Hanya Semangkuk Nasi
Pada suatu ketika hiduplah
seorang pria bijak yang dikenal karena memiliki kemampuan untuk memecahkan
masalah yang sulit. Suatu hari dia kedatangan dua pengunjung yang membutuhkan nasihatnya.
Mereka berdua adalah pria muda yang sopan dan masing-masing dari mereka bersikeras
saling melempar giliran untuk bertanya lebih dulu kepada orang bijak tersebut.
Setelah beberapa diskusi akhirnya
mereka menyimpulkan bahwa pada dasarnya pertanyaan mereka sama. Jadi mereka memutuskan
untuk berbicara pada orang bijak itu secara bersamaan. Salah satu pemuda itu
bertanya pada tuan bijak, “masalah kita serupa, kita berdua hanyalah karyawan level
rendah yang diperlakukan buruk di tempat kerja. Bahkan kami tidak dihormati
sama sekali dan atasan kami terus-menerus menekan kami, bisakah Anda memberi
kami solusi, haruskah kami harus berhenti dari pekerjaan kami?”
Orang bijak itu menutup matanya dan bermeditasi. Cukup lama kedua pemuda itu menunggu dengan sabar sampai akhirnya orang bijak itu membuka matanya, dia memberi mereka jawaban dalam tiga kata “hanya semangkuk nasi” Mendengar jawaban itu, kedua pemuda tersebut berterima kasih kepada orang bijak dan segera pulang.
Mereka mulai merenungkan
jawabannya saat mereka berjalan kembali pulang ke kota setelah beberapa saat
salah satu dari mereka memecah sunyni dalam perenungan mereka. “Menarik,
bagaimana menurutmu jawaban orang bijak itu?” Pemuda lainnya menanggapi dengan
bijak, “cukup jelas bahwa mangkuk nasi mewakili makanan sehari-hari kita”
“Saya setuju” Kata pemuda pertama, “menurutku dia memberi
tahu kita bahwa pekerjaan itu tidak lebih berarti dari sekedar mencari nafkah.”
“ya, jika kamu benar-benar ingin melakukannya, hanya itu yang kami dapatkan
dari pekerjaan yaitu makanan sehari-hari kita” Akhirnya mereka memilih untuk
mengambil keputusan yang berbeda. Salah satu dari mereka terus bekerja di tempat
yang sama sedangkan yang lain menyerahkan surat pengunduran diri.
Segera setelah dia kembali, dia pulang
ke pedesaan dan kembali ke kehidupan nya untuk bertani. Setelah beberapa tahun
pemuda ini mencapai kesuksesan yang cukup besar sebagai petani. Dia menggunakan
apa yang telah dia pelajari di kota, mengimpor benih. Buah dan sayur yang dia
tanam menjadi tanaman yang tumbuh dengan kualitas yang tinggi bahkan dikenal
sebagai yang terbaik di kawasan ini. Dia tidak hanya menikmati keuntungan besar
tetapi juga mendapatkan reputasi sebagai seorang ahli dalam pertanian.
Pemuda yang lain yang bertahan di
tempat kerja juga melakukan nya dengan baik. Ia melakukannya dengan baik
seolah-olah dia menjadi “seseorang yang berbeda”. Dia mengambil tugas yang
sulit dan memperlihatkan kemampuan untuk menangani kesulitan. Dia naik pangkat
dan menerima promosi sampai dia menjadi seorang manajer.
Suatu hari mereka berdua bertemu
lagi. Mereka dipertemukan dalam sebuah kesempatan yang tidak terduga. Setelah
mereka bertemu satu sama lain mereka menyadari bahwa mereka telah mengambil dua
jalur yang sangat berbeda. Berdasarkan jawaban yang sama persis dari orang
bijak yang mereka temui sebelumnya. Mereka berdua kaya dan bahagia tapi sebenarnya
jalan mana yang paling benar?
“Sungguh aneh” Ucap manajer itu, bingung.
“Orang bijak itu mengatakan hal yang sama untuk kita dan kita
berdua mendengarnya dengan cara yang sama juga, lalu mengapa kamu berhenti?” Petani
itu juga bingung.
Aku segera mengerti kata-katanya
orang bijak itu bahwa pekerjaan itu tidak lebih dari sekedar sarana untuk
mendapatkan makanan sehari-hari. Jadi mengapa memaksakan diri untuk tinggal di
situasi yang mengerikan hanya untuk semangkuk nasi? Berhenti itu adalah jelas keputusan
yang tepat untuk dilakukan. Mengapa kamu bertahan?” Tanya Petani. “Aku juga
berpikir demikian” Manajer itu tertawa. “Pekerjaan itu tidak lebih dari
semangkuk nasi, jadi kenapa aku harus jadi begitu kesal?”
Segera setelah aku mengerti ini, aku
menyadari tidak perlu bagiku untuk menjadi begitu kesal. Meskipun aku menerima banyak
pelecehan dan dianggap rendah, Aku tidak harus menaggapi nya secara personal. Jadi
tentu saja aku bertahan pada pekerjaan itu. Bukankah itu yang orang bijak itu maksud?
“Sekarang Aku benar-benar bingung” Ucap Petani, menanggapi. “Apakah yang dia
maksud itu adalah jalanmu atau jalanku? Mari kita pergi dan menemuinya lagi”
Sekali lagi mereka menemui orang
bijak itu dan menjelaskan alasan kunjungan mereka. “Seperti yang Anda lihat
tuan, kami benar-benar ingin tahu arti sebenarnya dari nasihat Anda
bertahun-tahun yang lalu. Dapatkah Anda memberi kami?” Lagi, orang bijak itu
memejamkan kedua matanya. Dan kembali kedua pemuda menunggu dengan sabar
seperti sebelumnya.
Setelah selesai, orang bijak
membuka matanya dan memberi mereka jawabannya lagi dalam tiga kata. “Hanya
perbedaan pemikiran.”
Kalian mengerti? Lihatlah, dalam hidup kita, kita semua
memiliki jalan masing-masing untuk diikuti. Keadaan pikiran kita sama seperti
sungai mengalir menuruni bukit. Tidak peduli arah mana yang akan kita ambil, kita
akan sampai pada tujuan kita. Kebahagiaan tiap-tiap oorang memiliki caranya
sendiri. Jadi, pergilah dan raih kebahagiaan kita. Itu hanya semangkuk nasi.

No comments:
Post a Comment