Wednesday, April 25, 2018

* Dunia harus mengenalmu *

*Chapter 8 Buku "Half Of Us Is One For Us

Dunia harus mengenalmu

            Sebenarnya saya tidak terlalu suka untuk menonton. Film yang telah saya tonton pun tidak banyak, bisa dihitung jari. Termasuk dalam hal menonton kartun. Tidak seperti beberapa teman saya yang lain, Saya memilih tidak begitu mengikuti update-an dari kartun-kartun yang pernah saya tonton dan selalu hadir saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Walalupun rasa keseruan nya masih ada, tapi saya tidak begitu antusias.

            Dari sekian banyaknya kartun, hanya ada dua film kartun yang saya ikuti. Selain kartun HunterXHunter yang telah selesai saya tonton, saat ini saya sedang “menyelesaikan” film One Piece.

            Ada beberapa alasan mengapa saya sangat menyukai kedua kartun itu, dan mau mengikuti alur ceritanya dari awal sampai akhir. Selain karena kedua kartun itu adalah kartun yang menemani masa kecil saya (itu adalah alasan utamanya) di sisi lain, ada karekter yang saya sukai dari tokoh utama dalam kedua kartun itu. Keduanya mempunyai tekat, mimpi, semangat, tim yang (bagi saya) sempurna, dan yang paling penting mereka berhasil merealisasikan mimpinya.
Ada Gon, tokoh utama dalam kartun HunterXHunter yang punya karakter yang sangat menarik.
Ia tokoh yang penuh semangat,
Antusias,
Tekat,
Mimpi.
Ia Tak malu menceritakan mimpinya, serta berani merealisasikannya.
Dan Gon berhasil
            Demikian dengan kartun One piece, karakter keduanya cenderung sama, yang membedakan hanyalah jalan cerita dalam kartun nya saja. One Piece ada sedikit perbedaan, perbedaannya adalah Luffy tokoh utama One Piece belum meraih mimpinya, tapi bagi saya itu hanya masalah waktu dan episode dari kartun tersebut.
Melihat karakter yang dimiliki , saya sangat menyukainya
Dari kartun itu saya bisa belajar banyak hal
Penting untuk bisa mengikuti apa yang mereka lakukan, walaupun itu hanyalah karakter dalam film kartun.
Sejak saya kecil, saya punya mimpi yang beragam.
Polisi, Pemain Bola, Tentara, Guru, Musisi, Penulis, Jurnalis.
Banyak yang ingin saya raih, tapi hanya sebatas “ingin”. Saya tak berani merealisasikannya.
Dalam pikiran saya, mimpi itu hanyalah bunga cerita. Dan ia akan tetap menjadi sebuah cerita saja. Tanpa realisasi



Mimpi adalah sesuatu yang harus direalisasikan



Ternyata saya salah. Mimpi adalah sesuatu yang harus direalisasikan.


