Monday, June 27, 2016

Jalani dan Hidupi


Jalani dan Hidupi

Pagi ini, kayanya banyak orang yang ‘sarapan’ dengan menu kekecewaan. Selain karena hari senin, mungkin telat ke kantor, kejebak kemacetan dan lain sebagainya, khusus untuk para pecinta sepak bola, atau penggemar Lionel Messi, ditambah kekalahan timnas Argentina dalam laga Final Copa Amerika Latin, kayanya nyesek nya nambah. Kaya ada pait-pait nya gitu.

Semoga hari ini ga bener-bener dimulai dengan rasa kecewa ya, karena tentu masih lebih besar Anugerah Tuhan yang kita terima, dari pada kekecewaan kan ?
balik lagi ke topic tentang final Copa Amerika pagi ini, ada kisah menarik di laga final pagi tadi yang mempertemukan antara Argentina v chili.

Laga final.
Eksekutor yang gagal mencetak gol dari titik 12 pas.
Kalah 4-2 dalam adu pinalti
 Lagi-lagi gagal membawa negara nya juara dalam turnamen internasional.
Itu adalah sedikit gambaran tentang Lionel Messi dalam pertandingan pagi ini. Siapa yang ga kenal dengan Lionel Messi ? pemain sepak bola dengan 5x gelar pemain terbaik di dunia ini pasti kita mengenalnya.

Ini bukan kekalahan pertamanya di laga puncak nya bersama timnas Argentina. selain gagal di tahun sebelumnya dalam turnamen yang sama, ia juga hanya mampu membawa Argentina sebagai runner-up di piala dunia tahun 2014 yang lalu. Total Messi udah bermain 4x di laga final dan semua berakhir kekalahan.

Banyak keberhasilan yang telah dicapai oleh Messi, baik secara tim maupun individu. Namun, tidak sedikit juga kegagalan yang ia alami. Terbaru, kegagalan nya membawa tim Argentina menjuarai liga Copa Amerika Latin. Banyak ejekan atau tuduhan yang diberikan kepada nya karena kegagalan nya mencetak gol dalam drama adu pinalti tadi pagi. Lewat kegagalan itu, banyak tuduhan dan ejekan yang dilayangkan pada dirinya.

Nah, kalo kita perhatiin baik-baik, kita juga sama seperti Messi. Bukan dari segi sepak bola nya, tapi kita semua pasti pernah mengalami kemenangan atau keberhasilan dalam hidup kita, dan tentu kita mengalami saat-saat kegagalan juga. Tentu banyak reaksi juga yang diberikan lingkungan terhadap diri kita. Jika kita melihat dari kisah Lionel Messi di atas, walaupun ia gagal membawa Argentina menjuarai liga tersebut, hal itu tidak menjadikan Messi kehilangan gelar pemain terbaik dunia, tidak juga menghilangkan gelar-gelar atau keberhasilan-keberhasilan yang telah dicapai oleh Messi sebelum-sebelumnya.

Sama seperti Lionel Messi, kita semua memiliki gelar pemain terbaik, namun gelar yang kita miliki bukan berasal dari dunia, tetapi Tuhan sendiri yang memberikan nya pada kita. Ingatlah bahwa setiap kita adalah ‘pemain-pemain’ terbaik nya Tuhan. Pemain terbaik itu peran nya tak tergantikan. Seperti di artikel sebelum nya, setiap kita punya peran masing-masing. Dan itu tak tergantikan.
Nah, mungkin sekarang kita lagi ada di ‘masa-masa kegagalan’ tapi ingatlah bahwa kegagalan yang kita alami itu tidak akan menghapuskan gelar kita, sebagai ‘PEMAIN TERBAIK’ nya Tuhan. Dan pemain terbaik itu tidak akan terhentikan oleh kegagalan. Justru kegagalan adalah salah satu hal yang turut ‘membentuk’ pemain terbaik

Ada sebuah statement menarik dari seorang penasihat, pengarang, sekaligus motivator asal Amerika bernama Zig Ziglar, 

Jika kamu belajar dari kekalahan, kamu tidak benar-benar kalah”

Jadi, sekarang kita punya dua pilihan; menghidupi kemenangan yang Tuhan berikan atau menghidupi kesalahan yang kita lakukan ?
Tentu pilihan terbaik adalah ketika kita mau menjalani dan menghidupi kemenangan yang sudah Tuhan berikan dalam hidup kita. Jangan sampai kemenangan kita luntur karena kenyamanan kita menghidupi kesalahan-kesalahanyang kita lakukan. Semangat ‘n God Bless.

