Memanusiakan Manusia
Kita semua pasti tidak asing dengan istilah
‘manusia’. Tentu saja, bahkan setiap kita merasa yakin bahwa kita adalah
manusia. Sebenarnya apasih manusia itu ? Nah,
dijelaskan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), manusia adalah makhluk
yang berakal budi (mampu menguasai mahkluk lain). Kata istilah ‘Akal Budi’ merupakan
ungkapan resmi dalam Bahasa Indonesia yang berarti pikiran yang sehat. Jadi
akal budi itu adalah pikiran yang sehat.
Setiap kita pasti percaya bahwa kita memiliki akal
budi, dan bahkan mungkin menganggap bahwa kita merupakan mahkluk terpintar dan
paling berakal budi dibandingkan mahkluk hidup lainnya seperti hewan atau
tumbuhan. Namun sudahkah kita benar-benar pintar dan berakal budi ? Jika
berkaca pada apa yang akhir-akhir ini sering terjadi, seperti tingginya tindak
kekerasan antara seorang dengan yang lainnya, maraknya tindak kriminalitas atau
kurangnya sikap toleransi terhadap ke-bhinneka-an yang ada di lingkungan kita
atau bahkan masih sulitnya kita mentaati peraturan di lingkungan kita dengan masih
membuang sampah sembarangan, maka belumlah kita benar-benar menjadi mahkluk yang berakal budi.
Banyak sekali ilmu yang mempelajari tentang manusia.
Contohnya seperti antropologi, yaitu ilmu yang mempelajari manusia dari segi
kebudayaan nya, lalu sosiologi, yaitu ilmu yang mempelajari manusia dari segi
kemasyarakatannya, lain lagi dengan psikologi, yaitu ilmu yang mempelajari
manusia dari segi perilaku dan fungsi mental nya, dan masih banyak ilmu yang
lainnya. Dalam istilah lain, ilmu-ilmu tersebut disebut juga dengan humaniora.
Humaniora adalah ilmu-ilmu
pengetahuan yang dianggap bertujuan membuat manusia menjadi lebih manusiawi.
Namun, cukupkah ilmu-ilmu tersebut benar-benar membuat manusia lebih manusiawi
?
Untuk menjawab
pertanyaan di atas, mari kita lihat salah satu statistik tentang tingkat
kejahatan yang ada di Indonesia . Menurut sumber Badan Pusat Statistik (BPS)
selama periode tahun 2013 setiap 1 menit 32 detik terjadi satu tindakan
criminal di Indonesia. Sementara itu dari 100.000 orang di Indonesia, 140
diantaranya beresiko terkena tindak kejahatan. Wah, berbahaya bukan ? semoga
kita tidak termasuk ke dalam salah satu dari orang-orang yang beresiko terkena
tindak kejahatan tersebut atau bahkan jangan juga kita menjadi salah satu dari
pelakunya, haha
Melalui statistik
yang sudah kita baca sebelumnya, menandakan bahwa tidak semua orang
memberlakukan manusia lain sebagai manusia, sederhananya adalah tidak semua
orang memiliki sifat manusiawi terhadap orang lain. Hal itu juga menandakan
bahwa tidaklah cukup jika kita hanya mengandalkan humaniora, yaitu ilmu-ilmu
tentang kemanusiaan, untuk dapat mengubah kehidupan seseorang menjadi lebih
manusiawi. Oleh karena itu penting bagi setiap kita untuk mengambil peran dalam
proses memanusiakan manusia ini.
Jadi kawan-kawan,
marilah kita ambil peran kita sebagai orang-orang pembawa perubahan melalui
sikap manusiawi kita. Percayalah bahwa setiap kita punya potensi menjadi
penolong buat orang lain, percayalah bahwa setiap kita memiliki kemampuan untuk
dapat ber-empati kepada orang lain, percayalah bahwa setiap kita mampu untuk
dapat memanusiakan manusia yang lain nya, dan percayalah bahwa dengan setiap
perubahan yang kita lakukan, kita telah mengambil peran dalam proses mengurangi
tingginya tingkat kejahatan, dengan perubahan kita, kita akan berhasil untuk
mewujudkan kehidupan yang lebih aman dan damai, serta melalui peubahan hidup
kita, kita telah telah berhasil menyampaikan pesan kasih dan perdamaian itu.
So teman-teman, siap
ambil peran kan ? siap melakukan perubahan dong ?
“Barang siapa
mempunyai sumbangan pada kemanusiaan dia tetap terhormat sepanjang jaman, bukan
kehormatan sementara. Mungkin orang itu tidak mendapatkan sesuatu sukses dalam
hidupnya, mungkin dia tidak mempunyai sahabat, mungkin tak mempunyai kekuasaan
barang secuwil pun. Namun umat manusia akan menghormati karena jasa-jasanya.”
― Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu 2
― Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu 2
Terima kasih, untuk
setiap waktu dan kesempatan nya untuk membaca artikel ini, semoga kita sama-sama
bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik lagi
Penulis sangat
terbuka untuk setiap saran dan kritik dari pembaca.
No comments:
Post a Comment