertama ada yang merasa bahagia dengan hubungan asmara itu, ada juga yang yang terluka dan yang terakhir mungkin ada yang terpaksa dengan kisah asmara yang dijalani, tapi tanpa kita sadari dari ketiga hal itu bisa menjadi satu, dalam bahagia tidak akan lengkap tanpa ada yang terluka terlebih dahulu misalnya menunggu momen untuk mendekati pasangan ada yang menghabiskan waktu yang begitu cukup lama, dalam fase fase waktu itu mungkin cukup terbuai karena keterpaksaan agar bisa memliki sepenuhnya.

dalam kisah asmara mungkin semua orang mempunya persepsi nya masing masing dalam hal bahagia, terluka ataupun keterpaksaan. namun disini saya ingin sedikit menuliskan atau berbagi cerita dalam kisah asamara yang pernah saya rasakan atau menjalani hingga saat ini.

waktu itu dimana saya baru menginjak bangku sma di salah satu sekolah swasta kota bandung, saya melihat ada seorang wanita yang cukup cantik dan menawan. kenalakan wanita itu adalah cindy. dia wanita kelas 1 ips. kata temanku vikas dia memang cantik namun dia sedikit lugu dalam hal sosial, bahkan teman teman kelas nya pun tak begitu mengenalinya, dalam hal asmara mungkin hal yang seperti itu akan lebih menyulitkan dan penuh tangtangan untuk mendapatkan hatinya.

saya mencoba memahami tentang sikilogis yang terjadi kepada cindy, ya memang dalam hal mengejar kebahgiaan kita memang harus berjuang dan berjalan untuk mewujudkan nya, jangan harap kebahagiaan akan datang kalo hanya kita banyak terdiam, kita bisa ambil kesimpulannya mungkin orang yang seperti cindy banyak yang jatuh cinta bahkan adapula yang bertekuk lutut kepadanya, namun cindy tidak akan pernah merasakan kebahagaiaan yang sebenarnya, memang dalam metode kebahgiaan setiap orang pasti mempunyai persepsi nya masing masing, namun disini saya tidak bercerita tentang ilmu ilmiah atau apapaun, saya disini bercerita tentang penglihatan saya kepada wanita yang pernah saya cintai, disitu saya merasa bahagia akan kemunculan ego saya yang bisa diaplikasian secara komunikasi terhadap teman saya yang namanya vikas, namun secara tidak langsung ketika vikas memberitahu bahwa cindy orangnya seperti itu disana rasa keterpaksaan saya muncul karena saya ingin tahu lebih tetang cindy, keterpaksaan itu terus berlanjut meski cindy tak pernah menoleh, waktu ke waktu saya habiskan dengan keterpaksaan.

saya merasa bahwa cinta ini hadir dalam keterpaksaan, hanya mengikuti ego saya sendiri dan tak pernah memikirkan sedikitpun apa yang cindy inginkan, memang cinta itu perlu memahami satu sama lain, saya terlalu terbuai oleh kata kebahagiaan saya sendiri, dan saya pun kini merasakan fase fase ketiga itu, saya pernah bahagia, alasan saya bahagia kerena saya pernah jatuh cinta kepadanya, namun didalam banyak luka contohnya seperti tak ada sama sekali balasan sapa dari cindy, namun saya tetap berjalan walau saya tau bahwa realitas nya benar benar membuat saya terluka atau kecewa. ya itu saya selalu terpaksa dalam hal kebahagiaan. saya selalu memaksakan hati saya agar bisa bahagia, padahal mungkin dia bukan salah satu alasan bisa bahagia.

banyak orang yang bilang bahwa cinta itu perlu perjuangan antara keduanya bukan hanya satu yang berjuang namun yang satunya hanya menikmati dan menilai , bagi saya cinta bukan seperti itu, cinta itu akan lahir ketika dua orang itu berani berjuang didalam badai apapun, ya ini lah kisah saya , saya selalu memaksakan jatuh cinta kepada orang yang tidak bisa memberi kebahgiaan kepada saya.

namun saya tidak menyesalinya, saya selalu menikmati apa itu bahagia, terluka ataupun keterpaksaan saya sendiri dalam hal cinta. pada dasarnya segala hal yang berlebihan itu tidak akan pernah sama sekali menimbulkan kebaikan. justru dari itu saya merasa bahwa diri saya sedikit berantakan akan hal keterpaksaan saya dalam hal cinta.