“It’s fine to celebrate success but it is more important to heed the lessons of failure.”
 “Merayakan kesuksesan itu baik akan tetapi belajar dari kegagalan itu lebih penting.” ~ Bill Gates~

Tuesday, June 21, 2016

Problem Solving

Problem Solving


                Kita semua pasti setuju kalau umur bukanlah satu-satu nya hal untuk mengukur kedewasaan seseorang. Selain umur, salah satu hal yang penting untuk mengukur kedewasaan seseorang itu adalah kemampuan “problem solving” atau bagaiama seseorang itu menyelesaikan masalah dalam hidupnya.
           
     Apa itu masalah ? mungkin kita mendefinisikan masalah itu berbeda-beda, namun secara garis besar masalah itu adalah ketidaksesuaian antara apa yang kita harapkan dengan apa yang kita dapatkan. Sederhananya adalah kesenjangan antara harapan dan kenyataan.
                Pada umumnya, ada 2 sumber masalah yang dialami setiap orang, yaitu berasal dari dalam diri sendiri (internal) dan dari luar diri (eksternal). Contoh masalah yang bersumber dari internal seperti rasa cemas, tidak percaya diri, dll. Sedangkan contoh masalah yang berasal dari eksternal seperti konflik dengan lingkungan.
                Masalah itu bersifat relatif. Dalam artian setiap orang memaknai dan menyikapi (respon) masalah itu berbeda-beda. Nah, inilah yang penting, bagaimana kita memaknai dan menyikapi masalah, karena itu menentukan kedewasaan kita. Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk memiliki kemampuan “problem  solving”  ini. Mengapa penting ? tentu dong, karena dengan itu kita dapat mengembangkan diri kita menjadi lebih baik, terutama dalam hal membangun kepercayaan diri, kepemimpinan, dan belajar dalam pengambilan keputusan.
         
       Ada sebuah kisah menarik, suatu hari ada seorang pemuda yang datang ke rumah seorang kakek yang sangat terkenal karena kebijaksanaannya. Pemuda ini datang dengan harapan bahwa si kakek mampu membantu menyelesaikan permasalahan yang dialaminya. Ketika pemuda tersebut menceritakan permasalahannya kepada si kakek, si kakek ini dengan santai mendengarkan sambil memberikan sedikit tawa.
       
         Setelah selesai mendengarkan, si kakek membawakan segenggam bubuk yang pahit rasanya dan segelas air putih. Setelah memberikannya kepada pemuda itu, si kakek menyuruh untuk memasukan bubuk pahit tersebut ke dalam segelas air yang dibawakan si kakek tadi dan menyuruh pemuda tersebut untuk meminumnya. Setelah diminum, Pemuda tersebut mengeluh karena meraskan pahit dalam mulutnya, lalu si kakek kembali memberikan segenggam bubuk pahit tersebut dan menyuruh pemuda itu untuk mencampurkan nya dengan air yang ada di danau di depan rumah si kakek.
          
      Setelah mencampurkan segenggam bubuk pahit itu ke dalam danau, si kakek kembali menyuruh pemuda itu untuk meminum nya, namun kali ini pemuda itu tidak merasakan pahit di mulutnya. Dengan bijak si kakek menjelaskan, bubuk tersebut menggambarkan permasalahan mu, dan air yang di dalam gelas dan danau menggambarkan hati mu. Jadi jika kita punya masalah dan memasukan ke dalam hati kita yang hanya “segelas air” maka masalah itu tetap akan terasa pahit, sedangkan jika memasukan masalah itu ke dalam hati kita sebesar “danau” maka rasa pahit itu pun tidak akan kita rasakan.
           
     Jadi hatimu lah yang menentukan permasalahan itu ‘pahit’ atau tidak. Setelah mendengar penjelasan si kakek, dengan bangga pemuda itu pulang dengan sukacita.
           
