Wednesday, April 28, 2021

Hanya Semangkuk Nasi

Hanya Semangkuk Nasi 


Pada suatu ketika hiduplah seorang pria bijak yang dikenal karena memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah yang sulit. Suatu hari dia kedatangan dua pengunjung yang membutuhkan nasihatnya. Mereka berdua adalah pria muda yang sopan dan masing-masing dari mereka bersikeras saling melempar giliran untuk bertanya lebih dulu kepada orang bijak tersebut.

Setelah beberapa diskusi akhirnya mereka menyimpulkan bahwa pada dasarnya pertanyaan mereka sama. Jadi mereka memutuskan untuk berbicara pada orang bijak itu secara bersamaan. Salah satu pemuda itu bertanya pada tuan bijak, “masalah kita serupa, kita berdua hanyalah karyawan level rendah yang diperlakukan buruk di tempat kerja. Bahkan kami tidak dihormati sama sekali dan atasan kami terus-menerus menekan kami, bisakah Anda memberi kami solusi, haruskah kami harus berhenti dari pekerjaan kami?”


Orang bijak itu menutup matanya dan bermeditasi. Cukup lama kedua pemuda itu menunggu dengan sabar sampai akhirnya orang bijak itu membuka matanya, dia memberi mereka jawaban dalam tiga kata “hanya semangkuk nasi” Mendengar jawaban itu, kedua pemuda tersebut berterima kasih kepada orang bijak dan segera pulang.

Mereka mulai merenungkan jawabannya saat mereka berjalan kembali pulang ke kota setelah beberapa saat salah satu dari mereka memecah sunyni dalam perenungan mereka. “Menarik, bagaimana menurutmu jawaban orang bijak itu?” Pemuda lainnya menanggapi dengan bijak, “cukup jelas bahwa mangkuk nasi mewakili makanan sehari-hari kita”

“Saya setuju” Kata pemuda pertama, “menurutku dia memberi tahu kita bahwa pekerjaan itu tidak lebih berarti dari sekedar mencari nafkah.” “ya, jika kamu benar-benar ingin melakukannya, hanya itu yang kami dapatkan dari pekerjaan yaitu makanan sehari-hari kita” Akhirnya mereka memilih untuk mengambil keputusan yang berbeda. Salah satu dari mereka terus bekerja di tempat yang sama sedangkan yang lain menyerahkan surat pengunduran diri.

Segera setelah dia kembali, dia pulang ke pedesaan dan kembali ke kehidupan nya untuk bertani. Setelah beberapa tahun pemuda ini mencapai kesuksesan yang cukup besar sebagai petani. Dia menggunakan apa yang telah dia pelajari di kota, mengimpor benih. Buah dan sayur yang dia tanam menjadi tanaman yang tumbuh dengan kualitas yang tinggi bahkan dikenal sebagai yang terbaik di kawasan ini. Dia tidak hanya menikmati keuntungan besar tetapi juga mendapatkan reputasi sebagai seorang ahli dalam pertanian.

Pemuda yang lain yang bertahan di tempat kerja juga melakukan nya dengan baik. Ia melakukannya dengan baik seolah-olah dia menjadi “seseorang yang berbeda”. Dia mengambil tugas yang sulit dan memperlihatkan kemampuan untuk menangani kesulitan. Dia naik pangkat dan menerima promosi sampai dia menjadi seorang manajer.

Suatu hari mereka berdua bertemu lagi. Mereka dipertemukan dalam sebuah kesempatan yang tidak terduga. Setelah mereka bertemu satu sama lain mereka menyadari bahwa mereka telah mengambil dua jalur yang sangat berbeda. Berdasarkan jawaban yang sama persis dari orang bijak yang mereka temui sebelumnya. Mereka berdua kaya dan bahagia tapi sebenarnya jalan mana yang paling benar?

“Sungguh aneh” Ucap manajer itu, bingung.

“Orang bijak itu mengatakan hal yang sama untuk kita dan kita berdua mendengarnya dengan cara yang sama juga, lalu mengapa kamu berhenti?” Petani itu juga bingung.

Aku segera mengerti kata-katanya orang bijak itu bahwa pekerjaan itu tidak lebih dari sekedar sarana untuk mendapatkan makanan sehari-hari. Jadi mengapa memaksakan diri untuk tinggal di situasi yang mengerikan hanya untuk semangkuk nasi? Berhenti itu adalah jelas keputusan yang tepat untuk dilakukan. Mengapa kamu bertahan?” Tanya Petani. “Aku juga berpikir demikian” Manajer itu tertawa. “Pekerjaan itu tidak lebih dari semangkuk nasi, jadi kenapa aku harus jadi begitu kesal?”

Segera setelah aku mengerti ini, aku menyadari tidak perlu bagiku untuk menjadi begitu kesal. Meskipun aku menerima banyak pelecehan dan dianggap rendah, Aku tidak harus menaggapi nya secara personal. Jadi tentu saja aku bertahan pada pekerjaan itu. Bukankah itu yang orang bijak itu maksud? “Sekarang Aku benar-benar bingung” Ucap Petani, menanggapi. “Apakah yang dia maksud itu adalah jalanmu atau jalanku? Mari kita pergi dan menemuinya lagi”

Sekali lagi mereka menemui orang bijak itu dan menjelaskan alasan kunjungan mereka. “Seperti yang Anda lihat tuan, kami benar-benar ingin tahu arti sebenarnya dari nasihat Anda bertahun-tahun yang lalu. Dapatkah Anda memberi kami?” Lagi, orang bijak itu memejamkan kedua matanya. Dan kembali kedua pemuda menunggu dengan sabar seperti sebelumnya.

Setelah selesai, orang bijak membuka matanya dan memberi mereka jawabannya lagi dalam tiga kata. “Hanya perbedaan pemikiran.”

Kalian mengerti? Lihatlah, dalam hidup kita, kita semua memiliki jalan masing-masing untuk diikuti. Keadaan pikiran kita sama seperti sungai mengalir menuruni bukit. Tidak peduli arah mana yang akan kita ambil, kita akan sampai pada tujuan kita. Kebahagiaan tiap-tiap oorang memiliki caranya sendiri. Jadi, pergilah dan raih kebahagiaan kita. Itu hanya semangkuk nasi.