Meskipun . . .
Sebenernya saya udah ada dalam perenungan ini sejak tahun
lalu. Oktober 2017 tepatnya. Seperti biasa, selalu ada ‘kerjaan’ tambahan di
bulan Oktober. Ya, persiapan natal dan terlebih terlibat langsung dalam
kepanitiaan adalah hal yang menarik bagi saya. Jujur, Saya mau menuliskan ini
di bulan-bulan sebelumnya, tapi saya belum yakin sama apa yang saya pikir saat
itu, sampai kejadian ini terjadi.
Seperti biasa, layaknya kids
jaman now yang kerjaannya hanya scrol-scrol
Instagram, sore itu saya sedang ada dalam aktivitas yang sama. Kalau kalian
perhatiin pasti di ‘home’ kita di Instagram itu, diantara postingan orang-orang
yang kita follow, kadang suka muncul
iklan yang mempromosikan akun-akun bisnis dalam media berbagi foto di dunia
maya tersebut.
Selain akun tentang musik, humor, judi bola, skin care,
pelangsing, penggemuk, pembesar, dan lain semcamnya, sore itu ada yang menarik.
Bukan promosi akun-akun itu yang muncul di beranda saya, tapi akun percetakan
yang ada di daerah Yogyakarta. Sedikit info, sejak awal November kemaren saya
sudah mengirimkan naskah buku saya yang berjudul “Half Of Us Is One For Us” ke
salah satu penerbit mayor di Jakarta, tapi sudah 2 bulan tak ada panggilan dan
seperti yang tertera di websitenya jika dalam dua bulan tidak mendapat panggilan
berarti naskah yang saya ajukan itu ditolak.
Kembali ke iklan akun percetakan yang ada di beranda saya di
Instagram tadi, bagi saya ini bukan hanya sekedar iklan. Tidak seperti
iklan-iklan lain yang selalu saya skip,
untuk akun yang satu ini saya mampir ke akun tersebut dan menyempatkan diri bertanya-tanya terkait percetakan buku, dll.
Setelah DM saya di Instagram ditanggapi, akhirnya obrolan kami berlanjut ke WA
dan email. Singkat cerita akhirnya saya merasa bahwa ini adalah jalan keluar
dari salah satu mimpi saya ingin bisa punya buku ciptaan sendiri.
Tapi jauh sebelum kejadian ini berlangsung, kembali ke awal
cerita yang sudah saya mulai tadi, tepatnya bulan oktober tahun lalu, saya ada
dalam sebuah perenungan yang menarik. Saya pernah ada dalam sebuah kegiatan
rohani dalam sebuah yayasan anak di gereja, dan perlu di akui bahwa ada yang
saya ‘dapat’ dari apa yang saya lakukan disana. Seperti apa yang keluarga saya
selalu ajarkan, bahwa berapapun pendapatan yang saya dapat 10% nya harus saya
‘kembalikan’ untuk Tuhan. Saya dan umat kristiani lainnya menyebutnya dengan
istilah Persepuluhan.
Sejak terlibat di Yayasan anak itu bulan Juli 2016 sampai
Agustus 2017 saya selalu rutin memberikan persepuluhan. Tapi bukan itu
esensinya, bukan karena saya memberikan persepuluhan, bukan juga karena berapa
yang saya berikan, saya ada dalam sebuah perenungan bahwa, untuk apa saya
melakukan semua itu ? saya sempat menjawabnya dalam pikiran saya bahwa saya
melakukannya karena saya memang harus melakukannya. Keharusan. Bukan karena hal
lain.
Sampai suatu waktu saya belajar satu hal. Hal itu diawali
ketika saya bertanya pada diri sendiri, “kalau misalnya saya tetep ga punya
penghasilan yang rutin dan pemasukan pas-pas-an, saya tetep mau bersyukur ga ya
?” Dalam hati saya mencoba meyakinkan diri dalam pertanyaan itu. “tentu,
mengapa tidak ?”
Ujilah segala sesuatu. saya teringat dengan sebuah frasa
yang indah itu.
Segala sesuatu perlu diuji untuk melihat kemurnian dan
kebenarannya. Termasuk jawaban saya sebelumnya.
Saya mencoba menguji nya dengan berkomitmen pada diri
sendiri untuk saya bisa tetap mengucap syukur dengan cara yang sama yang pernah
saya lakukan ketika memiliki penghasilan meskipun tidak ada yang benar2 saya
“hasilkan”.
Singkat cerita, saya tidak merasa gelisah. Rasa kekurangan
ada, tapi itu tidak menjadi tolak ukur saya untuk mengucapsyukur. Bahkan saya
cenderung lebih mengerti lagi arti mengucapsyukur ketika saya harus memberi
dari apa yang sebenarnya tidak benar-benar saya miliki.
Dan tepatnya bulan lalu, saya mengalami hal-hal yang tak
pernah saya pikirkan sebelumnya.
Seperti sebuah jalan baru yang terbuka sangat lebar.
Ada banyak hal yang justru saya terima tapi diluar
ekspektasi saya.
Saya tidak mau megatakan semua itu terjadi karena saya, tapi
saya jauh lebih percaya karena Tuhan mau melakukan bagiannya untuk saya
Perlu diketahui bahwa saya melakukannya bukan untuk
mengharapkan pujian atau imbalan. Menceritakannnya pun tidak ada sebuah
kebanggaan untuk diri sendiri.
Tapi ada satu hal besar yang saya pelajari, saya belajar
untuk tetap memberi bukan karena apa yang saya miliki, tapi karena apa yang
ingin saya berikan untuk DIA, Tuhan yang telah memberikan hidupnya untuk saya.
Saya juga belajar, bahwa apa yang saya miliki bukan menjadi
tolak ukur untuk saya dapat memberi dan bersyukur, jauh dari pada itu, saya
melihat bahwa saya bisa terus memberi dari apa yang saya miliki saat ini.
saya sempet bingung untuk “menggambarkan” pengalaman saya
ini, tapi akhirnya saya menemukannya
“MESKIPUN”
Ya, sebuah kata yang berarti pertentangan
saya belajar bahwa keterbatasan bukan halangan.
Keterbatasan bisa ditentang dan bahkan mampu menghasilan buah yang besar.
Apa yang membatasimu untuk memulai langkah baru yang lebih
baik ?
Anda bisa menentangnya
Ya, lakukanlah, meskipun . . .