     Dari kisah di atas, kita belajar bahwa untuk menyelesaikan permasalahan yang kita alami, yang pertama dan yang terpenting bagi kita adalah untuk memperbesar kapasitas hati kita. Jangan jadikan hati kita hanya sebesar “segelas air” tapi perbesar kapasitas hati kita sebesar “danau”. Lalu bagaimana agar kita mampu memperbesar kapasitas hati kita ? nah, caranya tentu dengan banyak mengucap syukur. Karena dengan mengucap syukur, kita dapat mencipatakan suasana hati yang kondusif serta bukti bahwa kita percaya akan pertolongan Tuhan dalam hidup kita.
         
       selain memperbesar kapasitas hati kita, kita juga harus menyusun strategi. Nah, dalam hal ini, percayalah bahwa setiap orang yang memiliki masalah, mempunyai kemampuan untuk menyelesaikannya. Yang terpentig adalah kita harus mengenal betul kemampuan yang ada dalam diri kita. Disamping itu, ada dua alternatif dalam menyusun strategi pemecahan masalah

.1. Divergent Thinking

Kita mungkin mencoba untuk membuat berbagai macam solusi alternatif untuk masalah kita. Setelah itu, kita pasti mempertimbangkan berbagai kemungkinan jika strategi dan solusi tersebut dilakukan. 

2. Convergent Thinking

strategi ini untuk untuk memperkecil beberapa kemungkinan  sehingga berpusat kepada satu strategi dan solusi yang terbaik.


                Jadi teman-teman, mulai sekarang siap dong untuk bertumbuh menjadi dewasa dalam pemikiran dan respon kita ? siap dong untuk tidak takut lagi menghadapi masalah ? yap, tetep semangat n God bless

Orang pandai memecahkan masalah, orang genius mencegah masalah –Om Albert-


Monday, June 13, 2016

Keep Running !!

Keep Running !!
               
Thomas Alva Edison. Kita semua pasti tau dong dengan nama itu ? setidak nya jika kita tidak mengenal namanya, pasti kita mengenal karya-karyanya. Yap, Thomas Alva Edison adalah penemu paling berpengaruh dalam sejarah. Ia adalah seorang penemu dengan 1.093 paten penemuan atas namanya. Luar biasa bukan ? tapi kali ini kita tidak akan membahas tentang Thomas Alva Edison, tetapi kita akan belajar dari seseorang bernama Nancy Matthews Edison. Bagaimana dengan nama yang satu ini, Nancy Matthews Edison, apakah teman-teman mengenalnya ? atau mungkin pernah mendengar namanya ? nama yang satu ini memang tidak sepopuler nama Thomas Alva Edison yang kita kenal dengan penemuan-penemuan nya, tapi ada kisah menarik dalam kehidup nya. Nah, nama Nancy Matthews Edison adalah ibu dari Thomas Alva Edison.

Suatu hari seorang bocah berumur 4 tahun yang agak tuli dan bodoh di sekolah, yang kita kenal dengan nama Thomas Alva Edison, pulang ke rumah nya dengan membawa secarik keras dari gurunya. Dalam kertas itu berisikan pesan dari guru tersebut untuk Thomas Alva Edison, dalam surat itu tertulis

" Tommy, anak ibu, sangat bodoh. kami minta ibu untuk mengeluarkannya dari sekolah."

sang ibu terhenyak membaca surat ini, namun ia segera membuat tekad yang teguh,

" anak saya Tommy, bukan anak bodoh. saya sendiri yang akan mendidik dan mengajar dia."

