Tuesday, June 21, 2016

Problem Solving

Problem Solving


                Kita semua pasti setuju kalau umur bukanlah satu-satu nya hal untuk mengukur kedewasaan seseorang. Selain umur, salah satu hal yang penting untuk mengukur kedewasaan seseorang itu adalah kemampuan “problem solving” atau bagaiama seseorang itu menyelesaikan masalah dalam hidupnya.
           
     Apa itu masalah ? mungkin kita mendefinisikan masalah itu berbeda-beda, namun secara garis besar masalah itu adalah ketidaksesuaian antara apa yang kita harapkan dengan apa yang kita dapatkan. Sederhananya adalah kesenjangan antara harapan dan kenyataan.
                Pada umumnya, ada 2 sumber masalah yang dialami setiap orang, yaitu berasal dari dalam diri sendiri (internal) dan dari luar diri (eksternal). Contoh masalah yang bersumber dari internal seperti rasa cemas, tidak percaya diri, dll. Sedangkan contoh masalah yang berasal dari eksternal seperti konflik dengan lingkungan.
                Masalah itu bersifat relatif. Dalam artian setiap orang memaknai dan menyikapi (respon) masalah itu berbeda-beda. Nah, inilah yang penting, bagaimana kita memaknai dan menyikapi masalah, karena itu menentukan kedewasaan kita. Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk memiliki kemampuan “problem  solving”  ini. Mengapa penting ? tentu dong, karena dengan itu kita dapat mengembangkan diri kita menjadi lebih baik, terutama dalam hal membangun kepercayaan diri, kepemimpinan, dan belajar dalam pengambilan keputusan.
         
       Ada sebuah kisah menarik, suatu hari ada seorang pemuda yang datang ke rumah seorang kakek yang sangat terkenal karena kebijaksanaannya. Pemuda ini datang dengan harapan bahwa si kakek mampu membantu menyelesaikan permasalahan yang dialaminya. Ketika pemuda tersebut menceritakan permasalahannya kepada si kakek, si kakek ini dengan santai mendengarkan sambil memberikan sedikit tawa.
       
         Setelah selesai mendengarkan, si kakek membawakan segenggam bubuk yang pahit rasanya dan segelas air putih. Setelah memberikannya kepada pemuda itu, si kakek menyuruh untuk memasukan bubuk pahit tersebut ke dalam segelas air yang dibawakan si kakek tadi dan menyuruh pemuda tersebut untuk meminumnya. Setelah diminum, Pemuda tersebut mengeluh karena meraskan pahit dalam mulutnya, lalu si kakek kembali memberikan segenggam bubuk pahit tersebut dan menyuruh pemuda itu untuk mencampurkan nya dengan air yang ada di danau di depan rumah si kakek.
          
      Setelah mencampurkan segenggam bubuk pahit itu ke dalam danau, si kakek kembali menyuruh pemuda itu untuk meminum nya, namun kali ini pemuda itu tidak merasakan pahit di mulutnya. Dengan bijak si kakek menjelaskan, bubuk tersebut menggambarkan permasalahan mu, dan air yang di dalam gelas dan danau menggambarkan hati mu. Jadi jika kita punya masalah dan memasukan ke dalam hati kita yang hanya “segelas air” maka masalah itu tetap akan terasa pahit, sedangkan jika memasukan masalah itu ke dalam hati kita sebesar “danau” maka rasa pahit itu pun tidak akan kita rasakan.
           
     Jadi hatimu lah yang menentukan permasalahan itu ‘pahit’ atau tidak. Setelah mendengar penjelasan si kakek, dengan bangga pemuda itu pulang dengan sukacita.
           
     Dari kisah di atas, kita belajar bahwa untuk menyelesaikan permasalahan yang kita alami, yang pertama dan yang terpenting bagi kita adalah untuk memperbesar kapasitas hati kita. Jangan jadikan hati kita hanya sebesar “segelas air” tapi perbesar kapasitas hati kita sebesar “danau”. Lalu bagaimana agar kita mampu memperbesar kapasitas hati kita ? nah, caranya tentu dengan banyak mengucap syukur. Karena dengan mengucap syukur, kita dapat mencipatakan suasana hati yang kondusif serta bukti bahwa kita percaya akan pertolongan Tuhan dalam hidup kita.
         
       selain memperbesar kapasitas hati kita, kita juga harus menyusun strategi. Nah, dalam hal ini, percayalah bahwa setiap orang yang memiliki masalah, mempunyai kemampuan untuk menyelesaikannya. Yang terpentig adalah kita harus mengenal betul kemampuan yang ada dalam diri kita. Disamping itu, ada dua alternatif dalam menyusun strategi pemecahan masalah

.1. Divergent Thinking

Kita mungkin mencoba untuk membuat berbagai macam solusi alternatif untuk masalah kita. Setelah itu, kita pasti mempertimbangkan berbagai kemungkinan jika strategi dan solusi tersebut dilakukan. 

2. Convergent Thinking

strategi ini untuk untuk memperkecil beberapa kemungkinan  sehingga berpusat kepada satu strategi dan solusi yang terbaik.


                Jadi teman-teman, mulai sekarang siap dong untuk bertumbuh menjadi dewasa dalam pemikiran dan respon kita ? siap dong untuk tidak takut lagi menghadapi masalah ? yap, tetep semangat n God bless

Orang pandai memecahkan masalah, orang genius mencegah masalah –Om Albert-


No comments:

Post a Comment