Tuesday, August 16, 2016

Aktif atau Reaktif ? MERDEKA !!

Aktif atau Reaktif ? MERDEKA !!

                Kayanya ga asik ya kalau di bulan agustus kita ‘ga ngebahas tentang bangsa kita, bangsa Indonesia. Udah menjadi jadwal rutin bahwa setiap bulan agustus di tiap tahun nya kita memperingati Hari Ulang Tahun(HUT) negara kita. Dan kita patut berbangga pada hal itu, karena hal itu menggambarkan semangat kita dalam menyambut kemerdekaan bangsa ini. Di tahun ini tepat 71 tahun bangsa kita merdeka. Kita semua pasti tahu bahwa bukan hal yang mudah untuk bisa merdeka, dan memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, banyak perjuangan, pertumpahan darah, bahkan nyawa melayang untuk bisa merebut kemerdekaan bangsa kita.
                Kita semua juga mungkin tahu bahkan, setelah Indonesia memproklamirkan kemeredekaan nya pun masih ada peperangan yang terjadi, sebut saja konflik antara Indonesia dan Belanda, dan hadirnya organisasi NICA, ada juga pertempuran Surabaya yang terjadi 10 November 1945, pertempuran ambarawa, dan pertempuran-pertempuran lainnya, termasuk hingga peperangan melawan PKI, dan bahkan sampai saat ini pun bangsa kita masih terus berperang, ya, berperang melawan bangsa sendiri.
                Kalau begitu, genaplah sudah pesan yang disampaikan oleh Bung Karno “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu lebih susah karena melawan bangsamu sendiri
Jika melihat dari isi pidato presiden RI saat ini, Presiden Joko Widodo, dalam pidato kenegaraannya hari ini tgl 16 Agustus 2016, beliau juga mengatakan dalam pidato nya bahwa bangsa ini belum berhasil menang melawan pengangguran dan kemiskinan. Inilah peperangan yang sedang bangsa kita hadapi.
Sayangnya tidak semua orang di bangsa ini menyadari hal itu, bahkan tidak sedikit juga yang membuka “kran” peperangan baru, dengan mengangkat isu SARA.
Yang bangsa kita butuhkan adalah momentum kebersamaan !! tanpa melihat adanya perbedaan. Jika dalam peperangan sebelum bangsa ini merdeka saja kita semua bisa bersatu, tanpa melihat Suku, Agama, Ras, Adat istiadat, atau hal lainnya, kebersamaan itulah yang membawa kita kepada kemenangan yang memerdekakan.
Menjadi berbeda ketika saat ini yang terlihat di bangsa kita adalah lebih dominannya kepentingan kelompok diatas kepentingan bangsa ini, jika mengaca pada bidang politik, seakan semuanya sudah tergambarkan disana. Bagaimana yang terlihat bukannya gotong royong, bukan semangat persatuan, tetapi masyarakat dipertontonkan sikap saling menjatuhkan, saling menjegal, saling mencari kepentingan dan kemnangan masing-masing kelompok politik.
Pertanyaan nya adalah, apa yang bisa kita lakukan ?
Jika kita melihat lagi dalam proses pembentukan kemerdekaan bangsa ini, bangsa ini dipelopori oleh anak muda, bernama Soekarno, bagaimana tidak, bahkan di umurnya yang saat itu baru berumur 27tahun, ia sudah merancang bentuk negara ini, melalui kongres sumpah pemuda.
Kita harus melihat dan menyadari bahwa bangsa ini dibangun oleh pemuda-pemuda yang ada di bangsa kita. Itu juga yang seharusnya menyadari kita bahwa, semangat pemuda itulah yang bisa membawa kita turut membangun bangsa ini.
Tak bisa dipungkiri bahwa bangsa kita sedang ada dalam peperangan itu. Berperang melawan bangsa nya sendiri.  Ironinya, tidak sedikit dari pemuda bangsa kita juga yang pesimis dan bahkan mengutuki bangsa ini.
“Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka.” (Pidato HUT Proklamasi 1963 Bung Karno)
Sebagai contoh akhir-akhir ini di moment bulan kemerdekaan ini, banyak akun di media sosial yang mem-posting tentang hal-hal yang membangun semangat persatuan, tapi kalo kita lihat di kolom komentar, justru banyak yang malah “adu pintar” di kolom komentar, atau bahkan mengutuki bangsa ini. Itu adalah fenomena yang tak ter-elak-kan.
Ada 2 sikap yang bisa kita pilih dalam menanggapi hal-hal seperti itu
Yang Pertama, adalah sikap AKTIF
sikap aktif disini berarti kita tidak terpengaruh dengan situasi tersebut, sebaliknya kita lah yang memberikan pengaruh buat mereka. Sikap ini penting dimiliki oleh setiap kita untuk menciptakan semangat persatuan. Karena yang dibutuhkan bangsa ini adalah orang-orang yang mau menjadi dampak, dan menciptakan semangat kebersamaan itu, bukan orang-orang pesimis yang turut larut mengutuki bangsa ini.
Yang Kedua, adalah sikap REAKTIF
Sikap reaktif disini berarti kita yang terpengaruh oleh situasi, dan tidak bisa mempengaruhi situasi tersebut. Jika situasi yang terjadi adalah kekacauan, orang-orang yang memilih sikap reaktif mereka akan cenderung mengikuti situasi tersebut, mereka tidak muncul dengan solusi, tapi muncul untuk turut merusak situasi. Orang-orang reaktif adaah orang-orang pesimis yang mudah terpengaruh.
Kita sebagai pemuda dan tulang punggung bangsa, tentu tahgu sikap mana yang harus kita ambil. Bangsa ini butuh pemuda-pemuda dengan jiwa-jiwa semangat ‘Soekarno’ yang dimasa mudanya ia gunakan untuk ‘merancang’ kemerdekaan bangsa ini.
Ada sebuah statement menarik yang berkata :
 “jangan mengutuki kegelapan, tetapi bawalah terang kepada kegelapan itu”
Mari, kita sama-sama menjadi pemuda yang membawa TERANG, bukan pemuda yang mengutuki kegelapan.
Artikel kali ini akan saya tutup dengan sebuah statement menarik dari seorang penulis dan comedian Panji Pragiwaksono
“ada 2 tipe pemuda, yang pertama adalah pemuda yang membawa perubahan, yang kedua adalah pemuda yang menuntut perubahan,” kamu pemuda yang mana ? –Panji Pragiwaksono-


No comments:

Post a Comment