Tommy bertumbuh menjadi Thomas Alva Edison, salah satu penemu terbesar di dunia. Dia hanya bersekolah sekitar 3 bulan, dan secara fisik agak tuli, namun itu semua ternyata bukan penghalang untuk terus maju. Tak banyak orang mengenal siapa Nancy Mattews, siapa yang sebelumnya menyangka bahwa bocah tuli yang bodoh sampai-sampai diminta keluar dari sekolah, akhirnya bisa menjadi seorang genius?  jawabannya adalah Nancy Mattews, ibunya.
Yap, Nancy Edison, ibu dari Thomas Alva Edison, tidak menyerah begitu saja dengan pendapat pihak sekolah terhadap anaknya. Nancy memutuskan untuk menjadi guru pribadi bagi pendidikan Tommy dirumah, ia menjadikan puteranya menjadi orang yang percaya bahwa dirinya berarti. Nancy juga yang memulihkan kepercayaan diri Thommy, dan hal itu mungkin sangat berat baginya. Namun ia tidak sekalipun membiarkan keterbatasan membuatnya berhenti.
Itu adalah kisah singkat bagaimana perjuangan Nancy Matthews dalam mendidik anaknya. Menarik bukan ? Pantang menyerah ! itu adalah satu dari sekian banyak poin penting dalam kisah tersebut. Bukti bahwa seseorang yang memiliki semangat pantang menyerah itu adalah bahwa seseorang itu mau terus berusaha, tidak mudah dikalahkan oleh keadaan, tidak mudah terpengaruhi oleh situasi sulit, sebaliknya dialah yang mengubah situasi tersebut, dari yang sulit menjadi mudah. Agak sulit memang melakukan nya, namun bukan berarti kita tak bisa melakukan nya kan ? dan Nancy Matthews telah membuktikan nya.
Keep running ! teruslah berlari ! teruslah dan berlari, dua kata menarik, yang akan kita pelajari bersama. Teman-teman  pasti sudah tau dengan kata –kata tersebut dong ?  Kata ‘teruslah’ disini berarti  bersinambung atau tiada henti, sedangkan kata ‘berlari’ disini maksudnya adalah ‘bergerak’ (tidak diam saja/ melakukan usaha) dengan lebih (tidak biasanya). Jadi, kunci untuk tidak mudah menyerah adalah cobalah terus-menerus ! ‘berlari’lah terus-menerus! Keep running !
Namun, tidak menutup kemungkinan,  bahwa ada juga faktor –faktor yang tidak mendukung kita untuk bisa bergerak mencapai tujuan kita. Seperti takut gagal, tidak percaya pada potensi diri, dan tidak mendapat dukungan dari orang lain.
                Takut gagal
Takut adalah hal yang wajar, namun jika rasa takut itu jadi menghalangi kita untuk melangkah maju, itulah yang berbahaya. Takut bukan untuk dihindari, tapi dicari solusi nya. Percayalah bahwa setiap orang punya kemampuan untuk dapat mengatasi masalah dalam hidupnya, dan hal itu didapat dari pengalaman, dan pengalaman itu didapat setelah kita mencoba nya, jadi jangan takut untuk gagal.

Tidak Percaya Diri
Tidak percaya diri dikarenakan seseorang tidak mengenal betul siapa dirinya. Dalam artikel sebelumnya, dijelaskan bahwa setiap kita punya potensi dan perannya masing-masing yang telah ditentukan dan diberikan langsung dari Tuhan pada kita sebagai bentuk keberhargaan diri kita. So, ga usah lagi ngerasa minder ato tidak percaya diri

Tidak mendapat Dukungan
Coba kita lihat tokoh-tokoh besar dunia yang telah berhasil dalam bidang nya, justru banyak dari mereka yang berhasil walalupun tidak mendapat dukungan (penolakan). Seperti kisah di atas, Thomas Alva Edison pun mengalami penolakan dari sekolah nya, lalu ada J.K Rowling penulis yang harus mengalami penolakan lebih dari 10 penerbit sebelum akhirnya novel nya bisa kita kenal sekarang ini.
Saya percaya bahwa setiap kita juga pasti memiliki pengalaman tersendiri tentang perjuangan dan semangat kita dalam menggapai sesuatu, dan akan menyenangkan rasanya jika kita mengingatnya kembali, bagaimana kita berhasil mencapai tujuan kita, seperti sebuah kemenangan besar. Bayangkan jika kita dapat mengalami kemenangan itu setiap hari ? wah, pasti hidup kita juga ga akan biasa-biasa aja yah. Coba ingat-ingat lagi pengalaman kita saat berhasil jadi juara kelas atau saat kita berhasil menjuarai suatu perlombaan, atau ketika kita berhasil menolong orang lain yang kehilangan barang berharganya, atau ketika kita menjadikan hidup kita berharga buat orang lain disekitar kita, waaaahh, semua itu menyenangkan bukan ?
Sama seperti semangat yang dimiliki Nancy Matthews dalam mendidik anaknya, yang seakan menghidupkan dunia, kita juga harus memiliki semangat pantang menyerah seperti itu. Coba bayangkan jika Nancy Mattews, ibu nya Thommy menyerah dengan keadaan anaknya yang bodoh, agak tuli, dan mau dikeluarkan dari sekolah, mungkin dunia ini masih gelap karena tidak adanya lampu yang diciptakan oleh Thomas Alva Edison.
Jadi, teman-teman, kita harus yakin bahwa dengan semangat yang kita miliki, kita juga mampu menghidupkan dunia. Mungkin saat ini kita sudah punya rencana dan impian untuk masa depan kita, dan dari apa yang saat ini sedang kita kejar dan impikan, jika kita terus mengejarnya dengan semangat seperti yang ditunjukan oleh ibu Thomas Alva Edison, maka kita juga akan mampu untuk menghidupkan dunia dengan setiap potensi yang telah Tuhan berikan dan dengan karya yang akan kita ciptakan. Semangat ‘n keep running !

