Siapa Tuan nya ?
Tidak
ada seorang pun yang hidup nya seakan ‘bersih’ terlepas dari masalah.
Sepertinya setiap orang sudah punya ‘jatah’nya masing-masing untuk menghadapi
permasalahan. Masalah yang dihadapi pun bermacam-macam, karena keputus-asaan,
kegagalan, kepahitan, dendam, salah ambil keputusan atau mungkin bertengkar
dengan rekan sepermainan, rekan kerja, kehilangan uang, atau bahkan hal yang
ringan seperti lupa membawa handphone
pun bisa menjadi suatu masalah.
Setiap orang
mempersepsikan suatu masalah berbeda-beda. Ada yang jika disinggung sedikit
oleh temannya, melihat itu menjadi suatu masalah, sedangkan yang lainnya bahkan
menganggap hal seperti itu tidak patut dipermaslahkan. Contoh lain, jika kita
menyusun suatu rencana, dan rencana itu gagal atau tidak sesuai, maka ada yang
mempersepsikan hal tersebut adalah suatu masalah, sedangkan bisa saja yang lain
malah percaya bahwa ada jalan lain yang bahkan lebih besar untuk menggapai
tujuan rencana tersebut. Jadi ‘masalah’ ini hanyalah sebuah perepsi.
Jadi yang
terpenting bukan lagi tentang masalah nya, tapi bagaimana kita
mempersepsikannya, atau dalam bahasa lain bagaimana kita meresponinya. Jika berbicara
tentang respon maka salah satu indikator agar kita mampu memilii respon yang
baik adalah dengan pengenalan akan diri sendiri.
Penting
bagi kita untuk mengenal secara baik diri kita sendiri, karena dengan
pengenalan akan diri yang baik, kita akan mampu bertahan dalam kondisi apapun,
bahkan jika kita sedang ada dalam situasi buruk pun kita tetap bisa punya
respon yang benar.
Jika kita
mengenal baik diri kita, maka kita tahu bahwa kitalah ‘Tuan’ dalam diri kita. Kita
yang mengatur respon apa yang keluar, dan kita yang mengatur bagaimana kita
mempersepsikan masalah. Manusia pada dasarnya diciptakan dan diberikan kemampuan
untuk berpikir, dan akal sehat. Bukan tanpa tujuan, namun berarti bahwa kita
diberi kemampuan untuk dapat mengatur dan mengarahkan hidup kita.
Kita adalah
‘Tuan’ dalam diri kita, kita yang mengatur semua yang ‘datang’ dalam hidup kita
itu perannya seperti apa. Ketika Tuhan mempercayakan suatu hal buruk dalam
hidup kita, disitulah kita melihatnya bukan lagi seperti orang yang kehilangan
harapan, tetapi kita melihatnya sebagai ‘Tuan’, kita yang menentukan peran ‘masalah’
itu seperti apa, apakah kita tetap mempersepsikan sesuatu hal yang buruk itu terus
menjadi suatu masalah yang harus disesali, atau kita merubahnya dan melihatnya
dengan cara pandang seorang ‘Tuan’ yang melihat segala sesuatu nya secara
optimis, dan penuh keyakinan. Karena pada dasarnya seorang ‘Tuan’ tahu apa yang seharusnya dilakukan, seorang
‘Tuan’ tahu bagaimana ia menanggapi hal yang datang dalam hidupnya, termasuk
dalam menanggapi hal-hal buruk pun seorang ‘Tuan’ seharusnya mampu mengatasi
nya, dan seorang ‘Tuan’ lah yang harusnya mampu mempengaruhi keadaan bukan
dipengaruhi oleh keadaan.
mulai sekarang,
apapun yang sedang kalian hadapi, hadapilah !
jangan biarkan masalah yang menjadi ‘Tuan’ dalam hidup kita,
jangan biarkan masalah yang justru memperngaruhi hidup kita.
kita adalah ‘Tuan’ dalam diri kita. Kita yang seharusnya memperngaruhi
keadaan, bukan dipengaruhi oleh keadaan.
Mundur atau menyerah bukanlah pilihan dari seorang ‘Tuan’
yang baik.
Dan selalu ingat bahwa masalah bukanlah benar-benar suatu
masalah sampai kita yang menganggapnya bahwa itu adalah suatu masalah.
“Yout cant lead people if you
cant lead yourself. Self-leadership qualities qualifies you to become a
co-operate leader.”
-Israelmore Ayivor, Leaders’
Ladder