*Chapter 8 Buku "Half Of Us Is One For Us
Sebenarnya saya tidak terlalu suka
untuk menonton. Film yang telah saya tonton pun tidak banyak, bisa dihitung
jari. Termasuk dalam hal menonton kartun. Tidak seperti beberapa teman saya
yang lain, Saya memilih tidak begitu mengikuti update-an dari kartun-kartun yang pernah saya tonton dan selalu
hadir saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Walalupun rasa keseruan
nya masih ada, tapi saya tidak begitu antusias.
Dari sekian banyaknya kartun, hanya
ada dua film kartun yang saya ikuti. Selain kartun HunterXHunter yang telah selesai saya tonton, saat ini saya sedang
“menyelesaikan” film One Piece.
Ada beberapa alasan mengapa saya
sangat menyukai kedua kartun itu, dan mau mengikuti alur ceritanya dari awal
sampai akhir. Selain karena kedua kartun itu adalah kartun yang menemani masa
kecil saya (itu adalah alasan utamanya) di sisi lain, ada karekter yang saya
sukai dari tokoh utama dalam kedua kartun itu. Keduanya mempunyai tekat, mimpi,
semangat, tim yang (bagi saya) sempurna, dan yang paling penting mereka
berhasil merealisasikan mimpinya.
Ada Gon, tokoh
utama dalam kartun HunterXHunter yang
punya karakter yang sangat menarik.
Ia tokoh yang
penuh semangat,
Antusias,
Tekat,
Mimpi.
Ia Tak malu
menceritakan mimpinya, serta berani merealisasikannya.
Dan Gon berhasil
Demikian dengan kartun One piece, karakter keduanya cenderung
sama, yang membedakan hanyalah jalan cerita dalam kartun nya saja. One Piece
ada sedikit perbedaan, perbedaannya adalah Luffy tokoh utama One Piece belum
meraih mimpinya, tapi bagi saya itu hanya masalah waktu dan episode dari kartun
tersebut.
Melihat karakter
yang dimiliki , saya sangat menyukainya
Dari kartun itu
saya bisa belajar banyak hal
Penting untuk
bisa mengikuti apa yang mereka lakukan, walaupun itu hanyalah karakter dalam
film kartun.
Sejak saya
kecil, saya punya mimpi yang beragam.
Polisi, Pemain
Bola, Tentara, Guru, Musisi, Penulis, Jurnalis.
Banyak yang
ingin saya raih, tapi hanya sebatas “ingin”. Saya tak berani merealisasikannya.
Dalam pikiran
saya, mimpi itu hanyalah bunga cerita.
Dan ia akan tetap menjadi sebuah cerita saja. Tanpa realisasi
|
Mimpi adalah
sesuatu yang harus direalisasikan
|
Seperti apa yang
telah saya sampaikan di chapter sebelumnya,
bahwa kita harus punya mimpi. Kita tidak diciptakan “kosong”. Kita adalah
pribadi yang “besar” sebagaimana kita ada saat ini.
Kita lahir
dengan sejuta potensi
Ketika awal-awal saya memulai untuk
menulis dan membagikannya melalui blog dan media sosial yang saya miliki,
ternyata itu adalah kegiatan yang sangat tidak mudah. Setidaknya ada dua hal
yang saya takutkan. Selain karena tidak tahu apa yang mau ditulis karena belum
pernah punya pengalaman dalam dunia penulisan sebelumnya, saya juga pesimis
kalau karya saya akan diterima nantinya. Tapi karena saya menyukainya akhirnya
saya tetap terus melanjutkannya.
Dan ternyata benar. dua ketakutan
saya itu terjadi. saya kesuliatan dalam menentukan apa yang mau saya tulis.
Tidak berhenti disitu, ketika tulisan itu jadi dan saya mebagikannya, ketakutan
saya yang kedua pun terjadi.
Saya selalu
membuat tulisan, minimal 1 artikel per minggu.
Jika tidak menulis, setidaknya ada satu buku yang harus saya baca.
Saya masih ingat betul, suatu
ketika, ketika saya memposting tulisan saya dalam media sosial yang saya
miliki, salah satu teman saya datang dan mengejek apa yang saya lakukan itu.
Iya, dia datang dan mengejek apa yang saya tulis. Saat itu respon pertama saya
adalah saya merasa sangat kesal. Bagaimana tidak, hal itu datang dari
orang-orang sekitar saya, bakan bisa dibilang teman dekat. Tapi, ketika saya
berpikir, ada hal yang lebih penting dari pada saya menghabiskan waktu dan
tenaga saya untuk marah, lebih baik saya bersiap untuk terus membuat tulisan
yang lebih baik.