Wednesday, June 8, 2016

Apa 'Peran'mu ?

APA ‘PERAN’MU ?

Seseorang mulai menyadari ‘peran’ nya ketika memasuki masa remaja. Masa remaja ini dialami mulai usia 11 – 19 tahun. Banyak yang menyadari  masa remaja ini adalah  fase dimana seseorang mencari jati dirinya. Ini merupakan fase yang sulit, karena dalam fase ini seseorang mulai diperhadapkan seperti dalam sebuah persimpangan, yakni antara masa anak-anak dan masa dewasa. Di masa transisi ini seseorang mengalami masa sulit karena ia akan mengalami hal yang yang tidak pernah ia alami sebelumnya di masa anak-anak.  Nah, pada masa ini lah seseorang juga akan mulai bertanya-tanya tentang dirinya seperti, siapa aku ? bagaimana aku di masa depan ? apa yang dapat aku lakukan ? dan pertanyaan lain yang berkaitan dengan kehidupannya, yang selanjutnya hal itu disebut dengan identitas.

Setiap kita memiliki identitas. Identitas kita sebagai warga negara, identitas sebagai kaum laki-laki atau perempuan, identitas sebagai orang tua, identitas sebagai anak, identitas sebagai kaum pekerja, atau mahasiswa, atau pelajar dan identitas lain yang mengacu kepada ciri atau keadaan diri kita. Identitas juga sering disebut dengan jati diri. Ada sebuah istilah yang sudah tidak asing lagi dan yang sering kita dengar yaitu istilah ‘mencari jati diri’. Istilah itu digunakan untuk menggambarkan seseorang yang masih labil, atau dengan kata lain menggambarkan seseorang yang tidak tahu bagaimana harus bertindak, bersikap, atau ‘berperan’ dalam hidupnya. Kita telah dipercayakan Tuhan di dunia ini untuk menjalankan ‘peran’. Dan untuk itulah kita hidup ! dan ‘peran’ yang Tuhan percayakan itu tentu adalah ‘peran’ yang baik. Namun kenyataan nya tidak semua orang yang ada di dunia ini, menjalankan ‘peran’ kebaikannya. Dari hal itu muncul pertanyaan, apa yang menyebabkan mereka demikian ? dan muncul juga pertanyaan lanjutan seperti, apakah mereka masih memiliki identitas atau ‘peran’ yang Tuhan percayakan ?
Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita harus sepakat terlebih dahulu akan satu hal, dalam hal ini kita percaya bahwa setiap kita telah diberikan Tuhan ‘peran’ yang baik, setuju ? sepakat ? ayo kita bayangkan lagi ketika kita lahir, kita yakin bahwa kita telah ‘diberikan identitas’, yakni identitas sebagai pemenang, sehingga kita dapat lahir ke dunia ini. Jadi kita sepakat bahwa dari awal, identitas kita adalah seorang pemenang ! Namun selanjutnya, banyak hal yang mempengaruhi perkembangan identitas atau jati diri seseorang itu seperti diantaranya keluarga, budaya, agama, lingkungan, dll,  yang membuat identitas itu pudar bahkan hilang.
