Mari Mewarnai
Salah satu
hal yang saya sukai adalah ketika mengobrol bersama orang-orang terdekat. Teman
seperguruan di perkuliahan, ataupun seperguruan di pelayanan, dan
seperguruan-perguruan yang lain. Dengan mengobrol sepertinya saya bisa
mengetahui lebih banyak tentang orang lain, tak jarang juga hal-hal yang tidak
pernah diduga pun ternyata turut dibukakan. jika sudah begitu, topik apapun
sepertinya bakal selalu jadi bahan yang menarik untuk diperbincangkan.
Bukan sebuah
kebetulan kalau akhir-akhir ini saya bertemu dan ngobrol bersama beberapa orang
dari mereka, bahkan tak sedikit juga hal-hal yang bersifat pribadi menjadi
bahan perbincangan. Banyak hal yang diceritakan, baik pertemanan, hubungan,
keluarga, sampai kepada masalah argentina yang kalah dari brasil dengan skor
3-0. Selain menarik bisa ngobrol bareng, di sisi lain beruntung juga bisa punya
bagian untuk bisa menolong mereka, atau setidaknya memberikan dorongan atau
masukan untuk membantu mereka.
Dari obrolan
itu saya menyadari bahwa sepertinya setiap orang punya porsinya masing-masing
untuk bisa terus berkembang. Berkembang dengan menghadapi hal-hal baru dalam
hidupnya. Teman yang bercerita tentang pertemanan nya, merasa bahwa seakan dia
yang paling bersalah, teman yang bercerita tentang hubungan nya, merasa bahwa
seakan dia yang paling bingung, teman yang bercerita tentang keluarganya merasa
seakan dia yang paling sedih, yang lain yang bercerita tentang kekalahan
argentina malah tertawa dan bahkan makin merasa yakin dengan permainan
selanjutnya.
Ya begitulah,
apa yang dihadapi berbeda-beda, dan respon yang ditunjukkan pun berbeda. Dari itu
semua sepertinya kita juga bisa belajar banyak hal dari pengalaman mereka,
bahwa apa yang kita alami ya harus lah kita alami, apa yang sudah Tuhan
tetapkan untuk kita alami tak bisa kita hindari, tak ada pilihan untuk lari,
jalan nya hanyalah, hadapi !
Apa yang
kita alami belum tentu semua hal buruk, bahkan ketika kita diperhapkan dengan
hal-hal yang tidak baik itu pun bukan hal buruk yang Tuhan tentukan untuk kita,
tak jarang justru kita lah yang memaknai nya sebagai hal buruk, karena kita
percaya bahwa Tuhan tidak memberikan hal-hal buruk untuk umatnya,
Terkadang kita yang mempersepsikan sesuatu yang tidak
menyenangkan itu menjadi hal buruk, kita yang memaknai nya buruk, padahal belum
tentu demikian,
Jadi, seperti yang sudah saya sampaikan dalam artikel
sebelumnya (siapa Tuannya) kita lah yang memaknai sebuah yang kita alami, maka
maknai lah dengan baik
Jangan sampai kita diikat oleh asumsi yang ditimbulkan oleh
pikiran kita sendiri, asumsi ketika persepi mendahului esensi,
Jangan biarkan
persepsi kita menghilangkan esensi dari apa yang seharusnya kita terima
Kita yang memberi warna pada apa yang kita hadapi, maka
warnai lah dengan baik
Sampai pada akhirnya orang lain dapat melihat bahwa hidup
kita bukan hidup yang bermasalah, tetapi hidup yang penuh dengan warna,
Dan pastikan
bahwa itu adalah warna-warna yang terbaik.
“Sudut pandang itu pandangan yang tersudut. Itupun dari sekian banyak
sudut. Betapapun menarik sebuah sudut pandang ia bukan wakil seluruhan
pemandangan.”
-Prie GS-
No comments:
Post a Comment