Bagi saya , ada
dua hal yang membuat saya sangat termotivasi untuk melakukan suatu hal.
Pertama, ketika
saya dipercayakan sesuatu. Karena ternyata ada orang-orang yang percaya pada
apa yang saya lakukan.
Kedua, ketika
diremehkan. Ketika diremehkan, saya selalu membuat diri saya siap untuk
memperbesar kapasitas dan tidak berhenti belajar.
Ya, baik dipercayakan ataupun
diremehkan, keduanya adalah hal yang membuat saya termotivasi lebih lagi untuk
membuat sesuatu. oleh karena itulah ketika teman saya menganggap rendah apa
yang saya lakukan, saya tidak menghabiskan waktu untuk marah. Tapi saya gunakan
itu untuk memotivasi saya membuat karya yang lebih baik.
Sampai suatu ketika, saya dan teman
saya ada dalam suatu tugas penulisan. Dan tau apa yang terjadi ? teman saya
yang sebelumnya merendahkan apa yang saya lakukan itu, ia datang dan meminta
tolong agar bisa menyelesaikan tugas tulisan itu bersama. Satu hal yang saya
syukuri saat itu adalah, bahwa orang yang dulunya merendahkan saya, kini sudah
mulai percaya pada apa yang saya lakukan. Saya tidak menganggapnya sebagai
suatu kesombongan, saya juga tidak bermaksud menunjukan diri kepada siapapun,
tapi dari pengalaman itu saya berhasil membuktikna kepada diri sendiri, bahwa
saya mampu membuat orang lain juga percaya pada apa yang saya lakukan.
Selain itu, sejak saya sering
membagikan hasil tulisan saya di blog dan media sosial yang saya miliki, saya
juga jadi mengenal orang-orang disekitar saya yang ternyata memiliki kesukaan
yang sama dalam dunia penulisan. Tak jarang juga beberapa teman mampir di inbox
media sosial saya untuk sekedar bertanya dan meminta pendapat dengan hasil
tulisannya. Namun jauh dari pada itu, saya bersyukur karena bisa punya teman
bertukar pikiran dalam bidang yang sama.
|
Jangan marah ketika
direndahkan, lebih baik perbaiki diri dan buatlah ia yang merendahkanmu
menjadi yakin pada apa yang kamu lakukan
|
“Mimpi
adalah kunci, untuk kita menaklukan dunia, berlarilah tanpa lelah sampai engkau
meraihnya”
Ada yang pernah
mendengarnya sebelumnya ?
Ya, itu adalah
penggalan dari lirik lagu “Laskar Pelangi” yang dinyanyikan oleh Grup Band
Nidji.
Lirik yang
mengandung banyuak makna pengharapan di dalamynya. Termasuk dalam meraih mimpi.
Jadi hal pertama
adalah milikilah mimpi.
Seperti yang
sudah saya sampaikan sebelumnya bahwa kita lahir dengan sejuta potensi besar
dalam diri kita
Dan kita tidak
bisa menikmatinya sendiri. Dunia harus mengenal kita, karena apa yang kita
miliki. Dunia harus tahu mimpi yang kita miliki.
Saya lagi-lagi
teringat dengan kisah Thomas alve Edison, bagaimna ibu nya begitu sangat
memperhatikan Thomas , karena dalam drinya ia yakin bahwa Thomas bukan anak
yang gagal, ia anak yang penuh potensi
Melalui
keyakinan itu, ibunya terus mendidik dan memperhatikan Thomas seta
mempersiapkan Thomas untuk menjadi anak yang besar sampai dewasa, dan saya
yakin semua hal2 besar yg telah dilakukan Thomas tiodak terlepas dari peran
ibunya.
Ya, bagi ibunya
Thomas, Thiomas adalah “masterpiece”. Walaupun awalnya orang-orang sekitar,
termasuk gurunya Thomas, tidak begitu yakin akan kehidupan Thomas, bahkan
sampai diusir dari sekolah, tapi ibunya Thomas tidak peduli akan apa yang
dikatakan oleh orang lain pada anaknya, yang ia tahu adalah, anak yang ia
miliki adalah anak yang potensial yang akan terus menjadi kebanggan ibunya.
Bagian
menariknya adalah . . . Ia benar ! Ia berhasil membentuk Thomas dalam segala
mimpinya.
Dan Thomas
berhasil merealisasikannya.
Kita juga harus
seperti itu, punya semangat yang sama
Kita harus
membangun diri yang besar
Dengan sejuta
potensi sampai dikenal oleh dunia
“Jangan
malu memperkatakan mimpimu dan menceritakannya. Dan yang penting setelah berani
bermimpi adalah berani merealisasikannya”