Friday, September 21, 2018

Jangan Benci Sendiri


“Sepi tak selalu berarti sendiri
Bisa saja banyak yang menemani, tapi itu bukanlah esensi
Boleh saja klaim banyak pendukung
Tapi, berapa banyak yang datang ketika hari mu mendung?
Boleh saja memamerkan bersatu
Tapi berapa banyak siap memberi bahu, bahkan ketika banyak yang tidak mau?
Boleh saja banyak yang mengenalmu, bahkan ketika kau tidak memberi tahu
Tapi berapa banyak yang peduli, bahkan ketika kau tak berharap untuk dicari?
Seru ketika kau sendiri dan hanya bercumbu dengan waktu,
Kau akan tahu siapa duniamu.”

Tulisan itu lahir dari obrolan di instagram

Aku sedang melanjutkan tulisan lama ku ketika seseorang mengirimkan pesan padaku di instagram.
“bang, ‘beda’ itu ga salah kan ya?”. Aah ternyata dia, lama ga ngobrol. Kami sempat ada di kelas yang sama saat aku masih ngajar si salah satu yayasan anak yang bermitra dengan salah satu gereja di daerah Antapani.

Aku meninggalkan tulisanku untuk membuka pesan itu, terlihat ada tanda bahwa ia sedang mengetik sesuatu melanjutkan pertanyaannya
“tapi orang2 teh asa cepet banget nge-judge”. Aku tersenyum membacanya.
Dia sedang ada dalam babak baru dalam pergaulannya di tingkatan pendidikan yang juga baru. Seru.
 Aku tidak langsung menjawabnya, aku memilih untuk mendengar semua ceritanya dulu. Bakal jadi obrolan yang panjang, pikirku.

Dan benar saja, banyak hal yang dia ceritakan. Tapi intinya semua mengarah pada pertanyaan yang sebelumnya sudah ia tanyakan di awal.
“Tidak ada yang salah dengan perbedaan, Yang salah adalah justru yang mempersalahkannya”, jawabku.

Aku kini mendekat pada keyboard dan layar komputer. “Orang lain berhak menilaimu tanpa tau siapa dirimu, tapi kamu juga berhak untuk tidak peduli pada itu semua”, tulisku melanjutkan.

Aku teringat pernah ada dalam posisi itu beberapa tahun yang lalu.
Ketika yang kulakukan justru berbeda dengan apa yang orang lain lakukan, memang ada dukungan tpi tidak sedikit juga yang menjatuhkan, bahkan dari orang-orang terdekat di sekitar. Seru pikirku.

"Selamat berperang, kamu punya kendali untuk menentukan apa yang mereka katakan." Kataku sebelum mengakhiri percakapan.

No comments:

Post a Comment