SISIPKAN RUANG
Seberapa
banyak dari kita yang tidak punya harapan dalam hidupnya ? pertanyaan nya agak ‘mengerikan’
sih ya, mungkin hanya beberapa orang, atau hanya sedikit yang akan mengakui nya,
atau bahkan tidak ada sama sekali. Gimana kalo pertanyaan nya diganti, seberapa
banyak dari kita yang hidupnya penuh dengan harapan ? pasti semua orang akan
menjawab dan mengakui nya.
Hampir
setiap orang pasti memiliki harapan dalam hidupnya. Dan harapan itu juga yang
membuat seseorang mampu untuk terus bertahan hidup. Orang yang tidak mempunyai
harapan dalam hidupnya mustahil untuk bisa bertahan hidup. Sebut saja beberapa
kasus bunuh diri yang terjadi, biasanya dilatar belakangi oleh ketiadaan
harapan dalam hidup nya. Sepertinya dunia ini ingin berkata bahwa “untuk apa
hidup tanpa harapan ?” atau “hidup tanpa harapan = mati”
Namun kita
juga perlu tahu, bahwa masalah itu ada bukan saja karena ketiadaan harapan,
justru terkadang karena harapan juga lah seseorang bisa saja mendapat masalah. Sebagai
contoh seorang siswa yang berharap ingin mendapatkan prestasi terbaik di
sekolah nya, tapi karena harapan nya tidak tercapai, maka timbul masalah baru
dalam hidupnya. Jadi masalah juga bisa timbul ketika kita tidak dapat menggapai
harapan tersebut. Kasus yang sama juga sering sekali kita jumpai di sekitar
kehidupan kita, atau bahkan dalam diri kita sendiri.
Mungkin
sekarang kita perlu “hitung-hitung-an” sedikit, tidak perlu menggunakan alat
hitung, cukup bayangkan saja
seberapa banyak kita membuat harapan ? seberapa
banyak harapan itu tercapai ? dan seberapa banyak harapan yang justru tak
sesuai harapan ?
Terkadang
masalah baru justru muncul saat kita menerima sesuatu yang tidak sesuai
harapan. Mengapa ? karena ketika kita berharap penuh akan sesuatu, maka kita
juga akan “mempertaruhkan” semua nya untuk mencapai harapan tersebut, dan
ketika harapan itu gagal, semua yang kita “pertaruhkan” itu seakan hilang. Biasanya
yang paling sering kita “pertaruhkan” untuk menggapai harapan itu adalah hati
dan pikiran kita, dan saat kita pertaruhkan semua hati dan pikiran kita itu dan
hasilnya gagal, kita akan merasa hilang pijakan untuk tetap bertahan, mengingat
semua hati dan pikiran kita sudah kita “pertaruhkan”.
Maka sekarang
timbul pertanyaan baru, lalu apa yang salah ? tentu bukan harapan nya yang
salah, bukan pula hati dan pikiran kita yang salah, melainkan ada hal yang kita
lupakan ketika kita “mempertaruhkan” hati dan pikiran kita untuk menggapai
harapan itu. Kita seakan lupa untuk “menyisipkan ruang” baru pada hati dan
pikiran kita sebelum mempertaruhkan nya, kita lupa untuk “menyisipkan ruang
ucapan syukur” di dalamnya. Sehingga ketika apa yang telah kita pertaruhkan itu
gagal, maka hilang pula lah semua nya, namun jika kita mau untuk “menyisipkan
ruang ucapan syukur” itu dalam hati dan pikiran kita maka, walaupun kita gagal
dalam menggapai harapan kita, kita sudah siap dan akan berpijak pada “ruang
baru” itu, yakni “ruang ucapan syukur”.
Ketika
kita melangkah dalam tujuan hidup kita, melangkah dengan penuh harapan akan
mimpi dan cita-cita kita, selalu ingat untuk “sisipkan ruang” baru, ambilah
waktu untuk melihat semuanya dengan cara pandang yang baru, cara pandang yang
dipenuhi rasa ucapan syukur, sehingga kita akan tetap selalu ada di jalur yang
tepat dalam jalur pencapaian harapan kita, walaupun Tuhan terkadang harus
membenturkan harapan kita dengan rencana milik-Nya, kita bisa tetep punya
respon yang benar, kita bisa tetep ada dalam pijakan dan “ruang” yang tepat.
Dan pastikan bahwa kita juga telah memilih “sumber” yang
tepat untuk kita bisa menggantungkan harapan itu. Dan kita semua tentu tahu
bahwa sumber harapan yang terbaik itu ada dalam tangan nya Tuhan.
“Selamat mencapai harapan, selamat menempuh perjalanan impian, dan selalu
ingat untuk “ sisipkan ruang” ucapan syukur”