Friday, July 6, 2018

Jadikan Permasalahan Sebagai Anugerah

Saya selalu tertarik melihat setiap kehidupan orang lain.
Tertarik melihat peperangan yang mereka alami. Tertarik melihat cerita kemenangan yang meraka dapatkan.
Dan kali ini Saya beruntung karena saya bisa membaca tulisan yang berisi sebagian dari kisah hidupnya.
Dan tentu saya tidak mau jika hanya saya yang tau, maka saya akan membagikan nya disini.
Selamat membaca, selamat terinspirasi dari tulisan ini

tengkyu Aditya Permana (Aditya Permana ), telah berbagi tulisannya disini


Jadikan Permasalahan Sebagai Anugerah


Alam kehidupan ini mungkin ada bebarapa yang harus kita ceritakan entah itu kebahagiaan, kegagalan, kesuksesan dan keinginan yang pasti semua itu pernah dialami beberapa orang bahkan banyak orang. Hidup itu tidak bisa lepas dari kata "masalah". Namun jika hidup tidak ingin punya masalah ya sudah jangan hidup.

Kalau hanya terdiam dalam permasalahn mungkin masalah itu akan lebih besar dari sebelumnya. Jalan keluar untuk bisa menemukan titik terang dalam permasalahan hadapi saja semuanya karena permasalahan itu lahir dari tanganmu sendiri jadi yang bisa menyelesaikan permasalahan itu ya tanganmu sendiri. Namun jika masih bingung akan semua itu, cari saja keluarga atau kawan terdekat curahkan saja semua permasalahannya, banyaknya orang yang tertidur dalam permasalahan adalah orang-orang yang malu untuk meminta solusi kepada keluarga atau kawan terdekat. Analoginya ketika orang itu tidak bisa berenanag namun memaksakan untuk berenang ya akan tenggelam namun jika orang itu di bantu alat pelampung mungkin orang itu bisa selamat.

Jangan merasa bahwa permasalahn itu berat, jika dihadapi dengan kepala dingin dan tidak ego akan diri sendiri mungkin permasalahan itu akan terasa mudah dan biasa biasa saja. Bersyukurlah ketika kamu mempunyai suatu permasalahan karena disitu tuhan masih memperhatikan dan memberi kesempatan agar kamu tetap bisa berpikir, karena bagi saya ketika manusia tanpa permasalahan mungkin manusia itu sudah mati.

Namun ketika kamu berhasil belajar dari permasalahan mungkin perkembangan kamu akan terlihat sangat pesat dalam menyikapi kehidupan ini. Saya pernah membaca dan sampai saat ini mungkin kata-kata itu telah menjadi sebuah pemecut didalam kehidupan saya sehari-hari. Tan Malaka pernah bilang "terbentur, terbentur dan terbentuk". Jadi pada intinya setiap kita mempunyai masalah mungkin hati dan pikiran akan merasa terkikis oleh keadaan akan tetapi hkmah yang bisa kita dapat, hikmahnya kita akan terbentuk menjadi manusia yang kuat, setiap ada permasalahn memang selalu menguji manusia apa bisa berjalan dan melawan atau hanya terdiam dan mati dalam keadaan.

Jangan takut akan sebuah permasalahan. Bagi saya permasalahan itu sebuah anugerah yang Tuhan berikan karena dari permasalahan kita bisa belajar, belajar dan belajar lagi agar bisa menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya, yang bisa merubah pola pikir manusia itu cuman keadaan, karena bagi saya dewasa itu pilihan namun tua itu pasti.
Namun jangan lupa tetap berdoa kepada Yang Maha menciptakan segalanya. karena tanpa seizinya apa yang kita perjuangan juga akan terlihat sia sia.

Wednesday, July 4, 2018

Aku Mengerti

Aku tau semua ada waktunya.
Ada waktu untuk tersenyum, tertawa, menangis, berharap, semuanya akan kita alami.
Dan kini adalah waktunya untuk kembali mengerti tentang perjalanan yang sudah ditempuh.

senangkah ? sedihkah ? puaskah ? entahlah, aku hanya harus mengerti.
Tak bisa dipungkiri dalam setiap perjalanan pasti ada kekosongan diri. 
Mencoba melihat lingkungan  tapi apa daya, mungkin mereka lupa.
Oia, mungkin mereka lagi ada dalam surga imajinasi, tunggulah sampai ada di kawah berduri, pasti mereka datang mengantri.

