Tuesday, July 12, 2016

Hati, Pikiran, dan Si Impian

Hati, Pikiran, dan Si Impian

                Hari yang sama dalam pekan  yang berbeda. Seperti biasa, layaknya sebuah jadwal rutin seumpama datangnya si raja siang yang menendang bulan dengan segala rekan kegelapan nya, hari ini saya kembali memulai kegiatan baru di dunia baru dalam dunia penulisan. Sambil membaca kembali artikel sebelumnya (Menembus Kemustahilan) yang baru berusia tujuh hari, berharap sesuatu datang dan memberikan banyak menu baru untuk memenuhi pikiran dan menumpahkan nya menjadi sebuah karya tulis yang dinanti.

                Bukan hal yang mudah untuk dapat segera menerima ide-ide baru. Mencoba melihat sekeliling berharap dapat menemukan sesuatu. Teringat beberapa hari dalam pekan ini yang datang ditemani hujan, datang menyaksikan dan melihat penuh keinginan, dapatkah hujan itu berkata dan menyampaikan sesuatu ? sambil menunggu hujan berbicara, pikiran ini teringat akan kebersamaan dalam liburan minggu ini, berharap si liburan juga dapat berbicara dan menyampaikan sesuatu untuk dapat dituliskan dan menjadi karya yang dinanti.

                Di tengah penantian tergadap si hujan dan si liburan, seakan datang teman lain yang mencoba membantu untuk mengisi pikiran ini dengan ide-ide barunya. Mereka adalah Si Impian dan Si Takut. Terlihat bahwa rekan yang baru datang ini mereka berdua tampaknya bukan teman yang akur, mereka datang dengan perbekalan senjata yang berbeda. Si Impian datang dengan menawarkan banyak hal-hal yang mengasikkan dan menjanjikan, ia datang dengan semangatnya dengan wajah penuh keyakinan, berharap saya dapat menerima semua senjata dan penawaran yang ia berikan. Berbeda dengan Si Impian, Si Takut datang dengan senjata yang berbeda tapi tetap tak bisa diabaikan juga. Si Takut datang dan mulai menawarkan senjatanya, ia datang dan menawarkan kenyamanan, kesenangan, kemalasan, bahkan turut menawarkan intimidasi.

                Sambil berpikir tentang tawaran Si Impian dan Si Takut, kembali saya melihat kepada rekan saya si hujan dan si liburan, tapi tampaknya mereka belum siap untuk memberikan senjata baru ke dalam pikiran saya saat ini. Alhasil saya meninggalkan dua rekan saya sebelumnya, si hujan dan si liburan, dan berusaha bernegosiasi dengan rekan baru saya Si Impian dan Si Takut. Hati mulai bekerja dan merasa mencari senjata mana yang harus dipilih, tak mau kalah, pikiran juga mulai mengerjakan bagiannya, berpikir senjata mana yang harus saya ambil.

                Hati dan Pikiran tentu bukan hal yang bersinonim, mereka punya peran nya masing-masing, namun sepertinya mereka sudah mulai mampu utuk memutuskan senjata siapa yang harus saya ambil. Sambil tersenyum, Hati berkata, “rasanya akan menyenangkan jika hati dapat bermain dengan semangat, keseruan dan hal-hal menjanjikan  yang Si Impian tawarkan”, pikiran datang turut membantu dan berkata “saya pikir, pikiran ini akan semakin kuat jika pikiran bercampur dengan semangat dan hal-hal lain yang Si Impian tawarkan”.

                Berbekal pada Hati dan Pikiran yang telah mengeluarkan suara nyaring nya, akhirnya kali ini saya akan mengambil semua senjata yang ditawarkan oleh Si Impian. Dengan bekal Hati, Pikiran dan semua senjata yang Si Impian berikan, saya mulai kembali menulis dan berharap karya yang berhasil ditulis ini dapat membantu teman-teman yang lain untuk dapat menemukan Si Impian dalam kehidupan pribadi masing-masing. Kali ini sepertinya Hati, Pikiran, dan Si Impian berhasil membawa saya kembali selangkah lebih maju untuk mencapai mimpi yang telah saya rancang.

                Dan sebelum menutup pekerjaan hari ini, berharap bahwa setiap teman-teman yang telah membaca dapat segera di kunjungi juga oleh Si Impian, berharap kalian bertemu dan mendapatkan Si Impian juga, dan pesan terakhir adalah, jangan lupa libatkan hati dan pikiran untuk dapat mengambil senjata Si Impian


Tengkyu, have a great day ! God Bless