Monday, June 6, 2016

Memanusiakan Manusia

Memanusiakan Manusia
Kita semua pasti tidak asing dengan istilah ‘manusia’. Tentu saja, bahkan setiap kita merasa yakin bahwa kita adalah manusia. Sebenarnya apasih manusia itu ? Nah, dijelaskan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), manusia adalah makhluk yang berakal budi (mampu menguasai mahkluk lain). Kata istilah ‘Akal Budi’ merupakan ungkapan resmi dalam Bahasa Indonesia yang berarti pikiran yang sehat. Jadi akal budi itu adalah pikiran yang sehat.
Setiap kita pasti percaya bahwa kita memiliki akal budi, dan bahkan mungkin menganggap bahwa kita merupakan mahkluk terpintar dan paling berakal budi dibandingkan mahkluk hidup lainnya seperti hewan atau tumbuhan. Namun sudahkah kita benar-benar pintar dan berakal budi ? Jika berkaca pada apa yang akhir-akhir ini sering terjadi, seperti tingginya tindak kekerasan antara seorang dengan yang lainnya, maraknya tindak kriminalitas atau kurangnya sikap toleransi terhadap ke-bhinneka-an yang ada di lingkungan kita atau bahkan masih sulitnya kita mentaati peraturan di lingkungan kita dengan masih membuang sampah sembarangan, maka belumlah kita benar-benar  menjadi mahkluk yang berakal budi.
Banyak sekali ilmu yang mempelajari tentang manusia. Contohnya seperti antropologi, yaitu ilmu yang mempelajari manusia dari segi kebudayaan nya, lalu sosiologi, yaitu ilmu yang mempelajari manusia dari segi kemasyarakatannya, lain lagi dengan psikologi, yaitu ilmu yang mempelajari manusia dari segi perilaku dan fungsi mental nya, dan masih banyak ilmu yang lainnya. Dalam istilah lain, ilmu-ilmu tersebut disebut juga dengan humaniora. Humaniora adalah ilmu-ilmu pengetahuan yang dianggap bertujuan membuat manusia menjadi lebih manusiawi. Namun, cukupkah ilmu-ilmu tersebut benar-benar membuat manusia lebih manusiawi ?
Untuk menjawab pertanyaan di atas, mari kita lihat salah satu statistik tentang tingkat kejahatan yang ada di Indonesia . Menurut sumber Badan Pusat Statistik (BPS) selama periode tahun 2013 setiap 1 menit 32 detik terjadi satu tindakan criminal di Indonesia. Sementara itu dari 100.000 orang di Indonesia, 140 diantaranya beresiko terkena tindak kejahatan. Wah, berbahaya bukan ? semoga kita tidak termasuk ke dalam salah satu dari orang-orang yang beresiko terkena tindak kejahatan tersebut atau bahkan jangan juga kita menjadi salah satu dari pelakunya, haha
Melalui statistik yang sudah kita baca sebelumnya, menandakan bahwa tidak semua orang memberlakukan manusia lain sebagai manusia, sederhananya adalah tidak semua orang memiliki sifat manusiawi terhadap orang lain. Hal itu juga menandakan bahwa tidaklah cukup jika kita hanya mengandalkan humaniora, yaitu ilmu-ilmu tentang kemanusiaan, untuk dapat mengubah kehidupan seseorang menjadi lebih manusiawi. Oleh karena itu penting bagi setiap kita untuk mengambil peran dalam proses memanusiakan manusia ini.
Jadi kawan-kawan, marilah kita ambil peran kita sebagai orang-orang pembawa perubahan melalui sikap manusiawi kita. Percayalah bahwa setiap kita punya potensi menjadi penolong buat orang lain, percayalah bahwa setiap kita memiliki kemampuan untuk dapat ber-empati kepada orang lain, percayalah bahwa setiap kita mampu untuk dapat memanusiakan manusia yang lain nya, dan percayalah bahwa dengan setiap perubahan yang kita lakukan, kita telah mengambil peran dalam proses mengurangi tingginya tingkat kejahatan, dengan perubahan kita, kita akan berhasil untuk mewujudkan kehidupan yang lebih aman dan damai, serta melalui peubahan hidup kita, kita telah telah berhasil menyampaikan pesan kasih dan perdamaian itu.
So teman-teman, siap ambil peran kan ? siap melakukan perubahan dong ?
“Barang siapa mempunyai sumbangan pada kemanusiaan dia tetap terhormat sepanjang jaman, bukan kehormatan sementara. Mungkin orang itu tidak mendapatkan sesuatu sukses dalam hidupnya, mungkin dia tidak mempunyai sahabat, mungkin tak mempunyai kekuasaan barang secuwil pun. Namun umat manusia akan menghormati karena jasa-jasanya.” 
 
Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu 2

Terima kasih, untuk setiap waktu dan kesempatan nya untuk membaca artikel ini, semoga kita sama-sama bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik lagi
Penulis sangat terbuka untuk setiap saran dan kritik dari pembaca.

Untuk setiap saran dan kritik dapat disampaikan melalui email : hendrijoharis@gmail.com

No comments:

Post a Comment