Friday, January 19, 2018

Meskipun . . .

Meskipun . . .

Sebenernya saya udah ada dalam perenungan ini sejak tahun lalu. Oktober 2017 tepatnya. Seperti biasa, selalu ada ‘kerjaan’ tambahan di bulan Oktober. Ya, persiapan natal dan terlebih terlibat langsung dalam kepanitiaan adalah hal yang menarik bagi saya. Jujur, Saya mau menuliskan ini di bulan-bulan sebelumnya, tapi saya belum yakin sama apa yang saya pikir saat itu, sampai kejadian ini terjadi.

Seperti biasa, layaknya kids jaman now yang kerjaannya hanya scrol-scrol Instagram, sore itu saya sedang ada dalam aktivitas yang sama. Kalau kalian perhatiin pasti di ‘home’ kita di Instagram itu, diantara postingan orang-orang yang kita follow, kadang suka muncul iklan yang mempromosikan akun-akun bisnis dalam media berbagi foto di dunia maya tersebut.

Selain akun tentang musik, humor, judi bola, skin care, pelangsing, penggemuk, pembesar, dan lain semcamnya, sore itu ada yang menarik. Bukan promosi akun-akun itu yang muncul di beranda saya, tapi akun percetakan yang ada di daerah Yogyakarta. Sedikit info, sejak awal November kemaren saya sudah mengirimkan naskah buku saya yang berjudul “Half Of Us Is One For Us” ke salah satu penerbit mayor di Jakarta, tapi sudah 2 bulan tak ada panggilan dan seperti yang tertera di websitenya jika dalam dua bulan tidak mendapat panggilan berarti naskah yang saya ajukan itu ditolak.

Kembali ke iklan akun percetakan yang ada di beranda saya di Instagram tadi, bagi saya ini bukan hanya sekedar iklan. Tidak seperti iklan-iklan lain yang selalu saya skip, untuk akun  yang satu ini saya mampir ke akun tersebut dan menyempatkan diri bertanya-tanya terkait percetakan buku, dll. Setelah DM saya di Instagram ditanggapi, akhirnya obrolan kami berlanjut ke WA dan email. Singkat cerita akhirnya saya merasa bahwa ini adalah jalan keluar dari salah satu mimpi saya ingin bisa punya buku ciptaan sendiri.

Tapi jauh sebelum kejadian ini berlangsung, kembali ke awal cerita yang sudah saya mulai tadi, tepatnya bulan oktober tahun lalu, saya ada dalam sebuah perenungan yang menarik. Saya pernah ada dalam sebuah kegiatan rohani dalam sebuah yayasan anak di gereja, dan perlu di akui bahwa ada yang saya ‘dapat’ dari apa yang saya lakukan disana. Seperti apa yang keluarga saya selalu ajarkan, bahwa berapapun pendapatan yang saya dapat 10% nya harus saya ‘kembalikan’ untuk Tuhan. Saya dan umat kristiani lainnya menyebutnya dengan istilah Persepuluhan.

Sejak terlibat di Yayasan anak itu bulan Juli 2016 sampai Agustus 2017 saya selalu rutin memberikan persepuluhan. Tapi bukan itu esensinya, bukan karena saya memberikan persepuluhan, bukan juga karena berapa yang saya berikan, saya ada dalam sebuah perenungan bahwa, untuk apa saya melakukan semua itu ? saya sempat menjawabnya dalam pikiran saya bahwa saya melakukannya karena saya memang harus melakukannya. Keharusan. Bukan karena hal lain.

Sampai suatu waktu saya belajar satu hal. Hal itu diawali ketika saya bertanya pada diri sendiri, “kalau misalnya saya tetep ga punya penghasilan yang rutin dan pemasukan pas-pas-an, saya tetep mau bersyukur ga ya ?” Dalam hati saya mencoba meyakinkan diri dalam pertanyaan itu. “tentu, mengapa tidak ?”

Ujilah segala sesuatu. saya teringat dengan sebuah frasa yang indah itu.

Segala sesuatu perlu diuji untuk melihat kemurnian dan kebenarannya. Termasuk jawaban saya sebelumnya.

Saya mencoba menguji nya dengan berkomitmen pada diri sendiri untuk saya bisa tetap mengucap syukur dengan cara yang sama yang pernah saya lakukan ketika memiliki penghasilan meskipun tidak ada yang benar2 saya “hasilkan”.

Singkat cerita, saya tidak merasa gelisah. Rasa kekurangan ada, tapi itu tidak menjadi tolak ukur saya untuk mengucapsyukur. Bahkan saya cenderung lebih mengerti lagi arti mengucapsyukur ketika saya harus memberi dari apa yang sebenarnya tidak benar-benar saya miliki.

Dan tepatnya bulan lalu, saya mengalami hal-hal yang tak pernah saya pikirkan sebelumnya.
Seperti sebuah jalan baru yang terbuka sangat lebar.

Ada banyak hal yang justru saya terima tapi diluar ekspektasi saya.

Saya tidak mau megatakan semua itu terjadi karena saya, tapi saya jauh lebih percaya karena Tuhan mau melakukan bagiannya untuk saya

Perlu diketahui bahwa saya melakukannya bukan untuk mengharapkan pujian atau imbalan. Menceritakannnya pun tidak ada sebuah kebanggaan untuk diri sendiri.

Tapi ada satu hal besar yang saya pelajari, saya belajar untuk tetap memberi bukan karena apa yang saya miliki, tapi karena apa yang ingin saya berikan untuk DIA, Tuhan yang telah memberikan hidupnya untuk saya.

Saya juga belajar, bahwa apa yang saya miliki bukan menjadi tolak ukur untuk saya dapat memberi dan bersyukur, jauh dari pada itu, saya melihat bahwa saya bisa terus memberi dari apa yang saya miliki saat ini.

saya sempet bingung untuk “menggambarkan” pengalaman saya ini, tapi akhirnya saya menemukannya

“MESKIPUN”

Ya, sebuah kata yang berarti pertentangan

saya belajar bahwa keterbatasan bukan halangan.

Keterbatasan bisa ditentang dan bahkan mampu menghasilan buah yang besar.

Apa yang membatasimu untuk memulai langkah baru yang lebih baik ?
Anda bisa menentangnya
Ya, lakukanlah, meskipun . . .


No comments:

Post a Comment