Monday, April 19, 2021

Menaklukan Samurai


Menaklukan Samurai


Pada suatu ketika di Jepang kuno seorang siswa muda tinggal di kuil bergengsi. Ia melayani Zen Master yang paling terkenal pada masanya dan dengan demikian ia juga bisa mempelajari kehidupan Zen Master tersebut. Siswa itu adalah seorang yang sangat rajin dan selalu melakukan yang terbaik untuk menyenangkan tuannya dan layak mendapatkan pelajaran dari Zen Master itu.

Zen Master itu juga puas dengan muridnya dan suatu hari dia memutuskan untuk mempercayakannya dengan tugas penting. Ia ditugaskan untuk mengirim surat untuk seseorang di kota Kyoto secepat mungkin. Dalam keadaan apa pun surat itu bisa saja hilang atau bahkan jatuh ke tangan yang salah. Ini sangat penting. Tanpa membuang banyak waktu siswa itu mengemasi beberapa bekal dan sebilah pedang. Dia bepergian dengan cepat untuk beberapa waktu sampai dia mencapai sungai dengan jembatan sempit di atasnya di jembatan berdiri seorang samurai yang telah bersumpah untuk menantang 100 orang pertama laki-laki siapa pun yang akan mencoba untuk menyeberang.

Samurai itu sudah membunuh 99 orang dan dia bersemangat untuk menyelesaikan tugasnya dengan membunuh siswa muda ini. “Anda sudah menginjak jembatan ini, sekarang Anda harus melawan saya untuk mempersiapkan diri mati” Dia berteriak kepada siswa muda yang ketakutan itu. Siswa muda itu teringat akan surat yang ia bawa, dia memohon samurai untuk mengizinkannya lewat untuk membawa surat itu kembali ke tuannya dan bersumpah bahwa dia akan kembali untuk menemui takdirnya.

Samurai itu mengabulkan keinginannya dan menijinkan siswa muda itu untuk melewati jembatan untuk mengantar surat. Sesuai kesepakatan yang telah dibuat. Sepanjang jalan siswa muda itu memikirkan tentang hal-hal yang mengerikan. Sesampainya di Kyoto, ia menceritakan apa yang dia hadapi di perjalanan ketika mengantar surat itu dengan harapan bahwa dia akan membantunya.

Tuan hanya berkata “tidak mungkin kamu bisa mengalahkan samurai dalam pertarungan pedang jadi kamu akan mati. Aku akan memberitahumu cara yang terbaik untuk menemui kematianmu. Ketika kamu mencapai jembatan, angkat pedangmu di atas kepala dan tutup matamu lalu diam dan tunggu saat kamu merasakan sesuatu yang dingin menyentuh tengkorakmu, itu akan menjadi kematianmu.

Sekali lagi siswa tersebut meninggalkan kuil. Kali ini bersiap untuk menemui ajalnya. Begitu ketika dia mencapai jembatan dan melihat seorang samurai yang menunggunya, dia melakukannya dengan tepat seperti yang diperintahkan oleh tuannya tadi. Dia mengangkat pedangnya di atas kepala lalu menutup matanya dan menunggu sentuhan dingin kematian

Ketika samurai melihatnya seperti itu, dia tiba-tiba berpikir bahwa siswa muda itu pasti telah bertemu master yang benar-benar hebat karena dia tidak pernah melihat sikap seperti itu dengan mata tertutup atau ketenangan sebelum pertarungan. Segera samurai itu menjatuhkan pedangnya sendiri dan mendatangi dia sambil berkata “oh tuan yang hebat maafkan kelalaian saya dan biarkan saya menjadi hamba-mu dan untuk mempelajari penguasaan pedang sebenarnya dari darimu”

Kalian lihat? Dalam hidup ini. terkadang kita menemukan diri kita sendiri ada dalam situasi dimana sepertinya tidak ada jalan keluar. Namun di saat-saat seperti itu kita harus melakukannya dengan tetap tenang dan konsentrasi menjadi 100%. Bayangkan jika siswa muda itu akan menangis dan memohon untuk hidupnya, samurai itu kemungkinan besar akan menertawakannya dan memotongnya menjadi beberapa bagian. Jika siswa tersebut meminta dia untuk membiarkan dia melewati jembatan itu dengan upaya yang putus asa untuk menyerangnya, hasilnya mungkin adalah sama. Namun siswa itu bereaksi dengan tenang dan menampilkan Zen yang sangat tinggi bahwa dia lebih unggul dari samurai tersebut dan dengan demikian samurai membungkuk di depan siswa karena dia sebagai seorang samurai memperhatikan segera bahwa dia telah menemukan seseorang yang unggul dalam menguasai Zen pada siswa muda itu.

Jadi tidak peduli seberapa buruk situasi yang kita hadapi atau mungkin tidak peduli betapa putus asa kita akan keadaan, kita bisa mengingat cerita siswa muda tadi untuk menutup mata kita dan tetap tenang maka  ‘samurai’ akan membungkuk di depan kita juga.