Pengendalian Diri. Persepsi dan Asumsi
Di sebuah hutan yang lebat, seorang pria sedang berjalan di sepanjang jalan sempit membawa tas besar di punggungnya. Dia sedang dalam misi untuk menemukan dukun yang dikenal memiliki kemampuan penyembuhan yang hebat. Pria itu telah mendengar bahwa dukun tersebut dapat menyembuhkan penyakit apa pun tidak peduli seberapa parah dan dia sangat ingin mencari bantuannya.
Saat dia berjalan, pria itu bertemu dengan seorang biksu yang sedang duduk di sisi jalan, tenggelam dalam meditasi. Pria itu berhenti dan bertanya kepada biksu itu “apakah kamu tahu di mana dukun itu bisa ditemukan? Biksu itu membuka matanya dan menatap pria itu “dukun yang kamu cari tidak jauh, tapi hati-hati karena ada harimau di Hutan ini. Dia ganas dan tidak dapat diprediksi dan kamu harus waspada.” Jawab Biksu tersebut. Pria itu berterima kasih kepada Biksu itu dan melanjutkan perjalanannya dengan mata yang tajam.
Akhirnya dia bertemu dengan dukun yang menyambutnya dengan hangat dan menawarkan bantuan untuk penyakitnya tetapi ketika dukun hendak memulai ritual penyembuhannya, pria itu mendengar geraman keras. Dia berbalik dan melihat harimau muncul dari semak-semak. Mata harimau itu tertuju pada dirinya. Pria itu panik dan berlari. Ia menjatuhkan tasnya saat dia melarikan diri tetapi, dukun yang melihat kesusahan pria itu mengerti apa yang terjadi. Dia tahu bahwa harimau itu tidak mengejar pria itu tetapi sesuatu yang ada di dalam tas itu. Pria itu memiliki sepotong daging yang tersimpan di dalam tas yang ia bawa. Daging itu ia bawa sebagai persembahan kepada dukun. Dukun dengan cepat melemparkan tas ke arah harimau yang menerkamnya dengan penuh semangat.
Saat harimau berpesta daging, dukun menoleh ke pria itu dan tersenyum. “Anda lihat?” Tanya Dukun itu. Biksu yang mengatakan tentang harimau kepadamu sebelumnya, itu semua adalah kesalahpahaman. Harimau ini hanya menginginkan makanan yang Anda bawa. Pria itu tertegun. Dia begitu terjebak dalam ketakutan dan kecemasannya sendiri sehingga dia benar-benar salah memahami situasinya. Namun kata-kata Dukun beresonansi dengannya dan dia mulai melihat bagaimana persepsinya sendiri dan keyakinan membentuk pengalamannya, sehingga pria itu meninggalkan hutan dengan pemahaman yang baru ia pelajari.
Dunia ini apa adanya. Dia juga memahami pentingnya kasih sayang dan empati karena hanya melalui pemahaman Dukun dan pemikiran cepat dia dapat menghindari situasi yang berpotensi berbahaya. Dia berjalan pergi. Pria itu merasakan kedamaian dan pencerahan yang belum pernah dialami sebelumnya dan dia tahu bahwa dia akan membawa pelajaran ini bersamanya seumur hidupnya. Anda lihat? Dalam hidup ini, pengalaman kita dibentuk oleh bagaimana kita menafsirkan dan memahami dunia di sekitar kita. Penting untuk melepaskan prasangka atau asumsi kita dan bias untuk melihat hal-hal sebagaimana adanya. Selalu berusaha untuk memahami orang lain dan bertindak dengan kebaikan dan kasih sayang serta selalu hidup di saat ini dengan kebaikan hati yang terbuka.

No comments:
Post a Comment