Jalan Raya
“Serius
harus pergi nih ?” Saya masih ragu ketika melihat jam menunjukan baru beberapa menit
berlalu sejak lewatnya jam tengah hari, dan
Si Raja Siang sedang gagah-gagahnya di atas sana. Ngeselin ga sih, kalau
harus bawa motor siang-siang, di bawah
terik matahari, berteman dengan panas, debu dan asap kendaraan lain? Jawabannya
udah pasti ngeselin. Bahkan lebih tepat lagi kalau saya tambahin “banget” di
belakangnya. Iya, ngeselin banget. Tapi, udah dua minggu belakangan ini, saya
harus berteman dengan itu semua.
Sambil liat
GPS d hp, saya coba itung-itungan
dengan jarak, dan memilih jalan tercepat. Agak jauh memang, GPS menunjukan
jarak tempuh sekitar 9,3 KM. Mengingat ada tugas yang harus saya selesaikan,
mau tidak mau saya harus lakukan. Siang itu saya kembali bertemu dengan teman
baru saya di jalan raya. Iya, saya kembali menyapa teriknya matahari, debu, dan
asap di jalanan. Kalau saja keluhan bisa mempersingkat jarak yang harus saya
tempuh, mungkin saya akan mengeluh sepanjang jalan biar bisa cepet nyampe, tapi
apa boleh buat, itu ga mungkin, jadi saya lebih memilih untuk (terpaksa)
menikmati perjalanan.
Dalam perjalanan
itu Saya melihat ribuan kendaraan. Ada yang searah namun beda tujuan, ada yang
satu tujuan, namun bertemu dari arah yang lain, ada kendaraan yang berlawanan
arah, ada juga yang saling menyusul, dan bahkan ada juga kendaraan yang hanya
diparkir begitu saja, mungkin hanya pelengkap jalan raya. Situasi ini seolah
menggambarkan bagaimana saya dengan tujuan saya, dan orang lain dengan
tujuannya. Saya melihat banyak orang yang punya tujuan yang sama dengan saya.
Tujuan sama, dengan cara yang sama atau tujuan sama dengan cara yang berbeda. Di
sisi lain, tidak sedikit juga yang berlawanan arah. Bertemu dengan mereka yang
setujuan dan arah yang sama membuat saya
mengerti bahwa bersinergi itu perlu. Bertemu dengan mereka yang ada di jalur
yang lain pun membuat saya mengerti bahwa berbeda itu seru, bahkan membuka
banyak hal-hal baru. Setiap orang sedang menjalani tujuannnya. Dan bagaimana
dengan kendaraan yang hanya diparkir begitu saja ? bisa jadi itu adalah mereka
yang sedang istirahat karena lelah atau mungkin bahkan menyerah.
Saya
juga melewati puluhan persimpangan jalan. Di persimpangan jalan adalah tempat dimana
saya dapat melihat banyak kendaraan dengan tujuan dan arah yang berbeda. Ada
saatnya juga saya berhenti untuk hanya melihat dan membiarkan kendaraan lain
melaju. Saya bisa melihat arah tujuan orang lain, bagaimana mereka menjalani
tujuannya, dan belajar banyak darinya.
Dan
yang pasti selalu ada di jalan raya adalah bunyi klakson. Entah berapa banyak
klakson yang saya dengar. Baik klakson untuk memberi jalan ataupun klakson
untuk mengganggu perjalanan. Seru memang kalau ada yang klakson untuk sekedar
memberi jalan, bikin adem, perjalanan makin lancar, kaya ada manis-manisnya
gtu. Tapi ada juga kadang yang suka nambah kesel kalau lagi di jalan ada
klakson ga jelas, ganggu, bikin ribut. Kayanya memang setiap perjalanan pasti
ada aja yang begituan. Kalau membahas tujuan, banyak banget tujuan yang ingin
saya ambil. Belajar dari pengalaman sebelumnya, tidak hanya dukungan, ejekan,
atau orang-orang yang meremehkan atau merendahkan pun pasti ada. Tapi bagi saya
jauh lebih penting untuk peduli dan yakin sama apa yang saya lakukan daripada
harus meperdulikan persepsi mereka tentang apa yang saya lakukan. Pilihan yang
saya ambil adalah pilihan yang akan saya jalani, bukan mereka. Analoginya,
bukankah jauh lebih penting untuk fokus sama tujuan perjalanan daripada
dengerin klakson orang lain ?
Salah satu guru saya waktu di SMA pernah menulis status di
facebook, dan saya masih inget banget sampai saat ini.
“JANGAN HIRAUKAN MEREKA YG
BERUSAHA MENJATUHKANMU...
KARENA MEREKA AKAN KALAH DENGAN
SENDIRINYA KETIKA MELIHATMU MASIH TEGAK BERDIRI”
No comments:
Post a Comment