“Sepi tak selalu
berarti sendiri
Bisa saja banyak yang
menemani, tapi itu bukanlah esensi
Boleh saja klaim
banyak pendukung
Tapi, berapa banyak
yang datang ketika hari mu mendung?
Boleh saja memamerkan
bersatu
Tapi berapa banyak
siap memberi bahu, bahkan ketika banyak yang tidak mau?
Boleh saja banyak yang
mengenalmu, bahkan ketika kau tidak memberi tahu
Tapi berapa banyak
yang peduli, bahkan ketika kau tak berharap untuk dicari?
Seru ketika kau
sendiri dan hanya bercumbu dengan waktu,
Kau akan tahu siapa
duniamu.”
Tulisan itu lahir
dari obrolan di instagram
Aku sedang melanjutkan tulisan lama ku ketika seseorang
mengirimkan pesan padaku di instagram.
“bang, ‘beda’ itu ga
salah kan ya?”. Aah ternyata dia, lama ga ngobrol. Kami sempat ada di kelas
yang sama saat aku masih ngajar si salah satu yayasan anak yang bermitra dengan
salah satu gereja di daerah Antapani.
Aku meninggalkan tulisanku untuk membuka pesan itu, terlihat
ada tanda bahwa ia sedang mengetik sesuatu melanjutkan pertanyaannya
“tapi orang2 teh asa
cepet banget nge-judge”. Aku tersenyum membacanya.
Dia sedang ada dalam babak baru dalam pergaulannya di
tingkatan pendidikan yang juga baru. Seru.
Aku tidak langsung
menjawabnya, aku memilih untuk mendengar semua ceritanya dulu. Bakal jadi
obrolan yang panjang, pikirku.
Dan benar saja, banyak hal yang dia ceritakan. Tapi intinya
semua mengarah pada pertanyaan yang sebelumnya sudah ia tanyakan di awal.
“Tidak ada yang salah
dengan perbedaan, Yang salah adalah justru yang mempersalahkannya”,
jawabku.
Aku kini mendekat pada keyboard dan layar komputer. “Orang lain berhak menilaimu tanpa tau siapa
dirimu, tapi kamu juga berhak untuk tidak peduli pada itu semua”, tulisku
melanjutkan.
Aku teringat pernah ada dalam posisi itu beberapa tahun yang
lalu.
Ketika yang kulakukan justru berbeda dengan apa yang orang
lain lakukan, memang ada dukungan tpi tidak sedikit juga yang menjatuhkan,
bahkan dari orang-orang terdekat di sekitar. Seru pikirku.
"Selamat berperang, kamu punya kendali untuk menentukan apa
yang mereka katakan." Kataku sebelum mengakhiri percakapan.