Lingkungan-lingkungan tersebutlah yang selanjutnya membentuk identitas kita. Seharusnya semua berjalan baik, bahkan semakin baik. Namun masalahnya tidak semua lingkungan tempat kita hidup dan berkembang memiliki dampak yang positif buat hidup kita. Bagi seseorang  yang hidup dalam lingkungan yang baik, maka ia akan menjadi seseorang dengan identitas yang semakin baik, lalu bagaimana dengan yang tidak ? seseorang yang hidup dan berkembang dalam lingkungan yang tidak baik tidak menutup kemungkinan bahwa hal itu akan berdampak yang tidak baik pula pada idenitas orang tersebut.
Bagaimana solusinya agar kita tetap bisa memiliki identitas kita sebagai pemenang ? yang pertama tentu kita harus kembali dan semakin dekat kepada Sang Pemberi Identitas yaitu Tuhan yang telah menciptakan kita. Selanjutnya, adalah solusi yang saya dapatkan dari sebuah pengetahuan tentang pengembangan diri manusia yaitu NLP ( Neuro, Linguistic, programming ) .
Ada 4 area dalam diri anda yang mampu digunakan untuk  mendapatkan transformasi yang lebih baik lagi. 4 Area yang akan saya bahas kali ini, akan saya urutkan sesuai dengan lapisan-lapisan kesadaran manusia, mulai dari yang paling disadari sampai yang tidak disadari.
Area Pertama : KATA!
Yes, “Kata”.  Setiap kata yang keluar dari mulut kita, itu merupakan perwakilan dari citra diri  dan dunia kita.  Jadi, gunakanlah kata-kata yang menunjukan dunia yang kita inginkan, bukan yang kita hindari.
Contoh : Hidup saya Runyam. —-> Perbaikannya : Hidup saya penuh dengan pembelajaran.
Area kedua : Pengalaman!
Pengalaman kita sangat terkait dengan “Mental movie”- Setiap reaksi kita dimulai dari menta movie / film internal dalam pikiran kita, dan mental movie tersebut seringkali mengambil database dari pengalaman-pengalaman kita. Oleh karena itu, dengan merubah mental movie pada pikiran kita , kita mampu memaknai ulang pengalaman kita.
Area Ketiga : Persepsi!
Area ini termasuk pada lapisan kesadaran yang  cukup dalam, umumnya manusia tidak sadar tetang persepsi yang mereka miliki.  Persepsi kita membuat kita melihat dunia secara berbeda dengan orang lain. Cara kita melihat dunia, ditunjukan dengan perilaku kita. Jika kita dapat mem-persepsikan sesuatu dengan lebih bijak, maka tanpa disadari perilaku kitapun berubah.
Area Ke-empat : Intensi!
Area ini merupakan area yang paling dalam, yang berpengaruh lebih besar dari pada  ketiga area sebelumnya. Seringkali manusia tidak sadar akan alasan atau tujuan dasar perubahan mereka (Reason behind the Reason) . Manusia cenderung bertindak dengan alasan yang tidak solid, yah tidak heran jika perubahan itu hanya sementara, atau tidak optimal. Oleh karena itu jika kita ingin berubah/ transformasi, temukan alasan sesungguhnya. Ketika kita sudah menemukan alasan sesungguhnya, kita mungkin akan menemukan cara yang efisien dan efektif dalam mencapai transformasi kita.
            percaya bahwa identitas kita adalah pemenang ? siap bertindak sebagai pemenang ? So, jangan lagi kita berpikir bahwa diri kita tidak berharga dan tidak berpotensi, dan jangan lah kita membatasi diri kita sendiri, karena dunia ini sudah menunggu pemenang-pemennag seperti kita. Semangat !

