Hati, Pikiran, dan Si Impian
Hari yang
sama dalam pekan yang berbeda. Seperti biasa,
layaknya sebuah jadwal rutin seumpama datangnya si raja siang yang menendang bulan
dengan segala rekan kegelapan nya, hari ini saya kembali memulai kegiatan baru
di dunia baru dalam dunia penulisan. Sambil membaca kembali artikel sebelumnya
(Menembus Kemustahilan) yang baru berusia tujuh hari, berharap sesuatu datang
dan memberikan banyak menu baru untuk memenuhi pikiran dan menumpahkan nya
menjadi sebuah karya tulis yang dinanti.
Bukan hal
yang mudah untuk dapat segera menerima ide-ide baru. Mencoba melihat sekeliling
berharap dapat menemukan sesuatu. Teringat beberapa hari dalam pekan ini yang
datang ditemani hujan, datang menyaksikan dan melihat penuh keinginan, dapatkah
hujan itu berkata dan menyampaikan sesuatu ? sambil menunggu hujan berbicara,
pikiran ini teringat akan kebersamaan dalam liburan minggu ini, berharap si
liburan juga dapat berbicara dan menyampaikan sesuatu untuk dapat dituliskan
dan menjadi karya yang dinanti.
Di tengah
penantian tergadap si hujan dan si liburan, seakan datang teman lain yang
mencoba membantu untuk mengisi pikiran ini dengan ide-ide barunya. Mereka
adalah Si Impian dan Si Takut. Terlihat bahwa rekan yang baru datang ini mereka
berdua tampaknya bukan teman yang akur, mereka datang dengan perbekalan senjata
yang berbeda. Si Impian datang dengan menawarkan banyak hal-hal yang mengasikkan
dan menjanjikan, ia datang dengan semangatnya dengan wajah penuh keyakinan,
berharap saya dapat menerima semua senjata dan penawaran yang ia berikan. Berbeda
dengan Si Impian, Si Takut datang dengan senjata yang berbeda tapi tetap tak
bisa diabaikan juga. Si Takut datang dan mulai menawarkan senjatanya, ia datang
dan menawarkan kenyamanan, kesenangan, kemalasan, bahkan turut menawarkan
intimidasi.
Sambil berpikir
tentang tawaran Si Impian dan Si Takut, kembali saya melihat kepada rekan saya si
hujan dan si liburan, tapi tampaknya mereka belum siap untuk memberikan senjata
baru ke dalam pikiran saya saat ini. Alhasil saya meninggalkan dua rekan saya
sebelumnya, si hujan dan si liburan, dan berusaha bernegosiasi dengan rekan
baru saya Si Impian dan Si Takut. Hati mulai bekerja dan merasa mencari senjata
mana yang harus dipilih, tak mau kalah, pikiran juga mulai mengerjakan
bagiannya, berpikir senjata mana yang harus saya ambil.
Hati dan
Pikiran tentu bukan hal yang bersinonim, mereka punya peran nya masing-masing,
namun sepertinya mereka sudah mulai mampu utuk memutuskan senjata siapa yang
harus saya ambil. Sambil tersenyum, Hati berkata, “rasanya akan menyenangkan
jika hati dapat bermain dengan semangat, keseruan dan hal-hal menjanjikan yang Si Impian tawarkan”, pikiran datang
turut membantu dan berkata “saya pikir, pikiran ini akan semakin kuat jika
pikiran bercampur dengan semangat dan hal-hal lain yang Si Impian tawarkan”.
Berbekal
pada Hati dan Pikiran yang telah mengeluarkan suara nyaring nya, akhirnya kali
ini saya akan mengambil semua senjata yang ditawarkan oleh Si Impian. Dengan
bekal Hati, Pikiran dan semua senjata yang Si Impian berikan, saya mulai
kembali menulis dan berharap karya yang berhasil ditulis ini dapat membantu
teman-teman yang lain untuk dapat menemukan Si Impian dalam kehidupan pribadi
masing-masing. Kali ini sepertinya Hati, Pikiran, dan Si Impian berhasil
membawa saya kembali selangkah lebih maju untuk mencapai mimpi yang telah saya
rancang.
Dan sebelum
menutup pekerjaan hari ini, berharap bahwa setiap teman-teman yang telah
membaca dapat segera di kunjungi juga oleh Si Impian, berharap kalian bertemu
dan mendapatkan Si Impian juga, dan pesan terakhir adalah, jangan lupa libatkan
hati dan pikiran untuk dapat mengambil senjata Si Impian
Tengkyu, have a great day ! God Bless
No comments:
Post a Comment