Aku tersenyum. Mencoba melanjutkan langkah perjalanan. tapi kini jauh lebih lamban.
Tak apa, pikirku, yang penting bisa terus berjalan.
Namun langkahku benar-benar tertahan pada senbuah persimpangan.
Berdiri. 
Sendiri. 
Mengamati.
Ya, dalam perhentianku kali ini aku tidak hanya berdiri sendiri, tapi kini aku mengamati.
Aku tidak mau kalah untuk kesekian kalinya.
Kekalahan yang terus menghentikan langkahku.
Aku melihat hal-hal yang aku impikan menari-nari di sebrang persimpangan ini.
Kini aku mengerti.
Setiap persimpangan membawaku melihat perjalanan dan kembali fokus pada tujuan.
Aku bersyukur Tuhan membawaku kesini.
Kini Aku mengerti.
Aku harus terus berjalan meskipun dengan langkah yang lamban.
Aku bersyukur Tuhan membawaku kesini.
Kini Aku mengerti.
Betapa baiknya Tuhan yang menghentikan langkahku agar aku tidak salah melangkah.
Dia mau aku mengerti apa yang ada dalam perjalananku. Dia sangat peduli.
Kini Aku mengerti
Aku mengerti, Tuhan.
Aku mengerti.



Tuesday, July 3, 2018

Review Buku Half Os Us Is One For Us


Puji Tuhan, bersyukur banget akhirnya buku ini bisa selesai. Buku pertama yang saya tulis. Walupun memakan waktu yang cukup panjang, karena dalam pembuatannya disertai pembelajaran yang panjang juga. Terlebih dulu tentu saya mengucap syukur pada Tuhan buat setiap karya indah nya dalam hidup saya sehingga saya bisa berkarya melalui buku Half of Us Is One For Us  ini. Bersyukur juga buat keluarga serta teman-teman terdekat yang turut berperan dalam pembuatan buku ini.
            Buku ini merupakan pengembangan dari tulisan-tulisan yang sebelumnya sudah saya tulis di blog saya. Ada 6 tulisan yang saya ambil dan kembangkan dari blog yang saya tulis sebelumnya, ditambah dua tulisan baru di buku ini dalam chapter 7 (Raih Hak Bicara) dan chapter 8 (Dunia Harus Mengenalmu).
            Buku ini merupakan tulisan yang berasal dari pengetahuan, pemikiran, kisah hidup, dan yang pasti pengalaman yang membuat tulisan di dalam buku ini tidak hanya sebuah dongeng atau sekedar angan-angan yang tak terukur, tetapi sesuatu yang pernah saya alami dan saya ingin membagikannya kepada setiap orang lain, khususnya kalian yang membaca buku ini.
            Buku ini juga ditulis menggunakan bahasa sederhana yang akan mudah dipahami oleh setiap kita yang membacanya. Selain itu saya juga memberikan ruang khusus buat setiap kalian yang ingin berbagi kisah hidup yang sesuai dengan setiap chapter yang ada. Selanjutnya tulisan itu bisa kalian kirim melalui email yang kemudian akan saya muat dalam blog dan media sosial yang saya miliki.
            Bayangkan berapa banyak orang yang akan terinspirasi dari setiap pengalaman hebat yang kalian alami ? menyayangkan apabila pengalaman hebat itu hanya menjadi “konsumsi” pribadi. Akan jauh lebih bermakna jika kita bisa saling memperlengkapi satu sama lain dengan kisah hidup dan pengalaman-pengalaman hebat kita.
            Meskipun saya merasa bahwa buku ini merupakan karya yang maksimal yang dapat saya kerjakan, tapi saya juga menyadari bahwa buku ini belum sempurna adanya. Buku ini juga tidak terlepas dari kesalahan, dan saya sangat terbuka untuk setiap kritik dan saran serta masukan. Dan saya sangat berharap untuk setiap kalian bisa menyampaikan kritik dan saran nya untuk buku ini. Secara khusus saya berharap bahwa buku ini dapat menjadi jawaban, dan mampu menginspirasi kalian yang membacanya.