Tidak Ada yang
Lengkap
Pernahkah
kalian menemukan seseorang yang memiliki kemampuan rasa sabar yang tinggi,
tidak egois, tidak mudah marah, selalu berpikir positif, selalu menyebarkan
kasih, tidak pernah merendahkan orang lain, selalu mementingkan kepentingan
orang lain, tidak pernah mengeluh dan hal-hal baik lainnya, yang menggambarkan
kehidupan yang benar-benar sempurna ? sepertinya sulit, atau bisa dikatakan
mustahil. Bayangkan jika semua manusia diciptakan seperti itu, dengan semua
kebaikan yang dimilikinya, mungkin sekarang kita ga usah takut lagi dengan
kejahatan atau kriminalitas yang sampai saat ini menjadi salah satu hal yang
sangat meresahkan.
Setiap
kita pasti tetap saja memiliki beberapa sifat yang negatif. Setiap orang
memiliki sikap egois yang berbeda-beda, begitu juga dengan tingkat kesabaran
yang berbeda, itulah mengapa kita sulit sekali atau bahkan mustahil untuk bisa
menemukan seseorang dengan kriteria seperti yang disampaikan di awal artikel
ini. Jadi sebaik apapun kita, pasti tetap saja ada kekurangan yang Tuhan
percayakan di hidup kita. Setiap orang berbeda, oleh sebab itulah kita
membutuhkan orang lain, oleh sebab itulah kita disebut mahkluk sosial. Kita
bisa belajar banyak hal yang tidak kita miliki dari orang lain.
Sedikit
cerita, beberapa tahun yang lalu, saya pernah dipercayakan untuk memimpin
sebuah kepengurusan dalam sebuah kegiatan keagamaan. Saat pertama dipercayakan
untuk memimpin, saya pernah berpikir bahwa mungkinkah saya bisa memimpin
orang-orang yang bahkan cukup banyak juga yang lebih tua dari saya. Dalam
kepengurusan itu saya bertemu dan berinteraksi dengan banyak orang dengan sifat
yang berbeda-beda.
Ada yang sepaham dan tidak sedikit juga yang bertentangan.
Dua tahun pertama saya merasa sepertinya tidak sesuai dengan apa yang
seharusnya saya lakukan, lanjut ke dua tahun selanjutnya, di dalam wadah yang
sama dengan orang-orang yang berbeda dalam kepengurusan, saya merasa bahkan
tidak semakin baik (dari segi interaksi dan hubungan sosial) saya merasa bahwa
dalam ketidakmengertian saya ini membawa saya menjadi seseorang yang seakan
selau gagal dalam menjalankan tanggung jawab, yang saya pikirkan hanyalah
bagaimana saya bisa menyelesaikan semua nya tanpa melalui proses nya ?
Namun
setelah selesai selalu ada buah pikir yang mengarahkan kepada hal-hal tersebut,
banyak hal yang coba pikiran ini tawarkan, rasa intimidasi kegagalan, ucapan
syukur keberhasilan semua nya bercampur untuk melengkapi pemikiran ini. Tapi satu
hal yang sangat saya syukuri sekarang adalah, saya benar-benar bersyukur dengan
apa yang pernah Tuhan percayakan, terutama dalam hal berorganisasi, kalau dulu
yang sering keluar adalah respon yang ga bener, tapi saat ini saya melihat nya
dengan ‘kacamata’ baru yang membuat saya selalu dapat mengucap syukur. Saya sangat
bersyukur Tuhan pernah percayakan saya untuk bertemu dan bekerja sama dengan
orang-orang yang berbeda tingkat ke-egoisan-nya, bersyukur pernah Tuhan
percayakan untuk bertemu orang-orang dengan tingkat kesabaran yang berbeda
pula.
Semakin
kesini, semakin banyak saya tahu, semakin saya mensyukuri semuanya. Satu hal
yang selalu saya syukuri adalah bahwa, ketika Tuhan ‘memaksa’ saya untuk bertemu
dengan orang-orang yang sangat berbeda sifat dan karakternya, Tuhan mau membawa
saya menjadi pribadi yang lebih baik lagi, saya percaya bahwa dengan ‘ke-tidak
lengkap-an’ saya, ketika saya bertemu dengan orang-orang yang berbeda hampir segalanya,
justru Tuhan mau melengkapi saya dengan itu.
Jadi,
kita tahu bahwa tidak ada orang yang sikap dan karakternya benar-benar ‘lengkap’.
Kita bisa menjadi lengkap dengan kita bisa terus berinteraksi dengan orang
lain, belajar banyak hal dari orang lain.
Percayalah
bahwa orang-orang yang Tuhan percayakan ada disekitar kita saat ini, itu ada
untuk melengkapi setiap kita, responi baik dan teruslah mengucap syukur.
“Kebersamaan
adalah permulaan. Menjaga bersama adalah kemajuan. Bekerja bersama adalah
keberhasilan”
– Henry Ford –
– Henry Ford –