penulis:hendrijoharis@gmail.com


Monday, June 6, 2016

Memanusiakan Manusia

Memanusiakan Manusia
Kita semua pasti tidak asing dengan istilah ‘manusia’. Tentu saja, bahkan setiap kita merasa yakin bahwa kita adalah manusia. Sebenarnya apasih manusia itu ? Nah, dijelaskan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), manusia adalah makhluk yang berakal budi (mampu menguasai mahkluk lain). Kata istilah ‘Akal Budi’ merupakan ungkapan resmi dalam Bahasa Indonesia yang berarti pikiran yang sehat. Jadi akal budi itu adalah pikiran yang sehat.
Setiap kita pasti percaya bahwa kita memiliki akal budi, dan bahkan mungkin menganggap bahwa kita merupakan mahkluk terpintar dan paling berakal budi dibandingkan mahkluk hidup lainnya seperti hewan atau tumbuhan. Namun sudahkah kita benar-benar pintar dan berakal budi ? Jika berkaca pada apa yang akhir-akhir ini sering terjadi, seperti tingginya tindak kekerasan antara seorang dengan yang lainnya, maraknya tindak kriminalitas atau kurangnya sikap toleransi terhadap ke-bhinneka-an yang ada di lingkungan kita atau bahkan masih sulitnya kita mentaati peraturan di lingkungan kita dengan masih membuang sampah sembarangan, maka belumlah kita benar-benar  menjadi mahkluk yang berakal budi.
Banyak sekali ilmu yang mempelajari tentang manusia. Contohnya seperti antropologi, yaitu ilmu yang mempelajari manusia dari segi kebudayaan nya, lalu sosiologi, yaitu ilmu yang mempelajari manusia dari segi kemasyarakatannya, lain lagi dengan psikologi, yaitu ilmu yang mempelajari manusia dari segi perilaku dan fungsi mental nya, dan masih banyak ilmu yang lainnya. Dalam istilah lain, ilmu-ilmu tersebut disebut juga dengan humaniora. Humaniora adalah ilmu-ilmu pengetahuan yang dianggap bertujuan membuat manusia menjadi lebih manusiawi. Namun, cukupkah ilmu-ilmu tersebut benar-benar membuat manusia lebih manusiawi ?
Untuk menjawab pertanyaan di atas, mari kita lihat salah satu statistik tentang tingkat kejahatan yang ada di Indonesia . Menurut sumber Badan Pusat Statistik (BPS) selama periode tahun 2013 setiap 1 menit 32 detik terjadi satu tindakan criminal di Indonesia. Sementara itu dari 100.000 orang di Indonesia, 140 diantaranya beresiko terkena tindak kejahatan. Wah, berbahaya bukan ? semoga kita tidak termasuk ke dalam salah satu dari orang-orang yang beresiko terkena tindak kejahatan tersebut atau bahkan jangan juga kita menjadi salah satu dari pelakunya, haha
Melalui statistik yang sudah kita baca sebelumnya, menandakan bahwa tidak semua orang memberlakukan manusia lain sebagai manusia, sederhananya adalah tidak semua orang memiliki sifat manusiawi terhadap orang lain. Hal itu juga menandakan bahwa tidaklah cukup jika kita hanya mengandalkan humaniora, yaitu ilmu-ilmu tentang kemanusiaan, untuk dapat mengubah kehidupan seseorang menjadi lebih manusiawi. Oleh karena itu penting bagi setiap kita untuk mengambil peran dalam proses memanusiakan manusia ini.
Jadi kawan-kawan, marilah kita ambil peran kita sebagai orang-orang pembawa perubahan melalui sikap manusiawi kita. Percayalah bahwa setiap kita punya potensi menjadi penolong buat orang lain, percayalah bahwa setiap kita memiliki kemampuan untuk dapat ber-empati kepada orang lain, percayalah bahwa setiap kita mampu untuk dapat memanusiakan manusia yang lain nya, dan percayalah bahwa dengan setiap perubahan yang kita lakukan, kita telah mengambil peran dalam proses mengurangi tingginya tingkat kejahatan, dengan perubahan kita, kita akan berhasil untuk mewujudkan kehidupan yang lebih aman dan damai, serta melalui peubahan hidup kita, kita telah telah berhasil menyampaikan pesan kasih dan perdamaian itu.
So teman-teman, siap ambil peran kan ? siap melakukan perubahan dong ?
“Barang siapa mempunyai sumbangan pada kemanusiaan dia tetap terhormat sepanjang jaman, bukan kehormatan sementara. Mungkin orang itu tidak mendapatkan sesuatu sukses dalam hidupnya, mungkin dia tidak mempunyai sahabat, mungkin tak mempunyai kekuasaan barang secuwil pun. Namun umat manusia akan menghormati karena jasa-jasanya.” 
 
Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu 2

Terima kasih, untuk setiap waktu dan kesempatan nya untuk membaca artikel ini, semoga kita sama-sama bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik lagi
Penulis sangat terbuka untuk setiap saran dan kritik dari pembaca.

Untuk setiap saran dan kritik dapat disampaikan melalui email : hendrijoharis@gmail.com