Tuesday, December 18, 2018

Kanibal

Sejujurnya, kenangan itu sempat menggangku pikiranku
Seperti sebuah kekalahan yang menyakitkan
Kegagalan pertempuran.

Aku teringat bagaimana seseorang yang bahkan tidak cukup mengenal diriku namun bisa bercerita panjang pada orang lain tentang "siapa" aku.
Bagaimana mungkin kau mampu menceritakan sesuatu yang bahkan tidak kamu tahu
Bercerita dan memainkan peran, layakanya dalang yang memainkan wayang
Kau membangun cerita baru dengan kebenaran semu agar semua bisa menaruh simpati padamu

Menggelikan ketika kebenaran diperjualbelikan dengan ketenaran
Menghabisi hidup orang lain dengan cerita sampah yang tak terarah
Kamu tau? biar kutunjukan satu hal,
Apapun jejak yang sedang kau injak saat ini yang kau harap bisa membuatmu merasa mampu menyentuh angkasa,  hal itu juga yang akan menjatuhkan dan menghancurkanmu bahakan sampai tak tersisa.

Seperti ada api dalam diriku yang siap membakar semua ceritamu
Tapi tak jadi, aku berubah arah dan menjadi tak peduli

Teman,
Hidup tak selucu itu,
Merebut ketenaran tak sebodoh itu,
Mencari peduli tak perlu memakai cerita tak pasti

Oh, maaf, aku salah,
Kau bukan temanku,
Teman tidak kanibal bukan?

Sunday, December 16, 2018

Pesan Ucapan Syukur

Matahari sudah terlalu tinggi ketika aku baru saja bangun.
ini bukan pilihan yang tepat untuk lanjut bermalas-malasan, setelah aku melihat jam sudah menunjukan pukul 10 lewat. tujuanku langsung tertuju pada kamar mandi dan bersiap pergi kerja.

Celana hitam panjang, kaos ungu bertuliskan namaku di tengahnya, menjadi pilihanku untuk aku pakai bekerja hari ini. maklum, ini hari Minggu, jadi bisa cukup santai untuk berpakaian ke kantor. aku memakai kaos kaki abu-abu dengan aksen hitam dan sepatu abu-abu sebelum akhirnya mengunci pintu dan pergi. 3 menit 20 detik adalah rekor tercepat yang pernah aku tempuh berjalan dari kosan menuju kantor. Saat itu situasinya aku masuk jam 7 pagi, dan kalian pasti sudah bisa menebaknya. Benar, aku bangun kesiangan. dan hampir telat menuju kantor.

Selesai absen, aku langsung menuju ke ruangan, setelah sebelumnya mengisi peunuh botol minum di kantin tadi. Aku melihat temanku tersenyum dari dalam ruangan menyambutku. Dia sudah ada disana sejak jam 7 pagi tadi. Aku menyimpan tas, dan kembali duduk menatap layar.

Tidak begitu banyak kerjaan yang harus diselesaikan di hari minggu. Jadi aku biasa mengisi waktu dengan menjelajahi media sosialku, instagram. Ada sebuah pesan yang belum aku baca dari seorang teman. Oia, aku baru ingat, semalam kami sempat berbicara banyak tentang dunia kerja, kami berbagi banyak hal sebelum akhhirnya aku tertidur.

Dia salah satu temanku sejak duduk di bangku sekolah menengah. Kami dipertemukan lagi di instagram ini. Dia bercerita banyak dengan sulitnya mencari pekerjaan, aku hanya menyediakan kuping, mendengarkan.

Hari-hari, bahkan minggu-minggu sebelumnya aku selalu berpikir untuk bisa kembali ke Bandung, dan mencari pekerjaan disana. Tapi dari obrolanku bersama teman di instagram malam itu sedikit menamparku. Aku jauh lebih beruntung bisa ada seperti saat ini, punya kesempatan lebih dulu untuk bisa terjun di dunia kerja setelah menyelesaikan kuliah selama empat tahun di bandung. Aku yang sebelumnya terkadang mengeluh dan lupa bersyukur, kini tersadarkan oleh cerita temanku yang semalam aku dengarkan.

Memang benar, lingkungan kita selalu menjadi guru terbaik. kita hanya perlu siap mendengarkan dan mengambil pelajaran. Dan aku senang telah lebih dulu melakukannya. aku tersenyum sebelum membalas pesan temanku di instagram itu, "makasih loh, udh mau cerita banyak, haha, tenang aja, kerja keras ga pernah bohong, aku doakan kamu segera mendapat kabar baik"
Aku mengirim pesan itu , sebelum akhirnya aku tertunduk dan bersyukur, "makasih Tuhan, aku bersyukur"

Saturday, December 15, 2018

Cermin Diri

 Cermin Diri


Belajar dari sesuatu yang terlihat,
Mungkin belum teralami, tapi orang-orang seakan sedang mengajari
Terlalu banyak hal yang bisa menjadi cermin,
Tidak hanya untuk sekedar bersyukur,
Tak jarang hal lain datang mengajarkan untuk berhenti dan menampar diri

Aku melihat dia, pria yang menyambutku dengan senyum hangat,
Yang kemudian berganti hanya karena suatu hal kecil terjadi tak sesuai di hati
Seperti mengajarkan bahwa tidak ada yang pasti,
Sampai kita tahu bahwa yang sejati itu ada dalam dirimu dan diriku

Aku melihat dia, pria yang seakan tahu segalanya,
Yang kini sedang berdiri melambaikan tangan menyapa
Keramahannya menjadi nilai utama,
Untuk bisa mengenal dan sekedar berbagi cerita

Aku melihat dia, wanita yang bahkan tidak aku kenal,
Yang duduk bersebelahan dengan sang pujaan,
Merasa dunia milik berdua, tak peduli situasi dan orang-orang disekitarnya
Sepertinya cinta tidak hanya telah membutakan mata dan logikanya, tetapi juga tata krama.

Dan aku melihat diriku, yang bersyukur bisa melihat semuanya
Yang besyukur melihat semuanya tanpa perlu menghakimi,
Aku merasa sadar, masih ada duri dalam dagingku,
Masih ada sesuatu yang harus dibuang, dibalik nikmatnya daging yang telah matang,



Wednesday, December 12, 2018

Selalu Ada Pilihan


Selalu Ada Pilihan


Mengapa harus berhadapan dengan pilihan dilematis
ketika ada pilihan untuk bisa bersikap apatis ? 

hidup selalu diperhadapkan dengan pilihan
tapi tidak semua merupakan yang kita butuhkan

pilihan tidak pernah hadir dan berdiri sendiri
ia selalu datang dengan berhiaskan konsekuensi

kebanyakan orang takut memilih bukan karena tak mengerti
justru karena mereka mngerti ada konsekuenski yang menghantui

tapi bukankah dalam upah yang besar selalu ada tanggung jawab yang besar ?
maka hadirnya konsekuensi dalam pilihan itu menjadi benar

tak perlu ada yang ditakuti,
konsekuennsi adalah jalan yang membawa kita pada level yang lebih tinggi

jutaan orang berhadapan dengan jutaan pilihan

aku, kamu, mereka, kita semua hidup dalam pilihan yang berkonsekuensi,
maka, pilihannya bukanlah pergi menjauhi, tapi berani menerima dan menjalani