Aktif atau Reaktif ? MERDEKA !!
Kayanya
ga asik ya kalau di bulan agustus kita ‘ga ngebahas tentang bangsa kita, bangsa
Indonesia. Udah menjadi jadwal rutin bahwa setiap bulan agustus di tiap tahun
nya kita memperingati Hari Ulang Tahun(HUT) negara kita. Dan kita patut
berbangga pada hal itu, karena hal itu menggambarkan semangat kita dalam
menyambut kemerdekaan bangsa ini. Di tahun ini tepat 71 tahun bangsa kita
merdeka. Kita semua pasti tahu bahwa bukan hal yang mudah untuk bisa merdeka,
dan memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, banyak perjuangan, pertumpahan
darah, bahkan nyawa melayang untuk bisa merebut kemerdekaan bangsa kita.
Kita
semua juga mungkin tahu bahkan, setelah Indonesia memproklamirkan kemeredekaan
nya pun masih ada peperangan yang terjadi, sebut saja konflik antara Indonesia dan
Belanda, dan hadirnya organisasi NICA, ada juga pertempuran Surabaya yang
terjadi 10 November 1945, pertempuran ambarawa, dan pertempuran-pertempuran
lainnya, termasuk hingga peperangan melawan PKI, dan bahkan sampai saat ini pun
bangsa kita masih terus berperang, ya, berperang melawan bangsa sendiri.
Kalau
begitu, genaplah sudah pesan yang disampaikan oleh Bung Karno “Perjuanganku
lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu lebih susah karena melawan bangsamu sendiri”
Jika
melihat dari isi pidato presiden RI saat ini, Presiden Joko Widodo, dalam
pidato kenegaraannya hari ini tgl 16 Agustus 2016, beliau juga mengatakan dalam
pidato nya bahwa bangsa ini belum berhasil menang melawan pengangguran dan
kemiskinan. Inilah peperangan yang sedang bangsa kita hadapi.
Sayangnya
tidak semua orang di bangsa ini menyadari hal itu, bahkan tidak sedikit juga
yang membuka “kran” peperangan baru, dengan mengangkat isu SARA.
Yang
bangsa kita butuhkan adalah momentum kebersamaan !! tanpa melihat adanya
perbedaan. Jika dalam peperangan sebelum bangsa ini merdeka saja kita semua
bisa bersatu, tanpa melihat Suku, Agama, Ras, Adat istiadat, atau hal lainnya, kebersamaan
itulah yang membawa kita kepada kemenangan yang memerdekakan.
Menjadi
berbeda ketika saat ini yang terlihat di bangsa kita adalah lebih dominannya
kepentingan kelompok diatas kepentingan bangsa ini, jika mengaca pada bidang
politik, seakan semuanya sudah tergambarkan disana. Bagaimana yang terlihat
bukannya gotong royong, bukan semangat persatuan, tetapi masyarakat
dipertontonkan sikap saling menjatuhkan, saling menjegal, saling mencari
kepentingan dan kemnangan masing-masing kelompok politik.
Pertanyaan
nya adalah, apa yang bisa kita lakukan ?
Jika
kita melihat lagi dalam proses pembentukan kemerdekaan bangsa ini, bangsa ini
dipelopori oleh anak muda, bernama Soekarno, bagaimana tidak, bahkan di umurnya
yang saat itu baru berumur 27tahun, ia sudah merancang bentuk negara ini,
melalui kongres sumpah pemuda.
Kita
harus melihat dan menyadari bahwa bangsa ini dibangun oleh pemuda-pemuda yang
ada di bangsa kita. Itu juga yang seharusnya menyadari kita bahwa, semangat
pemuda itulah yang bisa membawa kita turut membangun bangsa ini.
Tak
bisa dipungkiri bahwa bangsa kita sedang ada dalam peperangan itu. Berperang melawan
bangsa nya sendiri. Ironinya, tidak sedikit
dari pemuda bangsa kita juga yang pesimis dan bahkan mengutuki bangsa ini.
“Bangsa yang tidak percaya kepada kekuatan dirinya sebagai
suatu bangsa, tidak dapat berdiri sebagai suatu bangsa yang merdeka.” (Pidato
HUT Proklamasi 1963 Bung Karno)
Sebagai
contoh akhir-akhir ini di moment bulan kemerdekaan ini, banyak akun di media
sosial yang mem-posting tentang hal-hal yang membangun semangat persatuan, tapi
kalo kita lihat di kolom komentar, justru banyak yang malah “adu pintar” di
kolom komentar, atau bahkan mengutuki bangsa ini. Itu adalah fenomena yang tak
ter-elak-kan.
Ada
2 sikap yang bisa kita pilih dalam menanggapi hal-hal seperti itu
Yang Pertama, adalah sikap AKTIF
sikap
aktif disini berarti kita tidak terpengaruh dengan situasi tersebut, sebaliknya
kita lah yang memberikan pengaruh buat mereka. Sikap ini penting dimiliki oleh
setiap kita untuk menciptakan semangat persatuan. Karena yang dibutuhkan bangsa
ini adalah orang-orang yang mau menjadi dampak, dan menciptakan semangat
kebersamaan itu, bukan orang-orang pesimis yang turut larut mengutuki bangsa
ini.
Yang Kedua, adalah sikap REAKTIF
Sikap
reaktif disini berarti kita yang terpengaruh oleh situasi, dan tidak bisa
mempengaruhi situasi tersebut. Jika situasi yang terjadi adalah kekacauan,
orang-orang yang memilih sikap reaktif mereka akan cenderung mengikuti situasi
tersebut, mereka tidak muncul dengan solusi, tapi muncul untuk turut merusak
situasi. Orang-orang reaktif adaah orang-orang pesimis yang mudah terpengaruh.
Kita
sebagai pemuda dan tulang punggung bangsa, tentu tahgu sikap mana yang harus
kita ambil. Bangsa ini butuh pemuda-pemuda dengan jiwa-jiwa semangat ‘Soekarno’
yang dimasa mudanya ia gunakan untuk ‘merancang’ kemerdekaan bangsa ini.
Ada
sebuah statement menarik yang berkata :
“jangan mengutuki kegelapan, tetapi bawalah
terang kepada kegelapan itu”
Mari,
kita sama-sama menjadi pemuda yang membawa TERANG, bukan pemuda yang mengutuki
kegelapan.
Artikel
kali ini akan saya tutup dengan sebuah statement menarik dari seorang penulis
dan comedian Panji Pragiwaksono
“ada
2 tipe pemuda, yang pertama adalah pemuda yang membawa perubahan, yang kedua
adalah pemuda yang menuntut perubahan,” kamu pemuda yang mana ? –Panji Pragiwaksono-
No comments:
Post a Comment