Seperti apa yang telah saya sampaikan di chapter sebelumnya, bahwa kita harus punya mimpi. Kita tidak diciptakan “kosong”. Kita adalah pribadi yang “besar” sebagaimana kita ada saat ini.
Kita lahir dengan sejuta potensi
            Ketika awal-awal saya memulai untuk menulis dan membagikannya melalui blog dan media sosial yang saya miliki, ternyata itu adalah kegiatan yang sangat tidak mudah. Setidaknya ada dua hal yang saya takutkan. Selain karena tidak tahu apa yang mau ditulis karena belum pernah punya pengalaman dalam dunia penulisan sebelumnya, saya juga pesimis kalau karya saya akan diterima nantinya. Tapi karena saya menyukainya akhirnya saya tetap terus melanjutkannya.
            Dan ternyata benar. dua ketakutan saya itu terjadi. saya kesuliatan dalam menentukan apa yang mau saya tulis. Tidak berhenti disitu, ketika tulisan itu jadi dan saya mebagikannya, ketakutan saya yang kedua pun terjadi.
Saya selalu membuat tulisan, minimal 1 artikel per minggu.  Jika tidak menulis, setidaknya ada satu buku yang harus saya baca.
            Saya masih ingat betul, suatu ketika, ketika saya memposting tulisan saya dalam media sosial yang saya miliki, salah satu teman saya datang dan mengejek apa yang saya lakukan itu. Iya, dia datang dan mengejek apa yang saya tulis. Saat itu respon pertama saya adalah saya merasa sangat kesal. Bagaimana tidak, hal itu datang dari orang-orang sekitar saya, bakan bisa dibilang teman dekat. Tapi, ketika saya berpikir, ada hal yang lebih penting dari pada saya menghabiskan waktu dan tenaga saya untuk marah, lebih baik saya bersiap untuk terus membuat tulisan yang lebih baik.
Bagi saya , ada dua hal yang membuat saya sangat termotivasi untuk melakukan suatu hal.
Pertama, ketika saya dipercayakan sesuatu. Karena ternyata ada orang-orang yang percaya pada apa yang saya lakukan.
Kedua, ketika diremehkan. Ketika diremehkan, saya selalu membuat diri saya siap untuk memperbesar kapasitas dan tidak berhenti belajar.
            Ya, baik dipercayakan ataupun diremehkan, keduanya adalah hal yang membuat saya termotivasi lebih lagi untuk membuat sesuatu. oleh karena itulah ketika teman saya menganggap rendah apa yang saya lakukan, saya tidak menghabiskan waktu untuk marah. Tapi saya gunakan itu untuk memotivasi saya membuat karya yang lebih baik.
            Sampai suatu ketika, saya dan teman saya ada dalam suatu tugas penulisan. Dan tau apa yang terjadi ? teman saya yang sebelumnya merendahkan apa yang saya lakukan itu, ia datang dan meminta tolong agar bisa menyelesaikan tugas tulisan itu bersama. Satu hal yang saya syukuri saat itu adalah, bahwa orang yang dulunya merendahkan saya, kini sudah mulai percaya pada apa yang saya lakukan. Saya tidak menganggapnya sebagai suatu kesombongan, saya juga tidak bermaksud menunjukan diri kepada siapapun, tapi dari pengalaman itu saya berhasil membuktikna kepada diri sendiri, bahwa saya mampu membuat orang lain juga percaya pada apa yang saya lakukan.
            Selain itu, sejak saya sering membagikan hasil tulisan saya di blog dan media sosial yang saya miliki, saya juga jadi mengenal orang-orang disekitar saya yang ternyata memiliki kesukaan yang sama dalam dunia penulisan. Tak jarang juga beberapa teman mampir di inbox media sosial saya untuk sekedar bertanya dan meminta pendapat dengan hasil tulisannya. Namun jauh dari pada itu, saya bersyukur karena bisa punya teman bertukar pikiran dalam bidang yang sama.





Jangan marah ketika direndahkan, lebih baik perbaiki diri dan buatlah ia yang merendahkanmu menjadi yakin pada apa yang kamu lakukan



“Mimpi adalah kunci, untuk kita menaklukan dunia, berlarilah tanpa lelah sampai engkau meraihnya”
Ada yang pernah mendengarnya sebelumnya ?
Ya, itu adalah penggalan dari lirik lagu “Laskar Pelangi” yang dinyanyikan oleh Grup Band Nidji.
Lirik yang mengandung banyuak makna pengharapan di dalamynya. Termasuk dalam meraih mimpi.
Jadi hal pertama adalah milikilah mimpi.
Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya bahwa kita lahir dengan sejuta potensi besar dalam diri kita
Dan kita tidak bisa menikmatinya sendiri. Dunia harus mengenal kita, karena apa yang kita miliki. Dunia harus tahu mimpi yang kita miliki.
Saya lagi-lagi teringat dengan kisah Thomas alve Edison, bagaimna ibu nya begitu sangat memperhatikan Thomas , karena dalam drinya ia yakin bahwa Thomas bukan anak yang gagal,  ia anak yang penuh potensi
Melalui keyakinan itu, ibunya terus mendidik dan memperhatikan Thomas seta mempersiapkan Thomas untuk menjadi anak yang besar sampai dewasa, dan saya yakin semua hal2 besar yg telah dilakukan Thomas tiodak terlepas dari peran ibunya.
Ya, bagi ibunya Thomas, Thiomas adalah “masterpiece”. Walaupun awalnya orang-orang sekitar, termasuk gurunya Thomas, tidak begitu yakin akan kehidupan Thomas, bahkan sampai diusir dari sekolah, tapi ibunya Thomas tidak peduli akan apa yang dikatakan oleh orang lain pada anaknya, yang ia tahu adalah, anak yang ia miliki adalah anak yang potensial yang akan terus menjadi kebanggan ibunya.
Bagian menariknya adalah . . . Ia benar ! Ia berhasil membentuk Thomas dalam segala mimpinya.
Dan Thomas berhasil merealisasikannya.
Kita juga harus seperti itu, punya semangat yang sama
Kita harus membangun diri yang besar
Dengan sejuta potensi sampai dikenal oleh dunia













“Jangan malu memperkatakan mimpimu dan menceritakannya. Dan yang penting setelah berani bermimpi adalah berani merealisasikannya”